Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Januari 2019
Kamis, 16 Agustus 2018
![]() |
| Cerita Dewasa Kuambil Keperawanan Pembantuku Yang Polos Dari Desa |
Cerita Dewasa Kuambil Keperawanan Pembantuku Yang Polos Dari Desa – Kali ini saya akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku mengambil keperawanan pembantuku yang polos dari desa. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.
Pergaulan dikota yang membuatku menjadi liar hingga sampai-sampai aku bisa mengenal yang namanya berhubungan Sex. Berawal dari teman-temanku yang cerita tentang betapa nikmatnya melakukan hubungan Sex dengan seorang wanita, nikmatnya mencium memek perawan, nikmatnya penis dikulum sampai ngecrot, dan lain-lain masih banyak lagi teman-temanku bercerita kepadaku.
Namun selama ini aku hanya bisa melihat video porno saja dan melampiaskannya saja dikamar sambil mengocok penisku sendiri. Hingga akhirnya aku bisa merasakan benar apa yang dikatakan teman-temanku, kalau ngentot seorang gadis perawan itu sangat nikmat sekali.
Sebut saja bi minah, pembantu yang sudah tua dan sudah lama bekerja sebagai pembantu dirumahku. Bahkan bapak dan ibuku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Suatu ketika bi minah minta ijin kepada bapak dan ibuku untuk untuk pulang kedesanya, karena adiknya yang didesa sedang sakit dan bi minah harus merawatnya, jadi dia harus pulang. Namun bi minah tidak pulang begitu saja, sebelum bi minah pulang, bi minah menyuruh anak perempuannya untuk datang kerumahku untuk menggantikan pekerjaannya selagi bi minah pulang.
Anak bi minah ini masih sangat muda sekali, umurnya masih belasan tahun. Sebut saja namanya aryani, panggilannya yani. Meskipun dia berasal dari desa, namun dia memiliki kulitan seperti orang kota yang perawatan. Dia memiliki kulit putih bersih, serta badannya langsing bagus, aku dapat melihatnya kemolekan tubuh aryani dibalik baju desa yang dipakainya.
Setelah seminggu aryani tinggal dirumahku, aku semakin akrab dengannya karena pada saat itu aku sedang liburan sekolah, makanya aku sering dirumah, toh juga ada pemandangan yang enak dirumah. Kalau pekerjaan aryani sudah selesai semua kami sering ngobrol banyak ngalor ngidul kayak sudah kenal lama.
Hingga akhirnya suatu pagi bapak dan ibuku bilang kepadaku untuk jaga rumah karena bapak dan ibuku ingin pergi ketempat saudara dan pulangnya larut malam. Bapak dan ibuku juga berpesan kepada aryani untuk melayani semua yang aku inginkan karena kebiasaanku pada ibunya aryani juga begitu, aryani pun mengangguk ketika mendengar pesan dari ibuku. Aku pun sangat senang sekali, karena dengan aryani melayaniku aku akan bisa menggodanya dengan bebas, dan aku akan berusaha membuktikan apa benar yang dikatakan teman-temanku tentang nikmatnya berhubungan Sex.
Setelah ibuku pergi, aku langsung memanggil aryani.
“Yani, sini temenin aku ngobrol sambil aku makan, ” kataku ketika melihat Aryani melintas. “Kamu sekolah kelas berapa Yan ?
“SMP kelas 3, mas. Tapi tidak tahu tahun depan apa bisa melanjutkan ke SMA, ” katanya polos.
“Di kampung sudah punya pacar apa belum ? Atau apa malah sudah dilamar ? ” tanyaku lagi.
“Belum mas, sungguh !” jawab Aryani. “Kalau mas sendiri, pasti sudah punya pacar ya ?”
“Gadis kota mana mau sama aku, Ya ? ” kataku mulai mengeluarkan rayuan gombal. “Lagipula aku sukanya gadis yang masih polos seperti kamu. “
“Ah mas, bisa saja, ” katanya malu-malu, “Aku kan cuma anak seorang pembantu. “
“Yan, aku sudah selesai makan. Nanti setelah beres-beres kamu temenin aku ke ruang atas ya. Soalnya aku kesepian, bapak dan ibu baru pulang malam hari, ” kataku sambil bergegas naik ke lantai atas sambil mikir gimana ya bisa ngadalin si Aryani.
Kutunggu-tunggu Aryani tidak naik-naik ke lantai atas. Akhirnya dia datang juga, rupanya habis mandi, karena tercium wangi sabun luks. Segera kusuruh ia duduk menemaniku nonton VCD. Sengaja kuputar film pinjeman temanku yang biasanya kuputar kalau bapak/ ibu tidak di rumah. Kupilih yang tidak terlalu vulgar, supaya Aryani jangan sampai kaget melihatnya. Adegan yang ada paling cuma percintaan sampai di ranjang tanpa memperlihatkan dengan detail.
Rupanya adegan-adegan itu membuat Aryani terpengaruh juga, duduknya jadi tidak bisa diam. “Mas. sudah ya nontonnya, aku mau ke bawah, ” katanya.
“Tunggu dulu, Yan, aku mau ngomong, ” kataku yang telah dapat ide untuk menjeratnya, “Kamu takut tidak bisa melanjutkan sekolah apa karena biaya ? Kalau cuma itu, soal sepele, aku akan membantumu, asal …”
“Asal apa mas, ” katanya bersemangat.
“Asal kamu mau membantu aku juga, ” kataku sambil pindah ke dekatnya. Segera kuraih tangannya, kupeluk dan kucium bibirnya. Aryani sangat kaget dan segera berontak sambil menangis.
“Yani, kamu pikir aku akan memperkosamu ? ” kataku lembut. “Aku cuma mau supaya kamu bersedia menjadi pacarku. “
Ia membelalak tidak percaya. Sebelum ia sempat mengucapkan apa-apa kuserbu lagi, tapi kali dengan lebih lembut kukecup keningnya, lalu bibirnya. Kugigit telinganya, dan kuciumi lehernya. Aryani terengah-engah terbawa kenikmatan yang belum pernah dialami sebelumnya. Ingin rasanya segera kurebahkan dan kutiduri, tapi akal sehatku mengatakan jangan terburu-buru. Menikmati kopi panas harus ditiup-tiup dulu sebelum direguk. Kalau langsung bisa lidah terbakar dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa.
Perlahan-lahan dari menciumi lehernya aku turun ke bagian atas dadanya, dan kubuka kancing dasternya dari belakang tanpa setahunya. Tetapi ketika akan kuturnkan dasternya ia tersadar dan mau protes. Segera kubuka baju kaos t-shirt ku sambil mengatakan udara sangat panas. Ia tersipu melihat dadaku yang bidang, hasil rajin fitness.
“Yan kamu curang sudah lihat dadaku, sekarang biar impas aku juga mau lihat kamu punya dong. “
“Ah jangan mas, malu, ” katanya sambil memegang erat bagian depan dasternya.
“Bajunya doang yang dibuka, Yan. kalau malu behanya nggak usah, ” kataku sambil menyerbunya lagi dengan ciuman. Yani tergagap dan kurang siap dengan serbuanku sehingga aku berhasil membuka dasternya. Segera kuciumi bagian seputar payudaranya yang masih tertutup beha berwarna hitam.
“Aduh mas, mhm, enak sekali, ” katanya sambil menggelinjang. Tanganku pun bergerilya membuka pengait behanya.
Tetapi ketika kulepaskan ciumanku karena hendak membuka behanya ia kembali tersadar dan protes.
“lho mas janjinya behanya tidak dibuka”
Tanpa menjawab segera kuserbu payudaranya yang tidak besar tetapi sangat indah bentuknya, dengan puting yang kecil berwarna coklat muda. Kukulum payudara kanannya sambil kuemut-emut. Ia tidak dapat berkata-kata tetapi menjerit-jerit keenakan. Terdengar alunan suara erangan yang indah, ” mph, ehm, ahhh, ‘ dari bibirnya yang mungil. Jemariku segera mulai menjelajah selangkangannya yang masih tertutup celana dalam yang juga berwarna hitam. Rupanya hebat sekali rangsangan demi rangsangan yang Aryani terima sehingga mulai keluar cairan dari Memeknya yang membasahi celana dalamnya.
“Oh mas, oh mas, eemmmph, enak sekali, ” lenguhnya. Tanpa disadarinya jariku sudah menyelinap ke balik celana dalamnya dan mulai menari-nari di celah kewanitaannya. Jariku berhasil menyentuh klitorisnya dan terus kuputar-putar, membuatnya badannya gemetaran merasakan kenikmatan yang amat sangat. Sengaja tidak kucolok, karena itu bukan bagian jariku tetapi adik kecilku nanti.
“Ahhh !” jerit Aryani, dibarengi tubuhnya yang mengejang. Rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Tak lama tubuhnya melemas, setelah mengalami kenikmatan pertama kali dalam hidupnya. Ia terbaring di sofa dengan setengah telanjang, hanya sebuah celana dalam yang menutupi tubuhnya.
Segera aku berdiri dan melepaskan celana panjang serta celana dalamku, pikirku ia masih lemas, pasti tidak akan banyak protes.
“Lho mas, kok mas telanjang. Jangan mas, jangan sampai terlalu jauh, ” katanya sambil berusaha untuk duduk. “
“Yan, kamu itu curang sekali. Kamu sudah merasakan kenikmatan, aku belum. kamu sudah melihat seluruh tubuhku, aku cuma bagian atas saja, ” kataku sambil secepat kilat menarik celana dalamnya.
Cerita Dewasa
“Mas, jangan ! ” protesnya sambil mau mempertahankan celana dalamnya, tetapi ternyata kalah tangkas dengan kecepatan tanganku yang berhasil melolosi celana dalamnya dari kedua kakinya. Terlihatlah pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat langsung. Memeknya masih terkatup, dan baru ditumbuhi sedikit bulu-bulu jarang. Adik kecilku langsung membesar dan mengeras.
Segera kuciumi bibirnya kembali dan kulumat payudaranya. Aryani kembali terangsang. Lalu sambil kuciumi lehernya Kunaiki tubuhnya. Kubuka kedua kakinya dengan kedua kakiku, “mas, jangan, oh !” katanya. Tetapi tanpa memperdulikan protesnya kulumat bibirnya agar tidak dapat bersuara. Perlahan-lahan torpedoku mulai mencari sasarannya. Ah, ternyata susah sekali memasukkan burung peliaraanku ke sangkarnya yang baru. Bolak-balik meleset dari sasarannya. Aku tidak tahu pasti di mana letaknya sang lubang kenikmatan.
“Mas, jangan, aku masih perawan, ” protes Aryani ketika berhasil melepaskan bibirnya dari ciumanku.
“Jangan takut sayang, aku cuma gesek-gesek di luar saja, ” kataku ngegombal sambil memegang torpedo dan mengarahkannya ke celah yang sangat sempit.
Ketika tepat di depan gua kewanitaannya, kutempelkan dan kugesek-gesek sambil juga kuputar-putar di dinding luar Memeknya. “Mas, mas, mphm, oh, uenak sekali, ” katanya penuh kenikmatan. Kurasakan cairan pelumasnya mulai keluar kembali dan membasahi helmku.
Lalu mulai kepala helmku sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam Memeknya dengan menyodoknya perlahan-lahan, “Aw mas, sakit ! Tadi katanya tidak akan dimasukkan, ” protes Aryani, ketika kepala helmku mulai agak masuk. “Nggak kok, ini masih di luar. Udah nggak usah protes, nikmatin aja, Yan !” kataku setengah berbohong sambil terus bekerja.
Sempit sekali lubangnya si Yani, sehingga susah bagiku untuk memasukkan torpedoku seluruhnya. Wah kalau begini terus, jangan-jangan si otong sudah muntah duluan di luar, pikirku. Sambil sedikit demi sedikit memaju-mundurkan torpedoku, kugigiti telinganya dengan gigitan kecil-kecil. Tiba-tiba kugigit telinganya agak keras, Yani terpekik, “Aw !” Saat itu dengan sekuat tenagaku kusodok torpedoku yang berhasil tenggelam semuanya di Memeknya Aryani.
Gerakan pantatku semakin menggila memaju-mundurkan torpedoku di dalam Memek Aryani. Tetapi tidak kutarik sampai kelaut, takut susah lagi memasukkannya. Rupanya rasa sakit yang dialami Aryani tergantikan dengan rasa nikmat. Yang keluar dari bibir mungilnya hanyalah suara ah, uh, ah, uh setiap kali ku maju mundurkan torpedoku, menandakan ia sangat menikmati pengalaman baru ini.
Torpedoku semakin menegang. Keringat bercucuran dari tubuhku, Akupun mengalami kenikmatan yang selama ini hanya kuimpikan. Sekitar selangkanganku terasa ngilu. Rupanya aku sudah mendekati klimaks. Gerakan pantatku semakin cepat, terasa jepitan Memek perawan desa ini semakin kencang juga. Empuk sekali rasanya setiap kali torpedoku terbenam di dalamnya.
Baca Juga : Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi
Terasa hampir meledak torpedoku, siap memuntahkan lahar panasnya ke dalam surga kenikmatan Aryani. Dengan sekuat tenaga kubenamkan torpedoku sedalam-dalamnya dan croooot, croooot, crooot ! Air maniku muncrat ke dalam rahim Aryani, Terdengar lenguhan panjang dari bibir mungil Aryani. Rupanya kami mencapai orgasme bersamaan. Tubuhkupun jatuh terbaring di atas tubuhnya penuh dengan kenikmatan. Kami berdua terbaring tak berdaya.
Tubuh lemas, tetapi masih terasa kenikmatan yang sampai ke ubun-bubun.
![]() |
| Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi |
Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi – Kali ini saya akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku menikmati keperawanan Cewekku saat sedang menginap dirumahnya yang sepi. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.
Namaku Denny, aku seorang teknisi computer. Beberapa bulan yang lalu aku kenalan dengan seorang cewek yang bernama Cindy. Dia, seorang gadis yang sangat cantik, tinggi, berkulit putih mulus dan berambut panjang. Dia tinggal di Pondok Indah, aku ketemu dengannya dalam suatu party di rumah temanku.
Dia sebetulnya masih akan mencuti studinya di Melbourne, pada saat itu dia sedang liburan, jadi ia pulang ke Jakarta untuk beberapa bulan saja. Dia anak orang kaya, kamu bayangin saja, dia sekolah di Melbourne dan rumah di PI. Orang tuanya seorang ekspotir kelas menengah.
Aku sebetulnya agak minder juga kenalan dengannya, Kamu bayangkan saja, mana ada sih orang tua yang sudah mati-matian sekolahkan anaknya di luar negeri terus akhirnya cuma jatuh di pelukan teknisi computer. Dia sebetulnya tidak sombong, dia mau mengerti tentangku, dan sebulan yang lalu dia telah resmi jadi pacarku.
Hubunganku dengannya sebetulnya tidak diketahui oleh orang tuanya. Jadi backstreet nih ceritanya. Aku sebetulnya cinta mati kepadanya, anaknya cantik, pandai gaul dan tidak sombong. Suatu malam dia menelponku, dia minta di temani karena rumahnya kosong (kedua orang tuanya ke luar kota), kebetulan malam itu aku juga sedang suntuk banget memikirkan masa depanku.
Malam itu juga tanpa ba.., bi.., bu lagi langsung aku pergi ke rumahnya di PI. Setelah aku sampai di rumahnya, ternyata benar, tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya. Sebetulnya aku curiga juga, kok rumah segitu besarnya masa sih tak ada pembantu atau penjaga seorangpun.
Ah peduli amat pikirku, yang penting malam ini, aku bisa berduaan dengannya. Malam itu dia kelihatan anggun banget, dia memakai terusan tipis dari sutra sehingga setiap lekuk tubuhnya yang indah dapat terlihat dengan jelas. Oh my God, apakah aku mimpi dan ketemu dengan bidadari? Ternyata malam itu sungguh terjadi, dia nyata di depanku dan aku tertegun sejenak menyaksikan karya Tuhan yang sungguh Indah.
Cerita Dewasa
Malam itu aku diajak untuk menginap di rumahnya, tentu saja tidak kutolak. Eh Malam itu juga dia mengajak tidur bersama, wah berani betul nih cewek, apa tidak takut aku makan? Malam semakin larut dan udara dingin mencekam, dia sudah mau tidur dan akhirnya akupun menemaninya tidur.
Wah, ternyata betul-betul gila nih cewek, ternyata dia tidak memakai apa-apa lagi selain terusan sutra warna perak itu, ketika dia naik ke tempat tidur, terlihat jelas puting susunya yang berwarna kemerahan. Ketika kita sudah ada di ranjang, dia bilang bahwa sebetulnya dia tidak lama lagi akan kembali ke Aussie untuk meneruskan studinya makanya malam ini dia ingin melepas rindu kepadaku.
Setan juga nih anak, mana ada sih lelaki yang begitu bodoh menolak kalau ada seorang gadis cantik yang secara halus meminta untuk di cumbu, begitu juga aku, langsung saja kukecup bibirnya yang mungil lalu kuhirup air liurnya, dia tampak kesulitan bernafas. Setelah aksi cium-ciuman, kuhisap lehernya yang jenjang sampai menimbulkan cupang/tanda kemerahan dan diapun sepertinya sangat menikmati cumbuanku.
Waktu terus berputar, aku sekarang telah membuka terusan yang dipakainya dan payudaranya yang sangat ranum telah tersaji dan siap untuk di hisap, ketika puting susunya kuhisap-hisap, dia merintih-rintih tanda kenikmatan. Puting susunya aku hisap secara bergantian, kiri dan kanan, dan kadang-kadang aku remas-remas sampai dia menjerit.
Setelah puas memainkan payudaranya, aku lalu mulai menjilati pusar dan terus kurentangkan kakinya sehingga liang kewanitaannya merekah. Bulu kemaluannya jarang-jarang sehingga bibir kemaluannya kelihatan jelas masih indah seperti perawan. Sebetulnya aku baru kali ini melihat kemaluan wanita secara langsung, apalagi kemaluan seorang perawan.
Begitu kurentangkan kakinya, liang kewanitaannya merekah berwarna merah muda dan bagian dalamnya kelihatan ada segumpal daging yang biasa di sebut clitoris. aku nafsu banget, langsung saja kujilati liang kewanitaannya dan kugigit clitorisnya, dia menjerit sambil menekan kepalaku sehingga mulutku jadi rapat sekali dengan bibir kemaluannya.
Tak lama setelah itu, dia kejang-kejang sambil merintih, terus ada cairan bening kental mengalir dari liang kewanitaannya, baunya sedikit amis tapi tanpa pikir panjang langsung saja kujilat dan telan, ternyata dia telah orgasme. aku tidak jijik karena aku tahu bahwa dia masih perawan, jadi belum pernah di tusuk oleh orang lain sehingga masih bersih.
Setelah dia orgasme, tampaknya dia lemas tak berdaya, terus langsung saja kubuka celanaku biar barangku yang dari tadi sudah tegang bebas. Tanpa meminta ijin darinya, langsung kutusukkan penisku ke liang senggamanya. Wah susah juga, liang senggamanya masih sempit, sehingga penisku harus kutekan kuat-kuat sehingga bisa masuk secara perlahan-lahan.
Ketika penisku mulai masuk, dia sepertinya senang sekali dan kelihatan seperti sangat menikmati permainan ini sehingga aku termotivasi lagi untuk memaju-mundurkan penisku. Akh nikmat sekali, penisku seperti di pijat-pijat, gerakan maju-mudur yang kulakukan main lama makin cepat sehingga dia terhentak-hentak diatas ranjang.
Permainan itu aku lakukan sekitar lima belas menit, lalu dia bilang bahwa dia mau keluar, lalu dia memeluk tubuhku erat sekali terus teriak kecil sambil mengendurkan pelukannya, oh terasa banget, liang kewanitaannya banjir lagi. Selang waktu satu menit, ketika aku mau keluar, kutekan penisku dengan sangat kuat ke liang senggamanya sehingga air maniku keluar di dalam liang kewanitaannya.
Setelah sama-sama mencapai orgasme, lalu kutarik penisku dan kusodorkan ke mulutnya, ternyata dia langsung menjilati batang penisku. Oh nikmat, dia jilati sampai bersih. Setelah itu saya pun balas menjilati bibir kemaluannya sampai bersih.
Tak terasa waktu telah menunjukkan jam delapan pagi ketika aku bangun dari tidur, di garasi sepertinya ada bunyi mesin mobil, eh ternyata orang tuanya telah pulang, terus buru-buru aku pakai baju dan celanaku, aku lalu bangunkan si Cindy, dan diapun terjaga dan kaget bahwa orang tuanya sudah pulang.
Baca Juga : Pengalaman Sex Menjadi Hadiah Dari Suami Yang Begitu Terkesan
Aku sepertinya sudah tertangkap basah, motorku sudah kelihatan sama orang tuanya. Yah aku sudah pasrah, mau diapain juga aku terima saja. Eh sialan ternyata si Cindy malahan membela diri dan bilang bahwa dia diperkosa olehku, kontan saja mamanya pingsan lalu papanya menelepon polisi, yah terus aku di penjara dan di hukum selama dua tahun potong masa tahanan.
Sekarang aku hati-hati banget sama cewek, tidak mau melakukan kesalahan lagi.
Rabu, 15 Agustus 2018
![]() |
| Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Montok Di Tengah Hujan |
Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Montok Di Tengah Hujan – Kesempatan ini saya akan bercerita Cerita Seks saat seseorang ibu guru montok bercinta dengan guru berolahraga di dalam hujan yang sejuk. Ingin tahu lanjutan ceritanya? Langsung saja yuk baca serta baca baik-baik cerita ini.
Seseorang wanita dengan jilbab hijau lumut terlihat berjalan tergesa-gesa menuju ruangan guru, belahan rok yang cukuplah sempit memaksa wanita itu mengayun langkah kecil nan cepat. Akan tetapi waktu dianya datang diruangan yang dituju, dari sana cuma didapatinya Bu Nita yang repot mengoreksi hasil ujian harian beberapa siswa.
“Bu.. apakah Pak Rivan telah pulang?”
“Mungkin telah,” jawab Bu Nita, melihat Reyna dengan muka penuh berprasangka buruk, setau Bu Nita jalinan pada Reyna serta Rivan memang tidak sempat akur, walau saling guru muda, pemikiran Reyna serta Rivan tetap bersebrangan. Reyna yang idealis serta Rivan yang liberal.
“Memangnya ada apakah Bu?” lanjut wanita itu, ingin tahu.
“Oh… tidak.. cuma ada butuh banyak hal,” elak Reyna.
“Apa itu mengenai mengajukan kenaikan pangkat serta kelompok?” lebih Nita yang malah makin ingin tahu.
“Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” kata Reyna bergegas pamit.
“Semoga saja SMS itu hanya canda,” katanya penuh berharap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang memandang liar badan semampai dibalut kostum hijau lumut ciri khas PNS, ketat membalut tubuhnya.
Mobil Avanza, Reyna, membelah jalan pinggir kota bertambah cepat dari umumnya. Hatinya belum juga tenang, pikirannya selalu terpaku pada SMS yang diantar Rivan, walau sebenarnya lelaki itu cuma memohon tolong untuk membantunya membuat kriteria mengajukan pangkat, tetapi perasaan permusuhan demikian lekat dihatinya.
Jantung Reyna makin berdebar waktu mobilnya masuk halaman rumah, disana sudah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu tentu motor Rivan,” bisik hati Reyna. Di kursi teras pojok mata wanita muda itu tangkap figur seseorang lelaki, asyik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” kata Reyna dengan suara nada tidak senang.
Rivan membalas dengan tersenyum.
“Masuklah, tetapi ingat suamiku tidak ada di rumah, menjadi sesudah semua tuntas kamu langsung bisa pulang,” kata Reyna ketus, tinggalkan lelaki itu diruang tamu.
Bekerja sepanjang hari disekolah memaksa Reyna untuk mandi, waktu pilih pakaian, wanita itu dibikin bingung mesti kenakan pakaian seperti apakah, apa cukuplah daster rumahan atau mungkin pilih baju yang lebih resmi.
“Apa yang ada diotak mu, Rey?!.. Dia merupakan musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Reyna, melempar gaun ditangannya ke sisi bawah almari.
Lantas ambil daster putih tanpa motif. Tetapi sayangnya daster berbahan katun yang lembut itu sangat ketat serta sukses cetak liuk tubuhnya dengan prima, menunjukkan bongkahan payudara yang menggantung merayu.
Reyna kembali dibikin bingung waktu pilih penutup kepala, apa dianya harus tetap kenakan kain itu atau mungkin tidak, toh ini merupakan tempat tinggalnya. Akan tetapi tidak urung tangannya masih ambil kain putih dengan motif renda yang membuatnya tampak makin anggun, badan indah dalam balutan serba putih yang menarik.
Jam dinding telah tunjukkan jam 5 petang serta untuk yang ke-2 kalinya Reyna menyiapkan teh untuk Rivan. Sesaat lelaki itu masih tetap tampak serius dengan laptop serta berkas-berkas yang perlu disediakan, kadang-kadang Reyna memberi arahan.
Tanpa sadar mata Reyna memerhatikan muka Rivan yang memang menarik. “Sebenarnya cowok ini rajin serta baik, tetapi mengapa seringkali sekali sikapnya membuatku emosi,” gumam Reyna, ingat permusuhannya dilingkungan sekolah.
Pemuda yang mempunyai selisih usia empat tahun lebih muda dari dianya. Sikap keras Reyna menjadi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Rivan yang sering membela murid-murid yang lakukan pelanggaran disiplin.
“Tidak perlu tergesa-gesa, minum dahulu teh mu, apalagi di luar tengah hujan,” tegur Reyna yang punya niat untuk berlaku lebih ramah.
“Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku tentu menungguku untuk makan malam,” umpat Rivan.
Reyna ketawa geli dengar pembicaraan Rivan, “makan malam bersama dengan ibumu? Tetapi kamu tidak tampak seperti seseorang anak mami,” celetuk Reyna usil, membuat Rivan turut ketawa, akan tetapi tangannya selalu berjalan seolah tidak tergoda untuk melayani ejekan Reyna.
“Bereeesss..” kata Rivan tidak diduga mencengangkan Reyna yang asyik membalas BBM dari suaminya.
“Jadi apakah saya mesti pulang saat ini?” bertanya Rivan, mukanya tersenyum kecut waktu merasakan hujan di luar masih tetap sangat lebat.
“Di garasi ada jas hujan, tetapi jika kamu ingin menanti hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Reyna yang meyakini motor Rivan mustahil menaruh jas hujan.
“Aku pilih berteduh saja, sekalian temani bu guru cantik yang tengah kesepian, hehehe…”
“Sialan, sesaat lagi suamiku pulang lhoo,”
Sekejap sesudah kata itu terucap, Blackberry ditangan Reyna terima panggilan masuk dari suaminya, tetapi sayangnya suaminya malah memberikan berita jika dianya terlambat sedikit untuk pulang, dengan muka cemberut Reyna tutup panggilan.
“Ada apakah, Rey..”
“Gara-gara kamu suamiku terlambat pulang,”
“Lhoo, mengapa dikarenakan saya? Hahaha…” Rivan ketawa penuh kemenangan, dengan gregetan Reyna melempar bantal sofa. Percakapan kembali berlanjut, akan tetapi semakin banyak bergelut pada dinamika kehidupan disekolah serta hal tersebut cukuplah sukses mencairkan situasi.
Reyna seolah lihat figur Rivan yang lainnya, lebih supel, lebih berteman serta lebih humoris. Jauh berlainan dari kacamatanya sampai kini yang lihat guru cowok itu seperti perusuh buat dianya, menjadi penegak disiplin beberapa siswa.
“Aku heran, mengapa kamu malah mendekati anak-anak seperti Junot serta Darko, ke-2 anak itu tidak lagi bisa ditata serta telah masuk dalam daftar merah guru BK,” bertanya Reyna yang mulai tampak enjoy. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, tentu anak itu telah di keluarkan dari sekolah,” sambungnya.
“Yaa, saya tau, tetapi penjelajahan mereka itu sengit lho, dari mulai nongkrong di Mangga Besar sampai ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru ada juga lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu betul-betul perbuatan amoral,” Reyna sampai meloncat dari duduknya, beralih ke samping Rivan.
“Tapi nantikan, tidakkah itu berarti kamu mensupport kenakalan mereka, serta siapa guru yang mereka intip?” bertanya Reyna dengan kuatir, takut dianya jadi korban kenakalan ke-2 siswa nya.
“Sebanarnya mereka anak yang cerdas serta kreatif, bay
angkan saja, cukup dengan pipa ledeng serta cermin mereka dapat membuat periskop yang biasa dipakai oleh kapal selam,” kata Rivan serius, memutar tubuhnya bertemu dengan Reyna yang ingin tahu.
“Awalnya mereka hanya melihat beberapa siswi tetapi bagiku itu tidak menarik, karenanya saya membawa mereka melihat di toilet guru, apakah kamu tau siapa yang kami intip?”
Muka Reyna menegang, menggeleng secara cepat. “Siapa?,,,”
“kami melihat guru sangat cantik disekolah, Ibu Reyna Raihani!”
“Apa? gilaaa kamu Van, kurang ajar,” Reyna terkaget serta langsung menyerang Rivan dengan bantal sofa.
“ampuun Reeeey, Hahahaa,,”
“Sebenarnya kamu ini guru ataulah bukan sich? Memberikan contoh mesum ke murid-murid, besok saya akan memberikan laporan mu ke kepala sekolah,” semprot Reyna penuh emosi.
Rivan berupaya meredam serangan dengan mencekal lengan Reyna.
“Hahahaa, saya bohong koq, saya malah mengerjai mereka, saya tau yang tengah ada di toilet merupakan Pak Tigor serta apakah kamu tau dampaknya? Mereka langsung shock lihat batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Reyna pada akhirnya turut ketawa, tanpa sadar bila lengannya masih tetap digenggam oleh Rivan.
“Tu kan, kamu itu sebetulnya lebih cantik bila tengah ketawa, menjadi janganlah disembunyikan di balik muka galakmu,” kata Rivan yang nikmati tawa renyah Reyna yang menunjukkan gigi gingsulnya. Saat itu juga Reyna terdiam, mukanya makin malu waktu mengerti tangan Rivan masih tetap menggenggam ke-2 tangannya.
Tetapi tidak berselang lama bentakan dari bibir minimnya kembali terdengar, “Hey!.. Jika miliki mata dijaga ya,” umpat Reyna karena jelajah mata Rivan yang menyatroni gundukan payudara di balik gaun ketat yang tidak tertutup oleh jilbab, Reyna beranjak serta duduk menjauh, membereskan jilbabnya.
“Punyamu besar juga ya,” balas Rivan, tidak perduli akan peringatan Reyna sebagai makin jengkel lantas kembali melempar bantalan sofa. “Ga perlu sok takjub begitu, lagian kamu tentu seringkali melihat payudara siswi disekolah?,,”
“Tapi punyamu istimewa, punya seseorang guru paling cantik disekolah,”
“Sialan..” dengus Reyna membereskan jilbabnya, tetapi pojok bibirnya malah tersenyum, karena tidak ada wanita yang tidak senang jika dipuji. Muka Reyna memerah , kalimat Rivan demikian vulgar seolah itu merupakan hal yang biasa.
“Rey… simak dong,”
“Heh? Kamu ingin simak payudaraku , gilaa… Benda ini seutuhnya jadi hak punya suamiku,” Wanita itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terikut karakter Rivan yang cuek.
“Ayo dooong, ingin tahu banget nih,”
“Nanti, jika saya masuk kamar mandi intipin saja pakai piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Reyna ketawa terpingkal tutup mukanya, tidak yakin dengan apakah yang barusan diucapkannya.
“Yaaa, sangat ngga janganlah ditutupin jilbab keq,” sungut Rivan, keqi atas tingkah Reyna yang menertawakannya.
“Hihihi… Simak saja ya, janganlah dipegang,” Kata guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lantas mengikat jilbabnya kebelakang.
“Kurang..”
“Apalagi? Bugil?” matanya melotot seakan-akan tengah geram, tapi jantungnya malah berdebar kencang, melawan hatinya sejauh manakah keberanian dianya.
“satu kancing saja,”
“Dasar guru mesum,” Reyna lagi-lagi memeletkan lidahnya lantas kembali menolehkan mukanya ke TV, akan tetapi tangannya berjalan melepas kancing atas.
Tetapi tidak berhenti sampai disana, karena tangannya selalu berjalan melepas kancing ke-2 lantas mengungkap ke-2 sisinya sampai makin terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu jadi makanan ingin tahu mata Rivan. Tidak tahu apakah yang membuat Reyna seberani itu, untuk kali pertamanya dengan menyengaja merayu lelaki lainnya dengan badan nya.
“Punyamu tentu lebih kencang di banding punya Anita,” sambung Rivan, matanya selalu terpaku ke dada Reyna sekalian mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seakan menerawang berapa besar daging empuk yang dipunyai wanita cantik itu. Tetapi beberapa kata Rivan malah membuat Reyna kaget, bingung sekaligus juga ingin tahu. “Hhmmm.. Ada jalinan apakah pada dirimu serta Bu Nita?”
“Tidak ada, saya cuma temani wanita itu, temani malam-malamnya yang sepi,”
“Gilaaa.. Apakah kamu… eeeenghhh,,,”
“Maksudmu saya selingkuhan Bu Anita kan? Hahaha…” Rivan memotong kalimat Reyna sesudah tau tujuan kalimat yang susah disampaikan wanita itu. “Bisa disebutkan semacam itu, hehehe.. Tetapi kami telah mengakhirinya pas satu minggu waktu lalu,”
“Kenapa?” sambar Reyna yang tidak diduga ingin tahu atas rumor skandal yang memang sudah menebar dikalangan beberapa guru mesum. Rivan menghela nafas lantas menumpukan tubuhnya. “Suaminya berprasangka buruk dengan jalinan kami, walau Anita menampik untuk akhiri saya harus tetap memutuskan itu, resikonya sangat besar,”
“Apa kamu menyukai Bu Anita?”
Rivan tidak langsung menjawab tetapi malah ambil rokok dari kantongnya, sesudah tiga jam lebih meredam diri tidak untuk mengisap lintingan tembakau dikantongnya, pada akhirnya lelaki itu memohon izin, “Boleh saya merokok?”
“Silahkan..” jawab Reyna cepat.
“Aku tidak tau tentu, Anita wanita yang cantik, tetapi dia bukan wanita yang kuidamkan,” papar lelaki itu sesudah hembuskan asap pekat dari bibirnya. Tetapi muka wanita didepannya masih tetap tunjukkan perasaan ingin tahu, “lalu apa yang terjadi pada dirimu serta Anita?” cecarnya.
“Hahahaha.. Maksudmu apa yang telah kami kerjakan?”
Muka Reyna memerah karena malu, Rivan dengan telak membuka kekakuannya menjadi seseorang wanita dewasa. “Anita merupakan wanita bersuami, berarti kau tidak memiliki hak untuk menjamah tubuhnya,” kata Reyna berupaya membela keluguan berfikirnya.
Rivan tersenyum kecut, mengaku kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapakah kali kami mengerjakannya, dari mulai dirumahku, dirumahnya, bahkan juga kami sempat lakukan diruang lab kimia, desah suaranya menjadi wanita yang kesepian betul-betul merayu diriku, rindu pada masa-masa saya menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”
Saat itu juga muka Reyna merasa panas memikirkan penjelajahan, Anita, “Kenapa kamu tidak menikah saja?” bertanya Reyna berupaya menetralisir debar jantungnya. “Belum ada yang pas,” jawab Rivan dengan sederhana, membuat Reyna menggeleng-gelengkan kepala, wanita itu ambil teh dimeja serta meminumnya.
“Rey.. selingkuhan sama saya yuk..”
Brruuuuuffftttt…
Bibir tipis Reyna saat itu juga menghambur air teh dimulutnya.
“Dasar guru mesum,” umpat Reyna buang mukanya, yang tampilkan ekspresi tidak bisa dibaca, kejendela yang masih tetap mempertontonkan rinai hujan yang malah turun makin deras.
“Aku masak dahulu, lapar nih,” kata Reyna, beranjak dari sofa berupaya menghindar dari tatapan Rivan yang demikian serius, jantungnya berdegub keras masih tetap tidak yakin dengan apakah yang disampaikan Rivan.
“Rey…” Panggilan Rivan hentikan langkah wanita itu.
“Kenapa wajahmu menjadi pucat demikian, tak perlu takut saya hanya bercanda koq,” tutur lelaki itu sekalian terkekeh.
“Siaaal, ni cowok sukses mengerjai saya,” umpat hati Reyna.
“Aku tau koq, kamu mustahil mempunyai nyali untuk merayu guru super galak seperti saya,” katanya sekalian memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum waktu Rivan ikuti ke dapur. Hatinya coba berapologi, sekurang-kurangnya lelaki itu bisa menemaninya waktu memasak.
Reyna dengan bangga menunjukkan kepiawaiannya menjadi seseorang wanita, tangannya berjalan cepat mempersiapkan serta memotong bumbu yang dibutuhkan, sesaat Rivan duduk dikursi meja makan serta kembali berceloteh mengenai kenakalan serta kegenitan beberapa siswi disekolah yang seringkali merayu dianya menjadi guru mesum jomblo tampan.
“Awas saja jika kamu sampai berani menyentuh siswi disekolah,” Reyna memperingatkan Rivan sekalian mengacungkan pisau ditangan, serta itu membuat Rivan ketawa terpingkal.
“Ckckckck, mahir juga tangan mu Rey,” Rivan mengkomentari kecepatan tangan Reyna waktu memotong bawang bombay.
“Hahaha… mari sini saya ajarin..” tawar Reyna tanpa hentikan laganya.
Tetapi Reyna terperanjat saat Rivan memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, karena tangannya menggantikan pisau serta bawang yang ada ditangannya. “Ajari saya ya..” bisik Rivan lembut pas ditelinganya.
Kepala wanita itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya tampak sangsi waktu menyentuh serta menggenggam tangan Rivan yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan-lahan pisau berjalan membelah daging bawang.
“tangan mu sangat kaku, Hahahaa,”
“Ya maaf, tanganku memang tidak terbiasa lakukan ini, tetapi begitu terbiasa untuk pekerjaan yang lain.”
“Oh ya? Misalnya seperti apakah? Membuat periskop untuk melihat siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”
“Bukan, tetapi tanganku begitu trampil untuk memanjakan wanita cantik seperti mu,” kata lelaki itu, melepas pisau serta bawang, berpindah menyeka perut Reyna yang datar serta perlahan-lahan merambat menuju payudara yang membusung.
“Hahaha, tidaak tidaaak, saya bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Reyna berupaya meredam tangan Rivan.
“Rey, bila demikian jadilah rekan yang mesra untuk diriku, serta biarlah temanmu ini sekejap mengangumi tubuhmu, jika tanganku sangat nakal kamu dapat menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”
Badan Reyna gemetar, lantas mengangguk dengan perlahan, “Ya, Deaaal.” kata bibir minimnya, serak. Reyna kembali mencapai pisau serta bawang serta membiarkan tangan kekar Rivan dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya dengan utuh. Memberi remasan yang lembut, mainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.
Mata Reyna terpejam, kepalanya terangkat bersamaan cumbuan Rivan yang perlahan-lahan menyerobot keleher yang masih tetap terbalut jilbab. Romansa yang di tawarkan Rivan secara cepat menggantikan kewarasan Reyna.
“Owwhhhh,” bibir Reyna mendesah, kakinya seolah kehilangan tenaga waktu jari-jari Rivan sukses temukan puting payudara yang mengeras.
“Rivaaaan,” kata wanita itu sekejap sebelum bibirnya menyongsong lumatan bibir yang panas.
Membiarkan lelaki itu nikmati serta bercanda dengan lidahnya, menari serta membelit lidahnya yang masih tetap berupaya menghindar. “Eeeemmhhh…” mukanya terkaget, Rivan dalam hisapan yang lembut membuat lidah nya beralih masuk menelusuri mulut lelaki itu serta rasakan kehangatan yang di tawarkan.
Menggelinjang waktu lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Bila Reyna menduga permainan ini hanya permainan pertautan lidah, karena itu wanita itu salah besar, karena jemari dari lelaki yang sekarang memeluknya penuh keinginan itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.
“Boleh?”
Wanita berbalut jilbab itu tidak berani menjawab, cuma pejamkan matanya serta menanti keberanian silelaki untuk nikmati tubuhnya. Demikian juga waktu tangan Rivan berupaya menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung melawan dari bra yang membekap.
“Oooowwwhh, eemmppphhh,” badan Reyna mengejang saat itu juga, tangan lentiknya tidak dapat mengusir tangan Rivan, cuma mencengkram supaya jemari lelaki itu tidak berjalan sangat gesit memelintir puting mungilnya.
“Rey.. Mengapa kamu dapat sepasrah ini?.. Apakah benar kamu suka pada lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan hanya persahabatan Rey.. Walau kau tidak mengerti saya dapat rasakan bibit perasaan senang dihatimu akan lelaki itu, Rey…” hati kecil Reyna coba menyadarkan. Tetapi wanita itu malah berupaya mengingkari penghianatan cinta yang dilakoninya, berupaya mengenyahkan bisikan hati dengan pejamkan matanya lebih erat.
Mukanya mendongak ke langit rumah, berupaya lari dari batinnya yang berteriak berikan teguran. Pasrah menanti dengan hati berdebar waktu tangan Rivan mulai mengusung dasternya keatas serta dengan tentu menyelusup kebalik kain kecil, menyisipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.
“Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berupaya buka kaki lebih lebar seolah membebaskan jari-jari Rivan bermain dengan klitorisnya.
Kurihiiiing…
Kurihiiiing…
Dering HP mencengangkan kedua-duanya, membuat pergumulan birahi itu lepas. Kesadaran Reyna menggantikan saat itu juga, dianya makin shock lihat nama yang tercantum dilayar HP, ‘Mas Anggara’.
“Hallo mas, halloo,,” sambut Reyna di antara upayanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.
“Mas tengah di mana, mengapa belumlah pulang?” kata Reyna kalut dengan perasaan takut serta bersalah yang demikian besar, seakan suaminya sekarang berdiri pas didepannya.
“Mas masih tetap di rumah sakit, mungkin saja tidak dapat pulang malam hari ini,” jawab nada besar diujung telpon.
“Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”
Sesudah mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Reyna berdiri bertumpu dimeja, menghela nafas panjang lantas meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang merasa begitu kering.
“Rivan, terima kasih untuk semua, tetapi kau dapat pulang saat ini,”
“Tidak Rey, kita mesti merampungkan apakah yang telah kita mulai,”
“Apa maksudmu?… Tidak.. Saya bukan seperti Anita yang kesepian, saya tidak mempunyai permasalahan apa pun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki sekarang ini merupakan keluarga yang memang kuidamkan…” muka Reyna jadi pucat waktu Rivan mendekat melekat ketubuhnya, mengusung dasternya tambah tinggi, memeluk serta meremas pantat yang padat berisi.
“Rivan, ingat!.. Kamu seseorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya badan lelaki itu, tetapi dekapan tangan Rivan sangat erat.
“Yaa.. Saya memanglah bukan pemerkosa, saya cuma ingin merampungkan apakah yang telah kita mulai,”
“Gila kamu Rivan, saya merupakan istri yang setia, tidak seperti wanita-wanita yang sempat kau tiduri ”
“Ohh ya?,,” Rivan tersenyum sekalian turunkan celananya serta menunjukkan batang yang sudah mengeras, batang besar yang membuat Reyna terhenyak.
Tidak diduga dengan kasar Rivan mencengkram badan Reyna serta mendudukkan wanita itu di atas meja, dengan pergerakan yang cepat mengungkap celana dalam Reyna, batang besar itu sudah ada dimuka bibir senggama Reyna.
“Jangan Rivaaan, saya dapat melakukan perbuatan nekat,” Reyna mulai menangis ketakutan, mencapai garpu yang ada disebelahnya, meneror Rivan.
“Kenapa ambil garpu, tidakkah disana ada pisau?” Rivan terkekeh, muka tadi dihias senyum menghanyutkan sekarang beralih demikian menakutkan.
“Aaaaaaaaaaaggghh…” Rivan berteriak kesakitan waktu Reyna menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.
Lelaki itu menghalau tangan Reyna, merampas garpu serta melemparnya jauh, darah tampak merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin akhiri ini semestinya kau tusuk pas di ulu hatiku,” katanya dengan muka menyeringai sekaligus juga meredam sakit.
“Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Reyna sukses berontak menggerakkan badan besar Rivan lantas lari mengarah kamar, tetapi belum wanita itu tutup kamar Rivan meredam dengan tangannya.
“Aaaaagghh…” Rivan mengeluh kesakitan karena tangannya yang terjepit daun pintu, lantas dengan kasar menggerakkan sampai membuat Reyna terjengkal.
“Dengar Rey.. Telah lama saya suka pada mu, serta saya berupaya menarik perhatianmu dengan menentang tiap-tiap kebijakan mu,”
Dengan kasar Rivan menggerakkan wanita itu kelantai serta menanggalkan bajunya, Reyna berteriak memohon tolong sambil menjaga kain yang tersisa, tetapi derasnya hujan mengubur upayanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi badan Reyna yang terbaring tidak berkapasitas, menunjukkan batang besar yang mengeras prima, kejantanan yang pasti semakin besar dari punya suaminya.
Wanita itu menangis waktu Rivan dengan kasar menghalau tangan yang masih tetap berupaya menutupi selangkangan yang tidak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Cukuplah Rivan, sadarlaaah..” sekalian selalu menangis Reyna berupaya menyadarkan, tetapi upayanya percuma, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang tertangani rapi.
Dengan kemampuan yang tersisa Reyna berupaya merapatkan ke-2 pahanya, akan tetapi terlambat, Rivan sudah terlebih dulu tempatkan tubuhnya di antara paha sekal itu serta siap-siap menghujamkan kejantanannya untuk mencicipi suguhan nikmat dari wanita secantik Reyna.
“Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit di banding punya Anita,” desah Rivan bersamaan kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.
“Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Reyna mengeluh terima hujaman yang dikerjakan dengan kasar, makin keras batang besar itu menghujam makin kuat juga jari-jari Reyna mencakar tangan Rivan, air matanya tidak henti mengalir.
Tubuhnya terhentak berjalan tidak teratur, Rivan menyetubuhinya dengan begitu kasar. Muka lelaki itu menyeringai waktu melipat ke-2 paha Reyna keatas, memberikan suguhan indah dari batang besar yang berjalan cepat menghujam celah sempit vagina Reyna.
“Sayang, saya dapat rasakan lorong vaginamu makin basah, nyatanya kamu juga nikmati pemerkosaan ini, hehehe”
Plak…
Pertanyaan Rivan berbuah tamparan dari tangan Reyna, tetapi lelaki itu malah ketawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Reyna yang terangkat keatas dengan pinggul yang selalu berjalan menghujamkan batang pusakanya. Senang bermain dengan kaki Reyna, tangan lelaki itu berjalan melepas bra yang masih tetap tersisa.
“Ckckckck… Prima, sejak dahulu saya telah meyakini payudaramu lebih kencang dari punya Anita,”
Badan Reyna melengkung waktu putingnya disedot lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”
“Pasti Anita malam hari ini tidak dapat tidur karena menanti batang kejantanan yang sekarang tengah kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan badan serta enaknya vaginamu betul-betul membuatku lupa pada beringasnya permainan Anita,” kata Rivan, membuat Reyna kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.
“Bajingan kamu, Van..” umpat wanita itu, tetapi tidak berselang lama bibirnya malah mendesah waktu lidah Rivan bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”
“Hehehe…akuilah, bila kamu juga nikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”
Mata wanita itu terpejam, air matanya masih tetap mengalir dengan nada terisak ditingkahi lenguhan yang kadang-kadang keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, susah memang mengingkari kesenangan yang tengah dirasa semua inderanya.
“Reeeey… Sadarlah, kamu wanita baik-baik, seseorang istri yang setia, sekurang-kurangnya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya coba memperingatkan, membuat airmata Reyna makin deras mengalir.
Yaa.. walau hatinya berontak, tetapi tubuhnya sudah berkhianat, pinggulnya tanpa disuruh berjalan menyongsong hentakan batang yang mendobrak dinding rahim. Rivan tersenyum penuh kemenangan.
“Berbaliklah, sayang,” pintanya.
Badan Reyna berjalan lemah membelakangi Rivan, pasrah waktu lelaki itu menarik pantatnya menungging tambah tinggi, tawarkan kesenangan dari liang senggama yang makin basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei waktu lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.
“Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat prima itu terangkat makin tinggi saat lidah yang panas memberi sapuan panjang dari bibir vagina sampai keliang anal.
Perasaan takut serta birahi tidak lagi dapat dikenali, matanya yang sendu coba melihat pejantan yang membenamkan muka tampannya dibelahan pantat yang bergetar nikmati permainan lidah yang gesit menari, menggelitik liang vagina serta anusnya, satu sensasi kesenangan yang tidak sempat dikasihkan oleh suaminya.
Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak akan tetapi tubuhnya tidak dapat berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun waktu batang besar Rivan kembali masuk tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.
Begitu juga waktu Rivan memohon Reyna untuk menaiki tubuhnya, walau airmatanya jatuh menetes di atas muka sipejantan tetapi pinggul wanita itu berjalan luwes dengan indahnya nikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.
“Aaaawwhhhh Rey… Bisa saya menghamilimu?” kata Rivan waktu posisinya kembali ada di atas badan Reyna, menunggangi badan indah yang barusan meregang orgasme.
Wanita itu buang mukanya, bibirnya terkatup rapat tidak berani menjawab cuma pergerakan kepala yang menggeleng menampik, matanya demikian takut beradu pandang dengan mata Rivan yang penuh birahi.
Batang besar Rivan berjalan cepat, orgasme yang dicapai siwanita membuat lorong senggamanya jadi begitu basah. Hentakan pinggul lelaki itu demikian cepat serta kuat seolah ingin membobol dinding rahim, memaksa Reyna berpegangan pada besi ranjang penikahannya untuk menahan kesenangan yang didustakan.
“Reeeeey.. Bisa saya menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Rivan yang menggerakkan pinggulnya makin cepat.
Reyna memandang Rivan dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Rivan tersenyum menyeringai “Kamu meyakini? Tidak mau rasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lainnya menghambur dirahim mu?”
Plaaak..
Reyna kembali menampar muka Rivan untuk yang kesekian kalinya, tetapi kesempatan ini tambah lebih keras. Wanita menjerit terisak, tetapi kaki jenjangnya malah berjalan memutari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seolah ingin menjadikan satu dua badan.
Tangis Reyna makin jadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Rivan yang berkeringat lantas meremas pantat yang berotot seolah mensupport pergerakan Rivan yang menghentak batang makin dalam.
“Kamu jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Reyna bersamaan lenguh kesenangan dari bibir silelaki.
Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar beberapa ribu benih kerahim siwanita yang mengusung pinggulnya menyongsong kenikmatan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menegur, badan kedua-duanya mengejat, menggelinjang, nikmati suguhan puncak dari suatu senggama tabu.
“Kenapa kau mempermainkan saya semacam ini,” isak Reyna dengan nafas mengincar, tangannya masih tetap meremasi pantat berotot Rivan yang kadang-kadang mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wanita.
“Karena saya mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya makin erat, membiarkan badan besar itu terlalu lama di atas badan indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran semasing.
“Apa kamu bersedia jadi rekan selingkuhku?”
Reyna menggeleng secara cepat, “Aku tidak berani, Rivan, Ooooowwhhhhhh..” wanita itu melepas pagutan kakinya serta mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya serta menunjukkan kedahsyatan kejantanannya dicelah sempit vagina Reyna.
“Tapi bagaimana jika saya memaksa?..”
“Itu mustahil Oooowwhhh… Saya telah bersuami serta mempunyai anak, aaaahhhhhh…” Reyna menggelengkan kepala, berupaya kukuh atas pendirian, walau pinggul indahnya berjalan liar, tidak lagi malu untuk menyongsong tiap-tiap hentakan yang menghantar batang penis dalam tubuhnya.
Reyna tidak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Rivan waktu bibir lelaki itu kembali berupaya membujuk, membekap muka Rivan pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.
“Kamu jahat, Van.. Tidak semestinya saya membiarkan lelaki lainnya nikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”
Sesudahnya tidak ada lagi kalimat lagi yang keluar tidak hanya desahan serta lenguhan serta deru nafas yang mengincar. Sampai pada akhirnya bibir Rivan bersuara serak menyebut nama si wanita.
“Reeeeey… Boleeeehkaaan?”
Reyna memandang sendu muka birahi Rivan, dengan kesadaran yang penuh wanita itu mengangguk lantas merentang ke-2 tangan serta kakinya, memberikan izin pada silelaki untuk kembali menghambur sperma dalam rahimnya.
“Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwanita bingung, sesaat tubuhnya sudah pasrah jadi pelampiasan dari puncak birahi Rivan.
Dengan muka memelas tangan Rivan berjalan menyeka muka Reyna, telunjuknya membelah bibir tipis siwanita.
“Dasar guru mesum, ” kata Reyna sekalian menampar pipi Rivan tetapi kesempatan ini dengan lembut,
“kamu menang banyak hari ini, Van..” katanya lirih dengan mata sembap oleh air mata.
“Boleeeh?..”
Reyna memalingkan mukanya, lantas mengangguk sangsi. Rivan bangun mencabut batangnya lantas mengangkangi muka guru cantik itu. Pojok mata Reyna tangkap muka tampan silelaki yang menggeram sekalian mainkan batang besar pas dimuka muka nya.
Jemari lentiknya gemetar waktu menggantikan batang besar itu dari tangan Rivan. Membulatkan tekad untuk memandang lelaki yang mengangkangi mukanya, kepasrahan muka seseorang wanita atas lelaki yang nikmati tualang birahi atas tubuhnya.
“Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” muka Rivan memucat bersamaan sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyongsong dengan mata memandang sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”
Tidak sempat sekalinya Reyna melihat seseorang pejantan yang demikian histeris memperoleh orgasmenya, serta tidak sempat sekalinya Reyna membiarkan seseorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan sangsi Reyna buka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menegur lidahnya. Batang itu selalu berkedut waktu jari lentik Reyna yang gemetar membimbing dalam mulutnya.
Nikmati keterkejutan muka Rivan atas keberaniannya. Bibirnya berjalan lembut mengisap batang Rivan, mempersilahkan lelaki itu kosongkan benih birahi di dalam bibir minimnya.
“Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Rivan mengejat, menyongsong tawaran Reyna dengan beberapa semburan yang tersisa.
“Cepatlah pulang.. Saya tidak mau suamiku hadir serta merasakan dirimu masih tetap di tempat ini,” pinta Reyna sesudah Rivan telah kenakan kembali semua bajunya.
“Masih belumlah senang?.. basic guru mesum,” katanya ketus waktu Rivan memeluk dari belakang.
“aku bukan selingkuhan mu, tulis itu,” Reyna menghalau tangan Rivan.
“Yaa.. Saya akan mencatatnya di tempat ini, di tempat ini, serta di tempat ini..” jawab Rivan sekalian menunjuk bibir tipis Reyna, lantas berpindah meremas payudara yang membusung serta selesai dengan remasan digundukan vagina.
“Dasar hilang ingatan ni cowok,” umpat hati Reyna, yang jengkel atas tingkah Rivan masih tampak cuek sesudah apakah yang berlangsung.
Reyna memandang punggung Rivan waktu lelaki itu mengambil langkah keluar, hujan masih tetap mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti serta mengubah tubuhnya, tampilkan muka serius.
“Maaf Rey, benar-benar ini di luar dugaanku, semua tidak terlepas dari khayalku akan dirimu, tetapi saya memang salah karena menyukai wanita bersuami, Love you Rey..” kata Rivan lantas mengambil langkah keluar kepelukan hujan.
“Rivaaan.. Love u too,” teriak Reyna dengan nada serak, membuat langkah Rivan terhenti
“Tapi maaf saya tidak bisa saja selingkuhanmu.” lanjutnya.
“Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seseorang bocah dengan ceria, coba mencengangkan wanita yang repot membereskan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk badan Reyna, ibunya.
Usaha gadis itu cukuplah sukses, Reyna benar-benar tidak menyangka, Ermina, putri kecilnya yang beberapa waktu bermalam di tempat kakeknya dijemput oleh suaminya.
“Ini buat ibu dari Elmina,” katanya cadel, menyerahkan balon gas berupa amor yang melayang-layang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Mudah-mudahan ibu makin cantik serta sehat tetap..”
Muka mungil itu tersenyum ceria, senyum yang demikian tulus akan kerinduan figur seseorang ibu. Reyna tidak lagi dapat membendung air mata, memandang mata bening tanpa dosa yang tunjukkan kasih sayang seseorang anak. Sesaat dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Anggara, sekalian menggenggam balon yang sama.
“Selamat valentine, sayang,” kata Anggara, tersenyum dengan gayanya yang ciri khas, senyum lembut yang malah mengoyak-oyak hati Reyna.
Baca Juga : Cerita Dewasa Pembantuku Yang Montok Jago Mijat Sampai Crot
Saat itu juga semua sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya menjadi seseorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seseorang ibu.
“Maafin Ibu, sayang,” kata Reyna tanpa nada, memeluk erat badan mungil Ermina, terisak dengan badan gemetar. “Maafin ibu, Pah,”
Larut malam, Reyna berdiri di balik jendela, memandang gulita dengan gundah. Suaminya serta Ermina sudah terlelap.
PING!…
Tanpa keinginan wanita itu buka BBM yang nyatanya tampilkan pesan dari Rivan.
“Besok jam 12 saya nantikan di lab kimia, ”
Jemari kiri Reyna erat menggenggam tangan suaminya yang tengah nyenyak tertidur, sesaat tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, saya akan kesitu,”
Selasa, 14 Agustus 2018
![]() |
| Cerita Dewasa Ngentot Dengan Tante Tyas Montok Yang Tidak Terlupakan |
Cerita Dewasa Ngentot Dengan Tante Tyas Montok Yang Tidak Terlupakan – Kesempatan ini saya akan bercerita Cerita Seks saat diriku diminta ibuku untuk mengantar berkas pekerjaan untuk Tante Tyas yang montok serta membuat diriku sangek berat. Ingin tahu lanjutan ceritanya? Langsung saja yuk baca serta baca baik-baik Cerita ini.
Umurnya kurang lebih pada 38-40 tahunan tetapi muka serta bodynya terlihat lebih muda 10 tahun. Sebutlah saja namanya tante Tyas. Tante Tyas ini bekerja di lembaga pemerintah dimana ibuku juga bekerja disana, menjadi mereka rekan sekantor.
Cerita ini bermula biasanya saya diminta oleh mamaku untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan pada tante Tyas. Hingga saya juga jadi akrab dengannya.
Saat malam itu seperti umumnya ibu menyuruhku ke tempat rumah tante Tyas untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan itu, sekalipun saya berpamitan keluar untuk bermain.
Kuketuk pintu tempat tinggalnya seringkali sampai lelah ku menanti di muka tempat tinggalnya.
Kok terlihat sepi, apakah pada melancong, tetapi mobilnya tante Tyas berada di garasi, gumamku dalam hati. Selang beberapa saat pintu di buka oleh wanita muda kurang lebih umurnya 20 tahunan yang nyatanya merupakan pembantunya tante Tyas.
“Tante Tyas-nya ada mbak Arum”, tanyaku kepadanya.
“Oh ada dik Miki, masuk dahulu tante Tyas masih tetap mandi”, kata mbak Arum sekalian menyalakan lampu ruangan tamu.
Saya duduk termenung sendirian serta untuk yang kesekian kalinya saya minum sirup dingin yang sejak dari barusan disuguhi oleh mbak Arum. 5 menit lalu dari ruangan tengah terlihat tante Tyas keluar dari kamar mandinya dengan badan hanya ditutup oleh handuk.
“Wow padat juga tubuhnya ya,” kataku dalam hati.
“Eh dik Miki, telah lama ya nunggunya”.
Saya masih terpaku lihat tubuhnya yang indah serta padat berisi yang tidak tertutup semuanya oleh handuk itu.
“Dik, lihat apa’an sich kok hanya bengong?”
“Eh anu……. ‘te lihat….. susu eh lihat paha ding…. eh tidak lihat apa-apa kok ‘te”, jawabku kebingungan.
“Dik Miki ini ada saja. Diminta ibu ya, di kamar tante saja ya nyerahin berkasnya, tante nantikan lho!”
Saya lebih kebingungan, kok tumben ngomong seperti gituan. Dengan polosnya saya ikuti beberapa katanya barusan.
Sampai ku di muka pintu kamarnya ku ketuk pintu itu, serta dari dalam terdengar jawaban untuk menyuruhku masuk. Ku buka pintu kamarnya dengan berhati-hati. Sesudah ku masuk di kamarnya, begitu kagetnya saya lihat badan mulus telanjang tante Tyas sudah terlentang melawan diatas ranjang.
“Ini kan yang sampai kini kamu pikirkan serta kehendaki dariku, ya kan Mik?”
Saya tidak menjawabnya karena saya belum juga sadar dari kebingunganku atas apakah yang kulihat di muka mataku saat ini.
“Sini Mik, naik ke ranjang puasin tante ya, tidak butuh malu, ini kan yang kamu penginin”
Saya menuruti beberapa kata tante Tyas dengan naik ke ranjangnya. Tidak diduga tanganku dipegangnya lantas diarahkan ke payudaranya yang kurang lebih memiliki ukuran 34c. Diletakkannya tanganku serta kuremas-remas payudaranya yang samping kiri serta kepalaku menciumi serta mejilati payudaranya yang samping kanan dengan birahi yang telah meninggi.
“Oouugghh… oouugghh…. sedot selalu Mik …. oouugghh.. digigit dong!!!”, tante Tyas rupanya telah terlelap dalam birahinya juga. Matanya merem melek nikmati payudaranya yang tengah kunikmati. Tidak diduga tante Tyas melepas bajuku serta menyuruhku untuk terlentang.
Nyatanya tante melepas juga celanaku serta memlorotkannya dengan nafsu yang bergelora. Seperti apakah yang kuharapkan berlangsung juga, penisku dilumat-lumatnya, dihisapnya sampai gemetar tubuhku dibuatnya. Saya bergelinjangan meredam kesenangan yang pertama-tama saya rasakan.
“Mik, cium dong memek tante!”
Kucium memeknya yang berbulu tipis serta bau wangi, rupanya tante Tyas menjaga milik-nya dengan baik. Tante tyas bergelinjangan, mendesah-desah karena kujilati memeknya. Kumain-mainkan ‘kacang’-nya dengan lidahku serta terkadang kutusuk lobang memek-nya. Tubuhnya makin kehilangan kendali, makin kurasakan lembabnya memeknya karena tubuhnya dirangsang dengan hebat.
“Mik tante tidak kuat nih, masukin dong penismu!”
Bleeesss…… bleeesss….. bleeesss…… kusodok-sodok dengan keras serta tante Tyas mengimbanginya dengan goyangan pinggul serta pantatnya.
“Tante, Miki telah ingin keluar… uuuhhhh… oooohhh…. uuuuhhh….”
“Tahan Miki… yeaah… ooouuuh… ”
Goyangan tante Tyas makin liar yang membuat diriku makin tidak tahan lagi, yang akhirnya… crrooott…. crrooottt….
Serta didalam memeknya merasa hangat oleh cairan yang membanjir berbarengan dengan bergetarnya badan tante Tyas.
“Oouugghh….. ooouuuhhh… yeaahh.. yeaahh… uuhh… saya senang Mik, terima kasih ya !”
Kuambil bajuku serta kupakaikan walau tubuhku penuh keringat yang bercucuran. “Besok temenin tante lagi, ya Mik!”, desah tante Tyas dengan badan lemas serta masih tetap bertelanjang.
Sesampaiku didalam rumah langsung diterima oleh mamaku, saya juga jadi ketakutan kalau-kalau mamaku tahu apakah yang barusan berlangsung. “Darimana saja kamu, main-main saja menjadi lupa belajar, telah sana ke kamar belajar”. Saya juga lega nyatanya mamaku tidak paham, saya juga lari menuju kamarku sekalian tersenyum karena saya sudah nikmati apakah yang belumlah saya rasakan awal mulanya.
Sesudah peristiwa itu, saya serta tante Tyas beberapa bulan lamanya lakukan affair yang begitu hot. Kami kerjakan itu terkadang didalam rumah tante Tyas, terkadang di hotel, terkadang juga pernah di rumahku jika lagi kosong. Intinya dimana ada tempat untuk bercinta tentu akan tidak kami terlewat.
Sampai satu malam didalam rumah tante Tyas seperti umumnya saya hadir ke tempat tinggalnya. Saya langsung diterima mbak Arum, yang saya meyakini dia sudah mengetahui mengenai affairku dengan nyonya-nya.
“Masuk saja mas Miki,ibu telah menuggu dari tadi”, sambutnya dengan ramah. Saya langsung masuk ke kamar tante Tyas serta kubuka langsung celana serta bajuku. Tante Tyas juga lakukan hal sama.
“Kok lama sich Mik, tante kan telah kedinginan nih!”, kata tante Tyas dengan manja serta menghampiriku untuk memeluk tubuhku serta menciumi bibirku, masukkan lidahnya di mulutku hingga lidahku juga sama-sama ber-“silat lidah”. Sekalian kucium ku buka tali BH-nya yang masih tetap menempel di tubuhnya serta lantas kuciumi puting payudaranya yang telah mengeras. Tante Tyas kubikin merem-melek.
Kudorong tubuhnya ke ranjang lantas kubuka celana dalamnya, langsung kuciumi memeknya yang telah lembab. Kujilat-jilat naik turun serta kugigit “kacang”nya, demikian selanjutnya sekalian tanganku meremas-remas payudaranya.
“Ouugghh… oouugh… oouugghh… selalu Mik… tante senang seperti ini….. oouuugghh….. yeeaahhh….”.
Serta kubalik arah tubuhku hingga membuat angka 69. Tante Tyas melumat-lumat penisku keluar masuk mulutnya serta mainkan lidahnya di “helm” penisku. Juga kadang-kadang dia mainkan lidahnya di “telur” ku dari pangkal sampai ujung. Saya juga makin terangsang menciumi memek-nya yang makin membanjir.
“Oohh… uuhh… oouuhh… Mik Tante tidak kuat lagi nih… ouughh… tante ingin keluar, Mik”.
“Aku juga ‘te aahhh… uuhh… saya keluarin di dalam mulut ya ‘te.. aahhh… uuuhhh.. aauuhhgg….”
Tubuhku kami makin menghebat serta kurasakan air maniku keluar deras ke mulutnya. Begitupun mulutku merasa kemasukan lendir yang warnanya seperti air susu.
Kami juga rebahan sama-sama berpelukan, serta 5 menit lalu kami lakukan kegiatan senggama yang dari barusan belumlah kami kerjakan. Langsung kumengkangkangkan kakinya hingga memeknya tampak jelas serta begitu pas juga gampang untuk di-“tusuk” oleh penisku yang memiliki ukuran 15 cm dalam kondisi menegang.
Bleess… bleesss… keluar masuk penisku di memeknya yang dibarengi desahan yang menderu deru tante Tyas. “Ouggh… oouuugghh… eemmmmhhh…. uuhhh… yeahh.. uuuhh… yang keras dong Mik…. aahh.. uuhhh.. yeeahh..”. Makin kurasakan basah di batang penisku, membuatku lebih bernafsu.
Baca Juga : Cerita Dewasa Melayani Nafsu Mama Mertua
Kami juga bertukar tempat, saya yang di bawah serta tante Tyas diatas menempati tubuhku. Goyangan pantat serta pinggulnya kulihat jelas mengocok-ngocok penisku. Merem-melek tante Tyas sekalian mendongakkan kepalanya rasakan kesenangan yang tidak ada taranya. Kudorong-dorong pantatku ke atas untuk menyamakan gerakannya yang makin menggila.
“Oh… oouuhh… Mik… Ouugh… enakkk… ouugh… yeaah… terruuusss….. yeeaahh….”.
“Tante saya ingin keluar nih, telah tidak kuat… oogghh… uuuhhhh… mmmhhhh….”
“Tunggu dulu… Miikk…….. mmhhh… yeeaahh… tahan dahulu Mikkhh….!”, lirih tante Tyas meredam kesenangan yang hampir mencapai puncak.
Goyangan kami juga makin menggila, ke kanan-kiri, naik-turun serta tidak diduga badan tante Tyas bergetar serta bergelinjang hebat, kurasakan cairan yang hangat dari dalam memek tante Tyas.
“Oouugghh….. uuuhh… uuugghh….. yeaaaahh…. mmmhhhh….. ouugghh yeaahhh…. uuuhhh… mmmmmhhh… aaahhhh…. yeeaahhh… tante telah keluar Mik, saat ini giliran kamu, cayang!”
Kulepas penisku serta langsung dicapai oleh tangannya tante Tyas untuk dimasukkan ke mulutnya, dikocok-kocok oleh tangannya yang lembut lantas dimasukkan lagi ke mulutnya, dimain-mainkan oleh lidahnya. Selang beberapa saat maniku juga keluar. Crooott…. crooottt….. crooottt…. kusiramkan ke muka tante Tyas serta dia menjilatinya dengan nikmat seperti menjilati es cream yang telah mencair. Kita berdua juga tergelepar dengan keringat yang masih tetap bercucuran sesudah dikit berusaha keras untuk memperoleh satu kesenangan. Badan kami yang masih tetap bertelanjang sama-sama berpelukan serta sama-sama menciumi bibir dengan mesra.
Rabu, 18 April 2018
Kamis, 12 April 2018
![]() |
| Narasi Bercinta Dengan Gadis Penyanyi Cafe |
Gadis ini berwajah tidaklah terlalu cantik. Tingginya lebih kurang 160 cm/55 kg. Badannya padat diisi. Ukuran payudaranya sekitaran 36B. Keunggulannya yaitu lesung pipitnya. Senyumnya manis serta matanya berbinar indah. Cukup seksi. Terlebih suaranya. Buat telingaku fresh.
“Para pengunjung sekalian.. Malam hari ini saya, Felicia dengan band juga akan temani anda semuanya. Bila ada yang menginginkan bernyanyi dengan saya, mari.. saya persilakan. Atau bila menginginkan request lagu.. silakan”.
Penyanyi yang nyatanya bernama Felicia itu mulai menegur pengunjung Cafe. Saya cuma tertarik mendengar suaranya. Pembicaraan dengan client mengambil alih perhatianku. Hingga lalu telingaku menangkap perubahan langkah bermain dari sang keyboardist. Saya lihat ke arah band itu serta lihat Felicia nyatanya bermain keyboard juga.
Felicia bermain solo keyboard sembari menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang begitu simpel. Saya nikmati semuanya type musik serta berupaya tahu semuanya type musik. Termasuk juga jazz yang memanglah ‘brain music’. Musik cerdas yang buat otakku berfikir tiap-tiap mendengarnya.
Felicia nyatanya bermain begitu aman. Saya terkesima temukan seseorang penyanyi cafe yang dapat bermain keyboard dengan baik. Mendadak saya jadi begitu tertarik dengan Felicia. Saya menuliskan request laguku serta memberinya lewat pelayan cafe itu.
“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy. ”, tulisku di kertas request sekalian menuliskan nomor HP-ku. Saya meneruskan pembicaraan dengan clientku serta selang beberapa saat saya mendengar nada Felicia.
“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..? ”
Bhs badan Felicia tunjukkan kalau dia menginginkan tahu di mana saya duduk. Saya melambaikan tanganku serta tersenyum ke arahnya. Tempat dudukku pas dimuka band itu. Jadi, dengan terang Felicia dapat melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya.
Sembari bermain serta bernyanyi, matanya menatapku. Saya juga menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Saya kembali bicara dengan clientku. Tidak lama kudengar nada Felicia menghilang serta bertukar dengan nada penyanyi pria. Kulihat sepintas Felicia tidak terlihat. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.
“Felicia. ” terlihat pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Selekasnya kutelepon dia.
“Hai.. Saya Boy. Kau di mana, Felicia? ”
“Hi Boy. Saya di belakang. Ke kamar mandi. Mengapa menginginkan tahu HP-ku? ”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku selalu jelas. Kudengar tawa enteng dari Felicia.
“Rayuan ala Boy, nih? ”
“Lho.. Bukanlah rayuan kok. Namun pujian yang layak buatmu yang memanglah sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapakah? Saya antar pulang ya? ”
“Jam 24. 00. Bisa. Tapi kulihat kau dengan rekanmu? ”
“Oh.. dia clientku. Sebentar sekali lagi dia pulang kok. Saya cuma mengantarnya hingga parkir mobil. Bagaimana? ”
“Okay.. Saya tunggulah ya. ”
“Okay.. See you soon, sexy.. ”
Saya meneruskan sebentar pembicaraan dengan client serta lalu mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Sesudah clientku pulang saya kembali pada cafe. Saat masih tetap tunjukkan jam 23. 30.
Masih tetap 30 menit sekali lagi. Saya kembali duduk serta pesan hot tea. 30 menit saya butuhkan dengan melihat Felicia yang menyanyi. Mataku selalu memandang matanya sembari kadang-kadang saya tersenyum. Kulihat Felicia dengan yakin diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik sampai membuatku menginginkan mencumbunya.
Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, saya berniat menyalakan AC mobil cukup besar hingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia terlihat menggigil.
“Boy, AC-nya dikecilin yah? ” tangan Felicia sembari mencapai tombol AC untuk menambah suhu. Tanganku selekasnya menahan tangannya. Peluang untuk memegang tangannya.
“Jangan.. Telah dekat rumahmu kan? Saya tidak tahan panas. Suhu segini saya baru dapat. Bila anda naikkan, saya tidak tahan.. ” argumenku.
Saya memanglah menginginkan buat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia dapat tahu. Tangan kiriku masih tetap memegang tangannya. Kuusap perlahan-lahan. Felicia diam saja.
“Kugosok ya.. Agar hangat.. ” kataku datar. Saya memberikannya stimuli enteng. Felica tersenyum. Dia tidak menampik.
“Ya.. Bisa. Habis dingin banget. Oh ya, anda sukai jazz juga ya? ”
“Hampir semuanya musik saya sukai. Oh ya, baru kesempatan ini saya lihat penyanyi jazz wanita yang dapat bermain keyboard. Mainmu asik sekali lagi. ”
“Haha.. Ini malam pertama saya main keyboard sembari menyanyi. ”
“Oh ya? Tapi tidak tampak canggung. Oh ya, kudengar barusan mainmu banyak menggunakan scale altered dominant ya? ” saya lalu memainkan tangan kiriku di tangannya seakan-akan saya bermain piano.
“What a Boy! Kamu paham.kamu mengerti jazz scale juga? Anda dapat main piano yah? ” Felicia terlihat terperanjat. Mukanya tampak penasaran.
“Yah, dahulu main classic. Lantas tertarik jazz. Belum juga mahir kok. ” Saya berhenti dimuka tempat tinggal Felicia.
“Tinggal dengan siapa? ” tanyaku saat kami masuk ke tempat tinggalnya. Ya, saya terima ajakannya untuk masuk sebentar meskipun ini telah nyaris jam 1 pagi.
“Aku kontrak tempat tinggal ini dengan sebagian rekanku sesama penyanyi cafe. Yang lain belum juga pulang semuanya. Mungkin saja sekalian kencan dengan pacarnya. ”
Felicia masuk kamarnya untuk ganti pakaian. Saya tidak mendengar nada pintu kamar dikunci.
Wah, kebetulan. Atau Felicia memanglah memancingku? Saya selekasnya berdiri serta nekat buka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri cuma dengan bra serta celana dalam. Di tangannya ada satu kaos.
Kukira Felicia juga akan berteriak terperanjat atau geram. Nyatanya tidak. Dengan enjoy dia tersenyum.
“Maaf.. Saya ingin bertanya kamar mandi di mana? ” tanyaku mencari argumen. Malah saya yang gugup lihat panorama indah di depanku.
“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk saja. ”
Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya lihat ada satu keyboard. Saya tidak jadi ke kamar mandi jadi memainkan keyboardnya. Saya memainkan lagu “Body and Soul” sembari menyanyi lembut. Suaraku umum saja juga permainanku. Tapi saya percaya Felicia juga akan tertarik. Sekian kali saya buat kekeliruan yang kusengaja. Saya menginginkan lihat reaksi Felicia.
“Salah tuch mainnya. ” komentar Felicia. Dia turut bernyanyi.
“Ajarin dong.. ” kataku.
Dengan selekasnya Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Saya duduk sedang Felicia berdiri membelakangiku. Dengan tempat seperti memelukku dari belakang, dia tunjukkan sepintas notasi yang benar. Saya dapat rasakan nafasnya di leherku. Wah.. Telah jam 1 pagi. Saya menimbang-nimbang apa yang perlu saya kerjakan. Saya memalingkan mukaku. Saat ini mukaku serta Felicia sama-sama bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Bila tidak diterima, bermakna dia tidak punya maksud apa-apa denganku. Bila dia diam saja, saya bisa meneruskannya. Lalu tangannya menepis halus tanganku. Lalu dia berdiri. Saya tidak diterima.
“Katanya ingin ke kamar mandi? ” tanyannya sembari tersenyum. Oh ya.. Saya melupakan argumenku buka pintu kamarnya.
“Oh ya.. ” saya berdiri.
Ada rasa sesak di dadaku terima penolakannya. Tapi saya tidak menyerah. Selekasnya kuraih badannya serta kupeluk. Lalu kuangkat ke kamar mandi!
“Eh.. Eh, apa-apaan ini? ” Felicia terperanjat. Saya tertawa saja.
Kubawa dia ke kamar mandi serta kusiram dengan air! Biarkanlah. Bila ingin geram ya saya terima saja.
Yang pasti saya selalu berupaya memperolehnya. Nyatanya Felicia jadi tertawa. Dia membalas menyiramku serta kami keduanya sama basah kuyup. Selekasnya saya menyandarkannya ke dinding kamar mandi serta menciumnya!
Felicia membalas ciumanku. Bibir kami sama-sama memagut. Benar-benar nikmat bercumbu di suhu dingin serta basah kuyup. Bibir kami sama-sama berlomba memberi kehangatan. Tanganku merain kaosnya serta membukanya. Lalu bra serta celana pendeknya. Sesaat Felicia juga buka kaos serta celanaku. Kami keduanya sama tinggal cuma menggunakan celana dalam. Sembari selalu mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut serta merangsang payudaranya. Sesaat tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya serta kadang-kadang menyelusup ke belahan pantatnya. Dari pantatnya saya dapat mencapai vaginanya. Menggosokinya dengan jariku.
“Agh.. ” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat serta basah. Perlahan-lahan saya rasakan penisku ereksi.
“Egh.. ” saya menahan nafas saat kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku serta meremasnya.
Tidak lama dia mengocok penisku sampai membuatku semakin terangsang. Badan Felicia kuangkat serta kududukkan di bak air. Cukup susah bercinta di kamar mandi. Licin serta tidak dapat berbaring. Pada saat Felicia duduk, saya cuma dapat merangsang payudara serta mencumbunya. Sesaat pantat serta vaginanya tidak dapat kuraih. Felicia tidak ingin duduk. Dia berdiri sekali lagi serta menciumi puting dadaku!
Nyatanya enak juga rasa-rasanya. Baru kesempatan ini putingku di cium serta dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tidak sempat melepas penisku. Selalu dikocok serta diremasnya. Sembari mengerjakannya, tubuhnya bergoyang-goyang seolah-olah dia tengah menari serta nikmati musik. Terasa terganggu dengan celana dalam, saya melepasnya dan melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali.
Lidahku menghimpit lidahnya. Kami sama-sama menjilat serta mengisap.
Rintihan kecil serta desahan nafas kami sama-sama bertukaran buat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin buat kami sama-sama merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berlainan bercinta saat dalam kondisi basah. Saat bercumbu, ada rasa ‘air’ yang buat ciuman berlainan rasa-rasanya dari umumnya.
Agen Judi Bola Online
Saya menyalakan shower serta lalu dibawah air yang mengucur dari shower, kami makin hangat merapat serta sama-sama merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, muka serta semua badan, buat badan kami semakin panas. Semakin bergairah. Ke-2 tanganku mencapai pantatnya serta kuremas agak keras, sesaat bibirku melumat semakin ganas bibir Felicia. Kadang-kadang Felicia menggigit bibirku.
Perlahan-lahan tanganku merayap naik sembari memijat enteng pinggang, punggung serta bahu Felicia. Dari bhs badannya, Felicia begitu nikmati pijatanku.
“Ogh.. Its nice, Boy.. Och.. ” Felicia mengerang.
Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya turut meremas pantatku.
Saya rasakan payudara Felicia semakin tegang. Payudara serta putingnya tampak demikian seksi.
Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.
“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Menginginkan kumakan rasa-rasanya.. ” candaku sembari tertawa enteng. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.
“Makan saja jika sukai.. ” bisiknya di telingaku.
“Enak lho.. ” sambungnya sembari menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan-lahan ujung lidahku mendekati putingnya. Saya menjilatnya persis di ujung putingnya.
“Ergh.. ” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.
Dari mulai ujung lidah hingga pada akhirnya dengan semua lidahku, saya menjilatnya. Lalu saya mengisapnya dengan lembut, agak kuat serta pada akhirnya kuat. Selang beberapa saat Felicia lalu buka kakinya serta menuntun penisku masuk vaginanya.
“Ough.. Enak.. Mari, Boy” Felicia memohonku mulai beraksi.
Penisku perlahan-lahan menembus vaginanya. Saya mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar-putar, Sembari bibir kami sama-sama melumat. Saya berupaya keras membuatnya rasakan kesenangan. Felicia dengan trampil ikuti tempo kocokanku. Anda bekerja bersama dengan serasi sama-sama berikan serta memperoleh kesenangan. Vaginanya masih tetap rapat sekali. Serupa dengan Ria. Apakah begini rasa-rasanya perawan? Entahlah. Saya belum juga sempat bercinta dengan perawan, terkecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.
“Agh.. Agh.. ” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya semakin keras.
“Come on, Boy.. Fuck me.. ” ceracaunya.
Rupanya Felicia yaitu type wanita yang bertemura keras saat bercinta. Bagiku mengasyikkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat
menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku semakin cepat. Sebagian waktu lalu saya berhenti. Mengatur nafas serta merubah tempat kami.
Felicia menungging serta saya ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy model. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, lalu memasukkan jariku.
“Hey.. Perih tau! ” teriak Felicia. Saya tertawa.
“Sorry.. Kupikir enak rasa-rasanya.. ” Saya hentikan memasukkan jari ke anusnya namun tetaplah bermain-main di sekitaran anusnya sampai membuatnya geli.
Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Saya rasakan bebrapa waktu orgasmeku nyaris tiba. Saya berupaya keras mengatur ritme serta nafasku.
“Aku ingin nyampe, Felicia.. ”
“Keluarin didalam saja. Telah lama saya tidak rasakan semprotan cairan pria” Saya agak berhenti. Hilang ingatan, keluarin didalam. Bila hamil bagaimana, fikirku.
“Aman, Boy. Saya ada obat anti hamil kok.. ” Felicia meyakinkanku. Saya yg tidak percaya. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menanggung, kan? Kukocok sekali lagi dengan gencar. Felicia berteriak semakin keras.
“Yes.. Saya juga nyaris sampai, Boy.. come on.. come on.. oh yeah.. ”
Saat-saat itu semakin dekat.. Saya mengubernya. Kesenangan tidak ada tara. Buat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..
“Aku orgasme. Tidak lama kemudian kurasakan badan Felicia semakin bergetar hebat. Saya berupaya keras menahan ereksiku. Badanku terkejang-kejang alami puncak kesenangan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh.. ” Felicia menyusulku orgasme.
Dia menjerit kuat sekali lalu membalikkan tubuhnya serta memelukku. Kami lalu bercumbu sekali lagi. Waktunya after orgasm service. Tanganku memijat badannya, memijat kepalanya serta mencumbu hidung, pipi, leher, payudara serta lalu perutnya. Saya membuatnya kegelian saat hidungku bermain-main di perutnya. Lalu kuangkat dia.
Ambil handuk serta mengeringkan badan kami berdua. Sembari selalu mencuri-curi ciuman serta rabaan, kami sama-sama menggosok-gosok badan kami. Dengan badan telanjang saya mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya serta kembali menciumnya. Felicia tersenyum senang. Matanya berbinar-binar.
“Thanks Boy.. Telah lama sekali saya tidak bercinta. Anda sukses memuaskanku.. ”
Pujian yang tulus. Saya tersenyum. Saya terasa belum juga hebat bercinta. Saya cuma berupaya melayani tiap-tiap wanita yang bercinta denganku. Memerhatikan kebutuhannya.
Saya begitu terperanjat saat mendadak pintu kamar terbuka. Sial, kami barusan lupa mengunci pintu!! Seseorang wanita keluar. Saya tidak pernah sekali lagi menutupi badan telanjangku.
“Ups.. Tidak usah terperanjat. Dari barusan saya telah dengar teriakan Felicia. Barusan jadi telah mengintip kalian di kamar mandi.. ” kata wanita itu. Saya kecolongan. Tapi apa bisa buat. Biarlah saja. Kulihat Felicia tertawa.
“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy. ” saya menganggukkan kepalaku kepadanya.
Baca Juga : Ngentot Dengan Janda Kampung Saat Berteduh Karena Hujan Deras
“Hi Gladys.. ” sapaku.
Lalu saya berdiri. Dengan penis lemas terayun saya mencari kaos serta celana pendek Felicia serta menggunakannya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Fikirku. Telah jam 2 pagi. Saya mesti pulang. END