Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2019

Cerita Dewasa Diriku Dijual Adik Kandungku Sendiri


Satu hari, saat saya pulang kuliah sore, saya meluangkan diri ke kamar adikku ingin mencari buku komik kesukaanku yang baru dipinjam tiga hari oleh adikku. Waktu mencari saya tidak menyengaja temukan beberapa VCD porno di meja belajarnya digabung dengan CD-CD PSnya,

Selasa, 01 Januari 2019

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Gila Ibu Rumah Tangga BerJilbab


Mufidah ialah seseorang ibu rumah-tangga wajahnya cantik yang berkulit putih bersih baru berumur 31 tahun. Saat 6 tahun perkawinannya dengan mas Syamsul, wanita ini sudah dikaruniai dua anak yang semasing berumur 3 tahun serta 5 tahun. Tidak hanya kesibukannya menjadi ibu rumah-tangga, wanita yang tetap kenakan jilbab ini pula cukuplah aktif di …. demikian pula suaminya.

Cerita Dewasa Gigolo Berlangganan Tante Girang

Cerita Dewasa Gigolo Berlangganan Tante Girang

Ini ialah cerita atau pengalaman sex gigolo dengan cougar, cerita gigolo dewasa yang ngentot cougar untuk uang serta kenikmatan kepahinya. Uang tiga perempat, bibi yang mendapatkan service sex ikut nikmati service sex dari gigolo. Baca selanjutnya, lihat ceritanya berikut ini!

Minggu, 30 Desember 2018

Cerita Dewasa Terkena Rayuan Threesome Dika


Kesempatan ini bercerita pengalaman Seks pribadi dari seseorang Pria bernama Dika saat ia masih tetap kuliah dahulu. Benar-benar mujur sekali Dika ini, pada sebuah tempo Dika dapat memperawani 2 gadis yang berstatus adik kakak ini. Cerita ini dapat berlangsung saat dika bertandang dikos pacarnya yang bernama Lidya. Sebab saat itu mereka cuma berdua dikosan Lidya, jadi terjadi jalinan seks pada mereka berdua.

Sabtu, 29 Desember 2018

Cerita Dewasa Hotnya Badan Semok Ibu Ria

Cerita Dewasa Hotnya Badan Semok Ibu Ria

Saya memang termasuk juga pria yang aneh. Napsuku cuma pada wanita-wanita STW yang menyukai kenakan kebaya serta berkonde. Terkadang waktuku habis ke pesta-pesta pernikahan cuma untuk lihat wanita-wanita yang kenakan pakaian itu. Kalau tidak ada pesta penikahan saya pergi ke beberapa tempat hiburan tradisionil (ronggeng) di mana beberapa penari serta penyayinya kenakan kebaya serta berkonde.

Kamis, 27 Desember 2018

Cerita Dewasa Ngentot Dengan 2 Rekan Istriku

Cerita Dewasa Ngentot Dengan 2 Rekan Istriku

Saya bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… jam 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Selekasnya saya meloncat bangun, mencari istri serta anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Patut saja mereka telah pergi. Istriku menyengaja tidak membangunkan saya untuk turut ke sekolah anakku, sebab malamnya saya pulang kantor hampir jam 4 pagi.

Yah, beginilah nasib auditor jika kembali dikejar laporan audit. Untung saja, ada anggota timku yang dapat kurangi keteganganku. Ya, Agnes tentu saja, yang tadi malam sudah memberi servis untukku. Baginya, bersetubuh dengan lelaki lainnya tidak hanya suaminya bukan perihal yang tabu, sebab ia sendiri ikut tidak mempersoalkan bila suaminya berkencan dengan wanita lainnya. Prinsip mereka, yang terpenting pasangan tidak lihat peristiwa itu dengan mata kepala sendiri.

Saya tersenyum mengingat peristiwa tadi malam. Sebetulnya jam 11 malam kami setuju untuk pulang kantor, tetapi nyatanya saya serta Agnes sama2 kembali horny. Pada akhirnya, terjadi seperti yang telah kuceritakan di atas. Tidak berasa, saya mulai horny kembali. tongkolku pelan2 mengangguk-angguk serta mulai mengacung.“Walah…repot bener nih, pikirku. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di dalam rumah tidak ada pembantu, sebab istriku, Indah, lebih senang bersih2 rumah sendiri dibantu ke-2 anakku. “Biar anak-anak tidak manja serta dapat belajar mandiri. Lagian, dapat mengirit pengeluaran,” kilah istriku. Saya sepakat saja. agen poker

Kurebahkan tubuhku di sofa ruangan tengah, sesudah memutar DVD BF. Menyengaja kusetel, agar hasratku cepet selesai. Sesudah kubuka celanaku, saya saat ini cuma gunakan kaos, serta tidak gunakan celana. Pelan-pelan kuurut serta kukocok tongkolku. Terlihat dari ujung lubang tongkolku meluluhkan cairan bening, sinyal jika birahiku telah mencapai puncak.

Saya juga ingat Linda, teman dekat istriku. Kebetulan Linda datang dari suku Chinese. Ia ialah teman dekat istriku dari sejak SMP sampai lulus kuliah, serta seringkali ikut main kerumahku. Terkadang sendiri, terkadang bersama dengan keluarganya. Ya, saya memang seringkali berfantasi tengah menyetubuhi Linda. Tubuhnya mungil, setinggi Agnes, tetapi lebih gendut. Yang kukagumi ialah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Serta pantatnya yang membulat indah, seringkali membuatku ngaceng jika ia bertandang.

Saya cuma dapat memikirkan kalau badan mulus Linda dapat kujamah, tentu sangat nikmat. Fantasiku ini nyatanya membuat tongkolku semakin keras, merah padam serta cairan bening itu mengalir kembali dengan deras. Ah Linda…seandainya saya dapat menyentuhmu..serta kamu ingin ngocokin tongkolku..demikian pikiranku waktu itu.

Kembali enak-enak ngocok sekalian tonton bokep serta memikirkan Linda, terdengar nada langkah sepatu serta seorang memanggil-manggil istriku.“Ndah…Indah…aku dateng,” sengit nada itu…Oh my gosh…itu nada Linda…mau ngapain ia ke sini, pikirku. Kapan masuknya, kok tidak kedengaran? Linda memang belum pernah mengetuk pintu jika ke rumahku, sebab keluarga kami sangatlah akrab dengan ia serta keluarganya.

Belum saya berfikir serta lakukan tindakan untuk selamatkan diri, tiba-tiba Linda sudah muncul di ruangan tengah, dan…“AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya. “Kamu kembali ngapain?”“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tidak dapat menjawa pertanyaannya. Grogi. Cemas. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang sampai kini cuma ada pada fantasiku, tidak diduga muncul dihadapanku serta straight, langsung melihatku dalam kondisi telanjang, tidak pakai celana, Hanya kaos saja.

Ngaceng juga.“Kamu dateng ok tidak ngabarin dahulu sich?” saya memprotes.“Udah, sana, pakai celana dahulu!” Pagi-pagi telanjang, tonton bf sendirian,kembali ngapain sich?”ucapnya sekalian duduk di kursi didepanku.“Yee…namanya ikut kembali horny…ya sudah mending colai sekalian tonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya kembali pergi ke sekolah. Ya sudah, self service,”sahutku.“Udah, Ndrew. Sana pakai celana dahulu. Kamu tidak risih apakah?”“Ah, kepalang tanggung kamu dah simak? Ngapain ikut dtitutupin? Telat donk,”kilahku.“Dasar kamu ya. Ya, sudah deh, saya pamit dahulu. Salam saja buat istrimu. Sana, terusin kembali.” Linda bergerak dari duduknya, serta pamit pulang.Cepat-cepat saya mencegahnya. “Lin, nanti dahulu lah…,”pintaku.“Apaan sich, orang saya ingin ngajak Indah jalan, ia tidak ada ya sudah, saya ingin jalan sendiri,”sahutnya.“Bentar deh Lin.

Tolongin saya, tidak lama kok, sangat sepuluh menit,”aku berupaya merayunya.“Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Linda memprotes sekalian melotot. “Kamu janganlah macem-macem deh, Ndrew. Tidak mungkin donk saya kerjakan itu,”sergahnya.“Lin,”sahutku tenang. “Aku tidak meminta kamu untuk lakukan hal tersebut. Tidak.

Saya Hanya meminta tolong, kamu duduk didepanku, sekalian liatin saya colai.”“Gimana?”Linda tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.Sejurus lalu..“Ok, Lin. Saya janji tidak ndeketin ditambah lagi menyentuh kamu.

Tetapi, sebelum itu, kamu ikut membuka bajumu dong…pake BH sama CD saja deh, tidak perlu telanjang. Kan kamu dah simak punyaku, please?” saya merayunya dengan dikit memelas sekaligus juga cemas.“Hm…fine deh. Saya bantuin deh…tapi bener ya, saya masih tetap pakai BH serta CDku serta kamu tidak nyentuh saya ya. Janji lho,”katanya. “Tapi, nantikan.

Saya ingin bertanya, kok kamu berani sekali meminta tolong demikian ke saya?””Yaaa…aku berani-beraniin…toh saya tidak nyentuh kamu, Hanya simak doang. Lagian, kamu dah simak punyaku? Trus, saya kembali colai sekalian simak BF…lha ada kamu, mengapa tidak meminta tolong saja, simak yang asli?”kilahku.“Dasar kamu. Ya sudah deh, saya membuka pakaian di kamar dahulu.”“Gak perlu, di tempat ini saja,”sahutku.

Perlahan-lahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang begitu putih serta mulus. Saya menelan ludah sebab cuma dapat memikirkan seperti apakah isi BH merah itu. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, serta dibukanya kancing celananya.

Perlahan-lahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada kebimbangan di mukanya. Tetapi pada akhirnya, celana itu lepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak memandangnya. Paha itu begitu putih sekali. Lebih putih dari yang sempat saya pikirkan. Tidak ada cacat, tidak ada noda. Selangkangannya masih tetap terbungkus celana dalam mini memiliki bahan satin, sewarna dengan Bhnya.

Kelihatannya, itu ialah satu set BH serta CD.“Nih, saya sudah membuka pakaian. Dah, kamu terusin kembali colinya. Saya duduk ya.”Linda selekasnya duduk, serta akan menyilangkan kakinya. Cepat-cepat saya hindari.“Duduknya janganlah begitu dong…”“Ih, kamu tuch ya…macem-macem sekali. Memang saya harus bagaimana?”protes Linda. “Nungging, begitu?””Ya jika kamu ingin nungging, bagus sekali,”sahutku.“Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.“Kamu duduk biasa saja, tetapi kakimu dibuka sedikit, jadi saya dapat simak celana dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu tidak keliatan?”usulku.“Iya…iya…ni anak rewel sekali ya.

Ingin colai saja pakai meminta macem-macem,”Linda masih tetap saja memprotes dengan permintaanku.“Begini tempat yang kamu ingin?”tanyanya sekalian duduk serta buka pahanya lebar-lebar.“Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut ya colinya.”
Sekalian memandangi tbuh Linda, saya selalu mengocok tongkolku, tetapi kulakukan dengan perlahan-lahan, sebab saya tidak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, jika panorama langka ini berlalau sangat cepat. Saya juga menceracau, tetapi Linda tidak menyikapi omonganku.

“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus sekali siiiihhh….”aku selalu menceracau. Linda menatapku serta tersenyum.“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel serta putiiiihhhh….hhhhh….membuat saya ngaceng, Liiiiiinnn……”Linda selalu saja menatapku serta sekarang bergantian, memandang wajahku serta kadang-kadang melirik mengarah tongkolku yang selalu saja ngacai alias keluarkan lendir dari ujung lobangnya.“Pantatmu, Liiiinnn….kalau kau bisa megang….uuuuhhhhh….ditambah lagi terkena tongkolku….oouuufff…..tentu muncrat aku….,”aku mendesah serta menceracau memberikan pujian pada keindahan tubuhnya.

Sekaligus juga saya mengharap, kata-kataku bisa membuat terangsang.

Linda masih diam, serta tersenyum Matanya mulai sayu, serta bisa kulihat jika nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik mengarah celana dalamnya…oppsss….saya tangkap tanda jika nyatanya Linda memulai ternagsang dengan aktivitasku. Sebab celana dalamnya memiliki bahan satin serta tipis, jelas sekali tampak ada noda cairan di seputar selangkannya. Duduknya juga mulai resah. Tangannya mulai meraba dadanya, serta tangan yang satunya turun meraba paha serta selangkangannya. Tetapi Linda terlihat sangsi untuk mengerjakannya. Mungkin sebab dia tidak pernah lakukan ini di depan orang yang lain.

Kupejamkan mataku, supaya Linda tahu jika saya tidak memerhatikan aktivitasku. Serta benar saja…setelah sesaat, saya buka dikit mataku, kulihat tangan kiri Linda meremas payudaranya serta owww…BH samping kiri nyatanya telah diturunkan…Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…tegak mengacung. Walau telah melahirkan, serta mempunyai satu anak, kuakui, payudara Linda semakin bagus serta kencang dibanding Agnes. Kulihat tangan kiri Linda memilin-milin putingnya, serta tangan kanannya nyatanya sudah menyelinap ke celana dalamnya.

“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seakan meredam kesenangan. Saya kembali pejamkan mataku serta melanjutkan kocokan pada tongkolku sekalian nikmati rintihan-rintihan Linda.

Tidak diduga saya terasa ada suatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol serta tanganku. Saya buka mata serta terpekik. “Lin…kamu…,”leherku tercekat.“Aku tidak tega simak kamu menanggung derita, Ndrew,”sahut Linda sekalian membelai tongkolku dengan tangannya yang lembut.My gosh…perlahan impin serta obsesiku jadi fakta. tongkolku dibelai serta dikocok dengan tangan Linda yang putih mulus.

Saya mendesis serta membelai rambut Linda. Lalu dengan spontan Linda menjilat tongkolku yang telah bene-bener sewarna kepiting rebus serta sekeras kayu. Dan…hap…! Satu peristiwa tidak tersangka tapi begitu kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke mulutnya. Ya, tongkolku disedot Linda. Dikit kembali tentu saya mendapatkan lebih dari sebatas cunilingis.

Tidak tahan dengan perlakuan sepiha Linda, kutarik pinggulnya serta cepat-cepat kulepaskan Cdnya.“Kamu ingin ngapain, Ndrew?” Linda memprotes sekalian hentikan hisapannya. Saya tidak menjawab, jariku repot menyeka serta meremas pantat putih nan montok, yang sampai kini cuma jadi khayalanku.“Ohh..Lin…boleh ya saya megang pantat sama memiaw kamu?”pintaku.“Terserah…yang terpenting kamu senang.”Segera kuremas-remas pantat Linda yang montok.

Ah, obsesiku tercapai…dulu saya cuma dapat berkhayal, saat ini, badan Linda terpampang dihadapanku.Senang dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus serta vaginanya. Linda mendesah meredam perasaan nikmat karena usapan jariku.“Achh…Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau nikmati jilatan lidah serta hangatnya mulut Linda waktu mengenyot tongkolku. Benar-benar menggairahkan lihat bibir serta lidahnya yang merah menyapu lembut kepala serta batang kelelakianku.

Sampai akhirnya….“Liiinn….bibir kamu lembut sekali sayaaaannggg….aku…kach…aku…”“Keluarin sayang…tongkol kamu sudah berdenyut tuh….sudah ingin muncrat

yaaa….”“I…iiy…iiyyaaa….Liiiiinnnnnnnnn….Ouuuuufuffffff…..argggghhhhhhhhhh…..”Tak bisa kutahan kembali. Bobol telah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir serta dada Linda. Tanganhalus Linda tidak berhenti mengocok batang kejantananku, seakan ingin melahap habis cairan yang kumuntahkanOhhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini saya muncratin pejuhku di bibir serta muka Linda.“Lin…kamu tidak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?”Linda menggeleng dengan pandangan sayu.

Tangannya masih mainkan tongkolku yang dikit melemas.“Kamu baru pertam kali kan, mainin koto orang tidak hanya suami kamu?”“Iya, Ndrew. Tetapi kok saya senang ya…terus jelas, berbau sperma kamu seger banget…kamu rajin jadi buah sama sayur ya?” bertanya Linda.“Iya…kalo tidak begitu, Indahmana ingin nelen sperma saya.”“Aihhh….” Linda terpekik. “Indah ingin nelen sperma?”Aku mengangguk. “Keapa Lin? Ingin tahu sama rasa-rasanya? Lha itu spremaku masih tetap meleleh di muka sama dada kamu.

Coba saja rasa-rasanya,”sahutku.“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah serta bibir Linda mencicipi spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada serta mukanya, lalu dijilatnyajarinya smape bersih.Hmmm….pada akhirnya spermaku masuk dalam tubuhnya…“Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya.

Saya tidak ngerasa enek cocok nelen sperma kamu…””Mau lagi….?”“Ih…kamu tuh ya…masih kurang, Ndrew?”“Lha kan baru oral belumlah masuk ke meqi kamu, Lin.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun kembali kan?”“Dasar kamu ya….””Benerkamu tidak ingin spermaku ? Ya sudah jika begitu, saya ingin bersih-bersih dahulu.”ancamku sekalian bangun dari kursi.“Mau sih…Cuma takut jika Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.

Perlahan-lahan kuhampiri Lida, kuminta ia duduk di sofa, sekalian ke-2 kakiya diangkat mengangkang.Kulihat meqinya yang licin sebab cairan cintanya meleleh karena tindakan jariku.“Hmmm…Lin…meqi kamu masih tetap basah…kamu masih tetap horny dong…”tanyaku.“Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian saya udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…….”Linda memiawik waktu lidahku menari diujung klitorisnya.“Ndrewwww…kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.

Kumainkan lidahku dikelentitnya yang sudah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Linda yang makin membengkak. Perlahan-lahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.Mengakibatkan mengagumkan. Linda semakin meronta serta mendesah. Jambakannya semakin kuat. Cairan birahinya semakin membasahi lidah serta mulutku. Tentunya perihal ini tidak kusia-siakan.

Kusedot kuat supaya saya bisa menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma vagina Linda lainnya dengan aroma vagina istriku. Walau kedua-duanya tidak bau amis, tetapi ada sensasi sendiri waktu kuhirup aroma kewanitaan Linda.“C’mon..Ndrew…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….”Aku memahami, pergerakan pantt Linda semakin liar. Semakin kencang. Kurasakan juga meqinya mulai berdenyut…..seentar kembali ia meledak, pikirku.

“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.“Mas…..mas Andrew….”suara wanita dimuka menyebut namaku.Langsung kulepaskan jilatanku. Linda melihat wajahku dengan muka pucat. Saya juga melihat mukanya dengan jantung berdebar.“Ndrew..kok kyaka nada Rika ya…”Linda bertanya“Wah..ingin ngapain ia kesini…..kritis dong…”ucapku ketakutan. “Udah Lin, kamu masuk kamarku dahulu deh…cepetan…”

Selekasnya Linda berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalipun bersihkan tubuhnya sebab dikamarku ada kamar mandi. Saya tahu ada sebersit ekspresi sedih di mukanya, sebab Linda hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kehadiran Rika, sahabatnya sekaligus juga teman dekat istriku.

Sesudah kupakai kaos serta celana yang kuambil dari almari serta bersihkan muka dikit, saya ke arah ke ruangan tamu, buka pintu.

“Halo, mas….’Pa berita..?” sahut Rika demikian melihatku buka pintu.“Baik, dik. Mari masuk dahulu. Tumben nih pagi-pagi, sepertinya ada yang terpenting?” tanyaku sambil ajak Rika ke arah ruangan tengah.Mataku dikit terbelalak lihat bajunya. Bagaimana tidak?Kaos ketat melekat dibadannya, digabungkan dengan celana spandex ketat berwarna putih.

Saya lihat lipatan cameltoe di selangkangannya mengisyaratkan jika didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, serta waktu saya berjalan dibelakangnya, tidak kulihat garis celana dalam mebayang di spandexnya.Hmm…mana mungkin ia tidak pakai CD..mungkin pakai G-string, pikirku.Kami berdua selekasnya ke arah ruangan tengah.

Untung saja, film bokep yang saya setel sudah tuntas, jadi Rika tidak sudah sempat lihat film apakah yang tengah saya setel.“Ini lho mas, saya ingin anter oleh-oleh. Kan tempo hari saya baru dateng dari Jepang. Nah, ini saya bawain ….dikit bawaan lah, untuk kamu sama Indah.

Itung-itung membagi kesenangan.”“Wah…tengkyu sekali lho…kamu baik banget”“Ah, biasa saja lageee..hehehe”Kami berdua sesaat ngobrol-ngobrol, sebab memang telah berapa bulan Rika tidak bertandang ke rumahku. Rika ini ialah salah satunya teman dekat istriku, tidak hanya Linda.Diam-diam, akupun ikut terobsesi bisa nikmati tubuhnya.

Ya, Rika seseorang wanita yang mungil. Tinggi badannya tidak lebih dari 155cm. Banding dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tetapi condong kemerahan. Hmm..saya seringkali berkhayal kembali ngent*tin Rika, sekalian saya gendong serta saya rajam memiawnya dengan tongkolku. Tentu ia merintih-rintih nikmati hujaman tongkolku…

“Hey…bengong aja…ngeliatin apakah sich..” tegur Rika.“Eh…ah…anu…enggak.

Hanya kembali mikir, kapan ya gw dapat berjalan-jalan sama kamu…”Eits..kok ngomongku melantur berikut sich. Aduh…gawat deh…“Alaaa..mikirin berjalan-jalan apalagi ngeliatin suatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.Mati aku…berarti waktu saya ngeliatin bodinya, ketahuan dong jika saya melototin selangkangannya. Wah….“Ya sudah, mas. Saya pamit dahulu, setelah Indah pergi.

Lagian,dari barusan kamu ngeliatin selalu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik mengambil ketawa.Saya Hanya tersenyum.“Ya sudah, jika kamu ingin pamit. Saya tidak dapat ngelarang.”“Aku numpang pipis dahulu ya.”Rika ke arah kamar mandi di samping kamarku.“Iya.”

Pas saatRika masuk kamar mandi, sekalian berjingkat Linda keluar dari kamarku.Saya terperanjat, serta selekasnya memerintahnya masuk kembali, sebab takut ketahuan. Nyatanya CD Linda tertinggal di kursi tadi didudukinya waktu tengah saya jilat memiawnya.

Astagaaa…untung Rika tidak ngeliat…atu jangan-jangan ia sudah simak, karena itu sudah sempat melemparkan pandangan menyelidik? Entahlah…“Cepeeeett..mengambil trus ke kamar kembali.”perintahku sekalian berbisik.Linda mengangguk, selekasnya menyambar Cdnya dan…

“Ceklek….!”Pintu kamar mandi terbuka, serta waktu Rika keluar, kulihat mukanya terperanjat lihat Linda berdiri terpaku didepannya sekalian menggenggam celana dalamnya yang belum dipakainya. Ditambah kondisi Linda yang cuma memaki kaos, tapi di bawah tidak menggunakan celana jeansnya. Akupun terperanjat, serta berdiri terpaku.

Hatiku berdebar, tidak tahu apakah yang perlu kuperbuat atau kuucapkan. Semua berlangsung dalam tempo yang begitu singkat serta tidak terelakkan. Kepalaku berasa pening.

“Linda…? Kamu kembali ngapain?” Rika menanyakan dengan muka bingung campur kaget.“Eh…anu…ini lho…”kudengar

Linda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.“Kok kamu megang celana dalam? 1/2 telanjang kembali?” selidik Rika. “Oo…aku tau…pasti kamu berdua kembali melakukan perbuatan yaaa…?”“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Linda kembali numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.“Trus, jika memang numpang dandan, ngapain ia diruangan ni, pakai bawa serta celana dalam kembali.” Sudah begitu telanjang juga. .Hayo!!!” Rika menanyakan dengan galak.“Sini simak.”

Rika mendekati Linda serta cepat merampas celana dalam yang dipegang Linda, tiada perlawanan dari Linda.“Kok basah…?”Rika mengernyitkan keningnya. “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?””udah deh, Rik…emang bener, saya kembali ingin ML sama Linda. Belumlah sempat saya ent*t, sich. Baru saya jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng.” Saya menyerah serta pilih menuturkan apakah yang baru saja saya kerjakan. “Kamu tuch ya…udah miliki istri masih tetap suka yang lainnya.

Ini cewek ikut sama saja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan muka merah padam.“Terserah kamu lah…kamu ingin laporin saya sama Linda ke polisi…silakan. Ingin laporin ke Indah…terserah….”ucapku pasrah.“Hmm…kalo saya laporin ke Indah…kasian ia. Kelak ia kaget.Jika ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika meninmbang-nimbang apakah yang akan dikerjakannya.“Gini saja mas. Saya tidak laporin ke mana-mana.

Tetapi ada syaratnya.” Rika memberi penawarannya kepadaku.“Apa syaratnya, Rik?”“Nggak berat kok. Mudah sekali serta gampang.”“Iya, apaan syaratnya?” Linda turut bertanya“Terusin apakah yang kamu berdua barusan lakukan. Saya duduk di tempat ini, tonton. Bagaimana?”“WHAT?” saya serta Linda berteriak bebarengan. “Gila lu ya, waktu ingin tonton orang kembali ML?”“Ya terserah kamu.Ingin pilih mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.

Saya serta Linda sama-sama berpandangan. Kuhampiri Linda, kubelai tangan serta rambutnya. Linda seakan mengerti serta menyepakati prasyarat yang diserahkan Rika.Selekasnya saja kulumat bibirnya yang ranum serta tanganku meremas pantatnya yang sekel. Linda selekasnya buka kaosnya.Sekalian selalu berciuman serta meremas pantatnya, kubimbing Linda ke arah sofa. Kurebahkan dia dari sana, serta dengan cekatan dilepaskannya kaos serta celana ku hingga saya saat ini telanjang bundar di depan Linda serta Rika.

Saya melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat mukanya menegang seperti tegangnya tongkolku. Saya tersenyum-senyum kearahnya, sekalian mainkan serta mengocok-ngocok tongkolku, seakan akan menunjukkan kejantananku.“Ayo, ndrew…cepetan deh…udah tidak tahan, honey…”Linda mendesah. “Biarin saja si Rika…paling ia ikut sudah basah.”“Enak saja kamu katakan.”sergah Rika. “Udah buruan, saya ingin simak seperti apakah sich kalian jika ML.”
Saya memandang mata Linda yang mulai sayu serta tersenyum.

Sesudah melepas semua bajunya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tidak sabar, selekasnya kusosor memiaw Linda yang begitu becek oleh lendir birahinya.

“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww….”Linda menjerit serta mengeluh terima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas, ikuti irama permainan lidahku.Hmmm…nikmat sekali. memiawnya bau fresh, sinyal jika memiaw ini begitu tertangani. Serta yang membutku girang ialah lendir memiawnya yang meleleh deras, bersamaan dengan semakin kuatnya goyangan pinggulnya.

“Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…”Linda selalu mendesah. Nafasnya tersengal-sengal, seakan ada suatu yang mendesaknya.‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sekalian jari tengahku selalu mengocok memiawnya, serta jempolku menggesek itilnya yang sangatlah keras. Baik itil ataupun memiaw Linda telah betul-betul berwarna merah, begitu basah karena lendirnya yang meleleh, sampai membasahi belahan pantat serta sofa.

Selekasnya kegiatan tanganku kuganti dengan jilatan lidahku kembali. Perihal ini membuatpaha Linda menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus juga membenamkan kepalaku di tengah jepitan pahanya yang menegang. Saya rasakan memiawnya berdenyut, serta ada lelehan cairan hangat menimpa bibirku.

“ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Linda menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, mendesak kepalaku di selangkangannya serta berguncang hebat sekali.Tidak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semua, kutelan semua. Ya, saya tidak ingin buang lendir kesenangan Linda.

Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda semakin keras…dan pada akhirnya Linda terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku serta gemetaran.“Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..”Linda menceracau sekalian gemetaran.“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…”

Kulihat Linda tersenyum dengan muka senang. Selekasnya kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras serta kemerahan. Walau telah melahirkan serta menyusui dua anak, payudara Linda begitu tertangani, kencang. Serta putingnya masih tetap berwwarna kemerahan.

Siapa lelaki yang tahan lihat warna putting semacam itu, apalgi saat ini puting merah itu betul-betul masih tetap keras serta mengacung walau pemiliknya baru saja meraih orgasme.“Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli….” Lnda menggelinjang waktu kuserbu putingnya. Saya tidak memedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas hingga tubuh Linda mulai mengejang kembali.

“Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda mendesah. “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhhhh……”

Tiada aba-aba, selekasnya kusorongkan tongkolku yang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Linda. Blessss…….“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat Linda tersentak kedepan, bersamaan dengan menancapnya tongkolku di mekinya. Kutekan tongkolku semakin dalam serta kuhentikan sesaat dari sana. Berasa sekali memiaw Linda berkedut-kedut, meskipun termasuk super becek.“Ayo, nDrew…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….sudah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Linda mendesah meminta.

Selekasnya kugocek tongkolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk….” suar gesekan tongkolku dengan memiaw Linda yang telah basah kuyup nyaring terdengar.

Tidak lupa kulumat bibirnya yang ranum, serta tanganku menggerayang memilin nikmati payudara serta putingnya.Tidak lama kemudian kulihat mata Lnda terbalik, Hanya tampak putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul serta pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.

“AN…DREEEWWWW…….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKKKK….” Linda menjerit keras serta sesaat terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Berasa di tongkolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seakan akan memijit serta memaksa spermaku untuk selekasnya mengguyur menyiram memenya yang mengagumkan becek.
Semakin kuat kocokan tongkolku di dalam memiaw Linda, semakin kencang juga pelukannya.

Nafas Linda ketahan, seakan tidka ingin kehilangan moment-moment indah meraih puncak kesenangan.Sebab denyutan memiaw Linda yang membuatku nikmat, ditambah perasaan hangat sebab uyuran lendir memiawnya, saya juga tidak tahan. Ditambah ekspresi mukanya yangmemandang wajahku dengan mata sayu akan tetapi tersirat kenikmatan yang maat begitu.

“Ayo nDrew…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….”Linda meminta.“Kamu tidak papah saya tumpahin pejuh di rahim kamu?”tanyaku sekalian terengah-engah.“No masalah honey…aku safe kok….”sahut Linda. “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”

LIN……LINDAAAA…..LINDAAAAAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku rasakan pejuhku menekan. Kupercepat kocokanku, serta Linda ikut mengencangkan otot memiawnya, mengharap supaya saya cepet muncrat.AAACCHHHHHHH………..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooottttt..jrrrroooooottttt…..tidak kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku.

Sangat banyak pejuh yang kusemprotkan ke rahim Linda, hingga dia tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, sampai berasa kepalaku speerti masuk liang ke-2.Ah….nyatanya tongkolku dapat tembus mulut rahimnya. Bermakna pejuhku langsung mendobrak rahimnya.Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Linda mendesah kembali. “Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Ndrew…” kata Linda.Sesudah beristirahat sesaat dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, dengan mendadak kucabu tongkolku.“Plllookkkkk….”

Kupandangi memiaw Linda yang masih tetap membengkak serta merah denganlubang menganga. Linda selekasnya merubah tempat duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh. Selekasnya saja jemari Linda mencapai serta mengorek bibir memiawnya, mengawasi supaya pejuhku tidak tumpah kesofa. Mengakibatkan, telapak tangan Linda belepotan penuh dengan pejuhku yang sudah bercampur lendir memiawnya.

Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Linda memakai jari tangan kirinya,mengorek memiawny untuk bersihkan memiawnya dari bekas pejuhku.“Brani kam telen kembali?” tantangku.“Idih…syapa takut….”Linda balas menantangku. “Nih simak ya….”Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Linda terlihat senang nikmati pejuh ditangannya.“Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda ketawa geli.“Tuh…masih ada bekasnya ditangan.

Mbelum bersih.” Sahutku.“Tenang, nDrew..bekasnya buat…ini.” Sekalian berkata demikian, Linda ambil beberapa pejuhku serta mengusapkannya diwajahnya.“Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Linda sekalian mengerling genit.“Astagaaaa….kamu tuch, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terperanjat.“Kenapa…? Kaget ya?”“Diem-diem, muka alim..tetapi jika masalah birahi liar ikut ya..”“Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang enak kok tidak diterima.”

”Tau begitu barusan saya semprot di uka kamu saja ya..” sesalku“Iya ikut sich..sebenernya saya ingin kamu semprot. Hanya saya dah tidak dapat ngomong lagi…nahan enak sich..lagian saya ingin merasakan semprotan pejuh kamu di memiawku.” Linda tersenyum“Eh, Ndrew…ssstttt…coba simak tuh…jailin yuk…..”ajak Linda
Ya ampuuunnnn…aku lupa jika aktivitasku tengah diamat Rika.

Selekasnya kulirik Rika, yang nyatanya tiada kami sadari tengah melakukan aktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok sapndexnya, yang mulai membasah. Kulihat lekukan cameltoenya makinbesar, semakin besar dari yang kulihat diruang tamu. Tanda-tanda jika Rika ikut sudah dirundung birahi.

Linda mencolek tanganku, rupanya dia ingin mengerjai Rika. Saya sepakat. Sekalian berjingkat, saya serta Linda mendekati Rika. Selekasnya tangan Linda yang masih tetap ada bekas pejuhku dioles-oleskan kemuka serta bibir Rika.“MMppphhhh…..fffggghhh…..” Rika langsung terperanjat serta hentikan aktivitasnya. “apaan nih…kok seperti berbau pejuh…?”“Udahlah Rik….saya tahu kamu ikut ikut-ikutan horny, ngeliat saya dientt sama mas Andrew.” Linda tersenyum-senyum genit.“AH…aku…eeehh….anuu….” Rika gelagapan kehabisan beberapa kata.“Rik…gkalo kamu ikut horny, tidak papah kok…aku masih tetap kuat.” Tantangku. “Tuh, kamu simak. Kon tolku masih tetap dapat bangun.”Ya, meskipun telah menyemprotkan amunisinya 2x permainan, kon tolku mash berdiri meskipun tidak sekeras waktu ngenttin Linda.

Malah saat ini kon tolku berdenyut serta mengangguk-angguk, seakan menyepakati usulku serta Linda.“Tuhhh, Rik. Kon tolku manggutmanggut.”sahutku.“Tapi kelak jika Indah pulang bagaimana?” bertanya Rika.“Don’t worry, honey. Jika memang kepergok, kelak saya membantu jelasin ke Indah.” Hibur Linda. “Soalnya, dulu-dulu saya sempat becandain Indah, bagaimana jika sesekali saya minjem tongkol suaminya.”“Trus, Indah katakan apakah?” Rika ingin tahu.“Mmmm.ia sich tidak katakan iya tetapi ikut tidak katakan tidak.”jawab Linda. “Dia hanya ngomong, ya jika kamu tidak malu sama Andrew, terserah kamu.

Tetapi jika Andrew ketagihan, kemungkinan tanggung sendiri lho. Begitu kata Indah.”“Oooo…..” Rika terlongong dengar keterangan Linda. Saya juga terperangah. Jadi……ternyata…..???? jangan-jangan mereka berdua memang menyengaja kesini…atas suruhan Indah….

Tidak pakai lama selekasnya kulumat bibir Rika yang mungil.“Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Rika mendesah….”Andrewww…puasin saya sayang……guyur saya dengan pejuhmu seperti Linda tadi….oooccchhhhh…..”Aku selalu melumat bibirnya..lehernya yang tahap serta mulus…kujilat juga telinganya yang membuat Rika merinding serta tersengal-sengal.

Nyatanya salah satunya titik rangsangannya adala teling.Linda menolong melepas spandex Rika.

Dan…oouuuwww…pantesan di selangkangan Rika tampak seperti terbelah. Rupanya ia menggunakan G-String yang segitiganya cuma dapat menutupi itilnya. Selebihnya…terlihat bibir me meknya telah membengkak kemerahan serta basah kuyup oleh lendirnya. Kulihat me mek Rika sama juga dengan Linda…bersih dari bulu jembut, hingga ha ini membuat kon tolku langsung tegak mengeras kembali.

Linda ikut menolong Rika melepas G-String, kaos serta Bhnya. Seakan Linda tidak ingin Rika disibukkan oleh kegiatan lainnya yang kurangi kesenangan bercinta.

“Ohhh…nDreeww,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Rika merintih-rintih sekalian mennggelengkan kepalanya waktu bibirku turun ke putingnya. Payudara Rika lebih kecil dari Linda, mungkin cuma 34B, dibanding punya Linda yang 36C.

Putingnya berwarna coklat muda, tegak keras mengacung, seakan menantangku untuk selekasnya melahapnya.

Dan…hap….kusedot putting kiri, sesaat tangan kananku meremas payudara samping kanan serta memilin putingnya.“Auuuccchhhh..Anddreewwww…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Rika berteriak meredam nikmat waktu jari tangan kiriku telusuri memiawnya.

Kumasukkan jari tengahku sekalian jempolku menggosok itil Rika yang begitu keras.“Rik…kon tol Andrew diusap dong…biar cepet keras…” tutur Linda. Selekasnya tiada diperintah 2x, Rika selekasnya mencapai kon tolku, menyeka serta mengocok bergantian.“Uffff…Rika sayaaanng…akhirnya kon tolku terkena kamu yaaa…”aku mendesah meredam nikmat.

Nyatanya Rika begitu trampil dalam soal kocok mengocok, hingga tidak butuh waktu lama kon tolku telah sekeras kayu kembali, mengkilat kemerahan.Tidak sabar selekasnya kubalikkan badan Rika, hingga tempatnya saat ini nungging didepanku. Lututnya bertopang pada sofa panjang, hingga punggungnya meliuk, meningkatkan sexy tempatnya waktu itu.

Dengan pantat membulat, terlihat bibir me mek Rika merekah merah serta berkilat licin oleh cairan birahinya. Tidak tahan, kuserbu me mek Rika, kujilat itilnya serta kukorek liangnya dengan jari-jariku.

“Arggghhh…Andrew….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnghhh….”Rika menjerit sekalian tersengal.

Napasnya mengincar.“Akk..kku…hammm..ppir sampai, honey…”Rika selalu mendesah.Ah…ternyata Rika tidak sanggupbertahan lebih lama kembali. Berasa sekali dibibirku, suhu me mek Rika semakin panas, serta lendir cintanya makin bertambah banyak mengalir.Selekasnya saja kuarahkan batang kon tolku yang menanti giliran, merojok me mek Rika.

“Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Andreeeewwww………”pantat Rika tersentak terima hunjaman kon tolku yang demikian tidak diduga.Sangat nikmat me mek Rika. Walau saling becek serta dapat berdenyut, saya rasakan sensasi lainnya dibanding me mek Linda.Lama-lama semakin berasa me mek Rika berdenyut-denyut.

Tidak ada nada yang keluar dari bibir Rika, terkecuali erangan serta rintihan. Kurasakan otot di sekitar pantat serta selangkangannya mengejang serta tiba-tia Rika mendesak pantatku sekalian melolong….

“OOOOUUUWWWWWW….ANDREEEEEEEWWWW…..UUUUUUUFFFFGGGGHHHHHH…..”Nafas Rika ketahan, serta kupercepat hunjaman kon tolku, seakan menggempur me mek Rika terus-menerus.

Ahh…..begitu hangat lendir birahi yang mengalir, bahkan juga sampai meleleh membasahi pahaku serta paha Rika.Rika masih menggoyang-goyangkan pantatnya, hingga membuatku semakin bernafsu mengecoh kon tolku saat me meknya yang becek akan tetapi sempit.

“C’mon honey…shot your sperm inside my mouth….,”Rika melihat serta menatapku dengan mata sayu seakan meminta supaya kusemprotkan spermaku dimulutnya.“Ohhhhh….aaaawwwgghhh….Rikaaaaa…me mek kamu kok ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh….,

”aku menceracau sekalian selalu memajumundurkan pantatku “Ngeliat pantat kamu yang bulet..ddaannn…putih…eeegghhhh….bikinnhh….aakkk…..kkkuuuu….pengennnnhhhh….ngecreettthhh…….aaarrrrggghhh….RIIIKKKAAAAAAAAAA……,”aku berteriak keras sekalian mencabut tongkolku.

Langsung Rika mencapai kon tolku, mengocoknya sekalian menyedot kepala serta batangnya.

“C’mon…ayo Ndrew…keluarin pejuhmu…..”“Aku ingin merasakan pejuh kamu….”Linda juga tidak tinggal diam. Dia berbaring telentang dibawahku serta menjilat perineumku, seakan tahu jika itu ialah daerah “mati”ku. Ya, saya sangat tidak tahan jika perineumku dijilat.AAAARRRGGGHHHH….LINDAAAAAA….hilang ingatan kamu….aaarrrghhhh…..nnnniiikk…mathhh..bangetttt…..”“Aku tidak tahan, Rikaaa…Lindaaa….sayangku cintaku…..”Dan…..crrroooooottt….crroooootttt…..“Haeeppphh…eeelllppphhhhh….hhhmmmppphhhhh…..”suara dari mulut Rika.

Terlihat ia gelagapan terima semburan spermaku, tidak kurang dari 5semburan kencang serta banyak…

“Aaaahhh…..ooouuffhh….auuww…ooouuww…udah Rik…udah…udah…jangan diisep teruss…gelllliiii…..”aku meringis kegelian sebab Rika tetep menyedot tongkolku, seakan tidak ikhlas jika pejuhku tidak keluar selesai. Seakan ingin nikmati pejuhku sampai tetes paling akhir.

“Hmmm…udah senang kamu Rik?” bertanya Linda sekalian bibirnya mengecap-ngecap pejuhku yang menetes ke mukanya.“Ahh…gila ikut si Andrew ya…”sahut Rika. “memiawku rasa-rasanya penuh sekali. Manakah kon tol ia panjang kembali.

Terasa mentok di rahimku sepertinya.”“Liang kamu tidak dalam sich Rik,” timpalku. “Tapi asik kok rasa-rasanya. Nyatanya memiaw kalian sama2 tidak dalam ya…”“Thanks sekali ya untuk kamu berdua, sudah ingin bantuin saya,”ucapku.“No masalah, dear Andrew,” sahut Rika serta Linda hampir bertepatan.“Gimanapun, kamu kan suami sahabatku, bisa dong jika sama-sama bantu…”sahut Rika.

Kami juga bercanda sesaat sebatas melepas capek. Serta sekalian masih bertelanjang, kupersilakan Rika serta Linda ke ruangan makan sekedar untuk minuman fresh. Kulirik, jam tunjukkan waktu jam 11.37 siang, tanda-tanda tidak lama kembali istriku serta anak-anak akan selekasnya hadir. Mereka berdua juga selekasnya bersihkan diri dari sisa-sisa lendir serta sperma yang membasahi me mek ataupun muka mereka. 


“Ok Ndrew…aku pamit dahulu ya…,”Rika pamit sekalian mengecup bibirku. “Daaa, sayang…”“Mmmuuaachh…,”Linda memagut bibirku lama, seakan tidak ingin kehilangan peristiwa yang begitu dahsyat. “Bye, Ndrew…,”Linda ikut berpamitan. “Salam buat Indah ya…tapi janganlah katakan lho, jika kamu habis bagi-bagi pejuh…xixixi..” Rika serta Linda cekikikan sekalian berjalan keluar.“Ok, hon…don’t worry…thanks ya…”sahutku sekalian melambaikan tangan serta mengantarkan mereka ke pagar.

Ah, begitu bahagianya saya, nyatanya dua teman dekat istriku tidak keberatan olah seks denganku, yang sampai kini cuma khayalanku, sekarang sudah jadi fakta.Thanks buat Rika serta Linda…kuharap kalian tidak bosen, sebab akupun tidak akan sempat jemu nikmati tubuhmu.

Selasa, 25 Desember 2018

Cerita Dewasa Titipan Berhadiah Khusus

Cerita Dewasa Titipan Berhadiah Khusus
Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.

Kamis, 16 Agustus 2018

Cerita Dewasa Ngentot Dengan Adik Kelasku dan Hampir Ketahuan Oleh Ibunya



Cerita Dewasa Ngentot Dengan Adik Kelasku dan Hampir Ketahuan Oleh Ibunya

Cerita Dewasa Kuambil Keperawanan Pembantuku Yang Polos Dari Desa

Cerita Dewasa Kuambil Keperawanan Pembantuku Yang Polos Dari Desa


Cerita Dewasa Kuambil Keperawanan Pembantuku Yang Polos Dari Desa – Kali ini saya akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku mengambil keperawanan pembantuku yang polos dari desa. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.

Pergaulan dikota yang membuatku menjadi liar hingga sampai-sampai aku bisa mengenal yang namanya berhubungan Sex. Berawal dari teman-temanku yang cerita tentang betapa nikmatnya melakukan hubungan Sex dengan seorang wanita, nikmatnya mencium memek perawan, nikmatnya penis dikulum sampai ngecrot, dan lain-lain masih banyak lagi teman-temanku bercerita kepadaku.

Namun selama ini aku hanya bisa melihat video porno saja dan melampiaskannya saja dikamar sambil mengocok penisku sendiri. Hingga akhirnya aku bisa merasakan benar apa yang dikatakan teman-temanku, kalau ngentot seorang gadis perawan itu sangat nikmat sekali.

Sebut saja bi minah, pembantu yang sudah tua dan sudah lama bekerja sebagai pembantu dirumahku. Bahkan bapak dan ibuku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Suatu ketika bi minah minta ijin kepada bapak dan ibuku untuk untuk pulang kedesanya, karena adiknya yang didesa sedang sakit dan bi minah harus merawatnya, jadi dia harus pulang. Namun bi minah tidak pulang begitu saja, sebelum bi minah pulang, bi minah menyuruh anak perempuannya untuk datang kerumahku untuk menggantikan pekerjaannya selagi bi minah pulang.

Anak bi minah ini masih sangat muda sekali, umurnya masih belasan tahun. Sebut saja namanya aryani, panggilannya yani. Meskipun dia berasal dari desa, namun dia memiliki kulitan seperti orang kota yang perawatan. Dia memiliki kulit putih bersih, serta badannya langsing bagus, aku dapat melihatnya kemolekan tubuh aryani dibalik baju desa yang dipakainya.

Setelah seminggu aryani tinggal dirumahku, aku semakin akrab dengannya karena pada saat itu aku sedang liburan sekolah, makanya aku sering dirumah, toh juga ada pemandangan yang enak dirumah. Kalau pekerjaan aryani sudah selesai semua kami sering ngobrol banyak ngalor ngidul kayak sudah kenal lama.

Hingga akhirnya suatu pagi bapak dan ibuku bilang kepadaku untuk jaga rumah karena bapak dan ibuku ingin pergi ketempat saudara dan pulangnya larut malam. Bapak dan ibuku juga berpesan kepada aryani untuk melayani semua yang aku inginkan karena kebiasaanku pada ibunya aryani juga begitu, aryani pun mengangguk ketika mendengar pesan dari ibuku. Aku pun sangat senang sekali, karena dengan aryani melayaniku aku akan bisa menggodanya dengan bebas, dan aku akan berusaha membuktikan apa benar yang dikatakan teman-temanku tentang nikmatnya berhubungan Sex.

Setelah ibuku pergi, aku langsung memanggil aryani.
“Yani, sini temenin aku ngobrol sambil aku makan, ” kataku ketika melihat Aryani melintas. “Kamu sekolah kelas berapa Yan ?

“SMP kelas 3, mas. Tapi tidak tahu tahun depan apa bisa melanjutkan ke SMA, ” katanya polos.
“Di kampung sudah punya pacar apa belum ? Atau apa malah sudah dilamar ? ” tanyaku lagi.
“Belum mas, sungguh !” jawab Aryani. “Kalau mas sendiri, pasti sudah punya pacar ya ?”
“Gadis kota mana mau sama aku, Ya ? ” kataku mulai mengeluarkan rayuan gombal. “Lagipula aku sukanya gadis yang masih polos seperti kamu. “
“Ah mas, bisa saja, ” katanya malu-malu, “Aku kan cuma anak seorang pembantu. “

“Yan, aku sudah selesai makan. Nanti setelah beres-beres kamu temenin aku ke ruang atas ya. Soalnya aku kesepian, bapak dan ibu baru pulang malam hari, ” kataku sambil bergegas naik ke lantai atas sambil mikir gimana ya bisa ngadalin si Aryani.

Kutunggu-tunggu Aryani tidak naik-naik ke lantai atas. Akhirnya dia datang juga, rupanya habis mandi, karena tercium wangi sabun luks. Segera kusuruh ia duduk menemaniku nonton VCD. Sengaja kuputar film pinjeman temanku yang biasanya kuputar kalau bapak/ ibu tidak di rumah. Kupilih yang tidak terlalu vulgar, supaya Aryani jangan sampai kaget melihatnya. Adegan yang ada paling cuma percintaan sampai di ranjang tanpa memperlihatkan dengan detail.

Rupanya adegan-adegan itu membuat Aryani terpengaruh juga, duduknya jadi tidak bisa diam. “Mas. sudah ya nontonnya, aku mau ke bawah, ” katanya.

“Tunggu dulu, Yan, aku mau ngomong, ” kataku yang telah dapat ide untuk menjeratnya, “Kamu takut tidak bisa melanjutkan sekolah apa karena biaya ? Kalau cuma itu, soal sepele, aku akan membantumu, asal …”

“Asal apa mas, ” katanya bersemangat.

“Asal kamu mau membantu aku juga, ” kataku sambil pindah ke dekatnya. Segera kuraih tangannya, kupeluk dan kucium bibirnya. Aryani sangat kaget dan segera berontak sambil menangis.

“Yani, kamu pikir aku akan memperkosamu ? ” kataku lembut. “Aku cuma mau supaya kamu bersedia menjadi pacarku. “

Ia membelalak tidak percaya. Sebelum ia sempat mengucapkan apa-apa kuserbu lagi, tapi kali dengan lebih lembut kukecup keningnya, lalu bibirnya. Kugigit telinganya, dan kuciumi lehernya. Aryani terengah-engah terbawa kenikmatan yang belum pernah dialami sebelumnya. Ingin rasanya segera kurebahkan dan kutiduri, tapi akal sehatku mengatakan jangan terburu-buru. Menikmati kopi panas harus ditiup-tiup dulu sebelum direguk. Kalau langsung bisa lidah terbakar dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa.

Perlahan-lahan dari menciumi lehernya aku turun ke bagian atas dadanya, dan kubuka kancing dasternya dari belakang tanpa setahunya. Tetapi ketika akan kuturnkan dasternya ia tersadar dan mau protes. Segera kubuka baju kaos t-shirt ku sambil mengatakan udara sangat panas. Ia tersipu melihat dadaku yang bidang, hasil rajin fitness.

“Yan kamu curang sudah lihat dadaku, sekarang biar impas aku juga mau lihat kamu punya dong. “

“Ah jangan mas, malu, ” katanya sambil memegang erat bagian depan dasternya.

“Bajunya doang yang dibuka, Yan. kalau malu behanya nggak usah, ” kataku sambil menyerbunya lagi dengan ciuman. Yani tergagap dan kurang siap dengan serbuanku sehingga aku berhasil membuka dasternya. Segera kuciumi bagian seputar payudaranya yang masih tertutup beha berwarna hitam.

“Aduh mas, mhm, enak sekali, ” katanya sambil menggelinjang. Tanganku pun bergerilya membuka pengait behanya.

Tetapi ketika kulepaskan ciumanku karena hendak membuka behanya ia kembali tersadar dan protes.
“lho mas janjinya behanya tidak dibuka”

Tanpa menjawab segera kuserbu payudaranya yang tidak besar tetapi sangat indah bentuknya, dengan puting yang kecil berwarna coklat muda. Kukulum payudara kanannya sambil kuemut-emut. Ia tidak dapat berkata-kata tetapi menjerit-jerit keenakan. Terdengar alunan suara erangan yang indah, ” mph, ehm, ahhh, ‘ dari bibirnya yang mungil. Jemariku segera mulai menjelajah selangkangannya yang masih tertutup celana dalam yang juga berwarna hitam. Rupanya hebat sekali rangsangan demi rangsangan yang Aryani terima sehingga mulai keluar cairan dari Memeknya yang membasahi celana dalamnya.

“Oh mas, oh mas, eemmmph, enak sekali, ” lenguhnya. Tanpa disadarinya jariku sudah menyelinap ke balik celana dalamnya dan mulai menari-nari di celah kewanitaannya. Jariku berhasil menyentuh klitorisnya dan terus kuputar-putar, membuatnya badannya gemetaran merasakan kenikmatan yang amat sangat. Sengaja tidak kucolok, karena itu bukan bagian jariku tetapi adik kecilku nanti.

“Ahhh !” jerit Aryani, dibarengi tubuhnya yang mengejang. Rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Tak lama tubuhnya melemas, setelah mengalami kenikmatan pertama kali dalam hidupnya. Ia terbaring di sofa dengan setengah telanjang, hanya sebuah celana dalam yang menutupi tubuhnya.

Segera aku berdiri dan melepaskan celana panjang serta celana dalamku, pikirku ia masih lemas, pasti tidak akan banyak protes.

“Lho mas, kok mas telanjang. Jangan mas, jangan sampai terlalu jauh, ” katanya sambil berusaha untuk duduk. “

“Yan, kamu itu curang sekali. Kamu sudah merasakan kenikmatan, aku belum. kamu sudah melihat seluruh tubuhku, aku cuma bagian atas saja, ” kataku sambil secepat kilat menarik celana dalamnya.

Cerita Dewasa
“Mas, jangan ! ” protesnya sambil mau mempertahankan celana dalamnya, tetapi ternyata kalah tangkas dengan kecepatan tanganku yang berhasil melolosi celana dalamnya dari kedua kakinya. Terlihatlah pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat langsung. Memeknya masih terkatup, dan baru ditumbuhi sedikit bulu-bulu jarang. Adik kecilku langsung membesar dan mengeras.

Segera kuciumi bibirnya kembali dan kulumat payudaranya. Aryani kembali terangsang. Lalu sambil kuciumi lehernya Kunaiki tubuhnya. Kubuka kedua kakinya dengan kedua kakiku, “mas, jangan, oh !” katanya. Tetapi tanpa memperdulikan protesnya kulumat bibirnya agar tidak dapat bersuara. Perlahan-lahan torpedoku mulai mencari sasarannya. Ah, ternyata susah sekali memasukkan burung peliaraanku ke sangkarnya yang baru. Bolak-balik meleset dari sasarannya. Aku tidak tahu pasti di mana letaknya sang lubang kenikmatan.

“Mas, jangan, aku masih perawan, ” protes Aryani ketika berhasil melepaskan bibirnya dari ciumanku.

“Jangan takut sayang, aku cuma gesek-gesek di luar saja, ” kataku ngegombal sambil memegang torpedo dan mengarahkannya ke celah yang sangat sempit.

Ketika tepat di depan gua kewanitaannya, kutempelkan dan kugesek-gesek sambil juga kuputar-putar di dinding luar Memeknya. “Mas, mas, mphm, oh, uenak sekali, ” katanya penuh kenikmatan. Kurasakan cairan pelumasnya mulai keluar kembali dan membasahi helmku.

Lalu mulai kepala helmku sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam Memeknya dengan menyodoknya perlahan-lahan, “Aw mas, sakit ! Tadi katanya tidak akan dimasukkan, ” protes Aryani, ketika kepala helmku mulai agak masuk. “Nggak kok, ini masih di luar. Udah nggak usah protes, nikmatin aja, Yan !” kataku setengah berbohong sambil terus bekerja.

Sempit sekali lubangnya si Yani, sehingga susah bagiku untuk memasukkan torpedoku seluruhnya. Wah kalau begini terus, jangan-jangan si otong sudah muntah duluan di luar, pikirku. Sambil sedikit demi sedikit memaju-mundurkan torpedoku, kugigiti telinganya dengan gigitan kecil-kecil. Tiba-tiba kugigit telinganya agak keras, Yani terpekik, “Aw !” Saat itu dengan sekuat tenagaku kusodok torpedoku yang berhasil tenggelam semuanya di Memeknya Aryani.

Gerakan pantatku semakin menggila memaju-mundurkan torpedoku di dalam Memek Aryani. Tetapi tidak kutarik sampai kelaut, takut susah lagi memasukkannya. Rupanya rasa sakit yang dialami Aryani tergantikan dengan rasa nikmat. Yang keluar dari bibir mungilnya hanyalah suara ah, uh, ah, uh setiap kali ku maju mundurkan torpedoku, menandakan ia sangat menikmati pengalaman baru ini.

Torpedoku semakin menegang. Keringat bercucuran dari tubuhku, Akupun mengalami kenikmatan yang selama ini hanya kuimpikan. Sekitar selangkanganku terasa ngilu. Rupanya aku sudah mendekati klimaks. Gerakan pantatku semakin cepat, terasa jepitan Memek perawan desa ini semakin kencang juga. Empuk sekali rasanya setiap kali torpedoku terbenam di dalamnya.

Baca Juga : Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi

Terasa hampir meledak torpedoku, siap memuntahkan lahar panasnya ke dalam surga kenikmatan Aryani. Dengan sekuat tenaga kubenamkan torpedoku sedalam-dalamnya dan croooot, croooot, crooot ! Air maniku muncrat ke dalam rahim Aryani, Terdengar lenguhan panjang dari bibir mungil Aryani. Rupanya kami mencapai orgasme bersamaan. Tubuhkupun jatuh terbaring di atas tubuhnya penuh dengan kenikmatan. Kami berdua terbaring tak berdaya.

Tubuh lemas, tetapi masih terasa kenikmatan yang sampai ke ubun-bubun.

Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi

Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi


Cerita Dewasa Kunikmati Keperawanan Cewekku Dirumahnya Yang Sepi – Kali ini saya akan menceritakan Cerita Sex ketika diriku menikmati keperawanan Cewekku saat sedang menginap dirumahnya yang sepi. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini.

Namaku Denny, aku seorang teknisi computer. Beberapa bulan yang lalu aku kenalan dengan seorang cewek yang bernama Cindy. Dia, seorang gadis yang sangat cantik, tinggi, berkulit putih mulus dan berambut panjang. Dia tinggal di Pondok Indah, aku ketemu dengannya dalam suatu party di rumah temanku.

Dia sebetulnya masih akan mencuti studinya di Melbourne, pada saat itu dia sedang liburan, jadi ia pulang ke Jakarta untuk beberapa bulan saja. Dia anak orang kaya, kamu bayangin saja, dia sekolah di Melbourne dan rumah di PI. Orang tuanya seorang ekspotir kelas menengah.

Aku sebetulnya agak minder juga kenalan dengannya, Kamu bayangkan saja, mana ada sih orang tua yang sudah mati-matian sekolahkan anaknya di luar negeri terus akhirnya cuma jatuh di pelukan teknisi computer. Dia sebetulnya tidak sombong, dia mau mengerti tentangku, dan sebulan yang lalu dia telah resmi jadi pacarku.

Hubunganku dengannya sebetulnya tidak diketahui oleh orang tuanya. Jadi backstreet nih ceritanya. Aku sebetulnya cinta mati kepadanya, anaknya cantik, pandai gaul dan tidak sombong. Suatu malam dia menelponku, dia minta di temani karena rumahnya kosong (kedua orang tuanya ke luar kota), kebetulan malam itu aku juga sedang suntuk banget memikirkan masa depanku.

Malam itu juga tanpa ba.., bi.., bu lagi langsung aku pergi ke rumahnya di PI. Setelah aku sampai di rumahnya, ternyata benar, tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya. Sebetulnya aku curiga juga, kok rumah segitu besarnya masa sih tak ada pembantu atau penjaga seorangpun.

Ah peduli amat pikirku, yang penting malam ini, aku bisa berduaan dengannya. Malam itu dia kelihatan anggun banget, dia memakai terusan tipis dari sutra sehingga setiap lekuk tubuhnya yang indah dapat terlihat dengan jelas. Oh my God, apakah aku mimpi dan ketemu dengan bidadari? Ternyata malam itu sungguh terjadi, dia nyata di depanku dan aku tertegun sejenak menyaksikan karya Tuhan yang sungguh Indah.

Cerita Dewasa
Malam itu aku diajak untuk menginap di rumahnya, tentu saja tidak kutolak. Eh Malam itu juga dia mengajak tidur bersama, wah berani betul nih cewek, apa tidak takut aku makan? Malam semakin larut dan udara dingin mencekam, dia sudah mau tidur dan akhirnya akupun menemaninya tidur.

Wah, ternyata betul-betul gila nih cewek, ternyata dia tidak memakai apa-apa lagi selain terusan sutra warna perak itu, ketika dia naik ke tempat tidur, terlihat jelas puting susunya yang berwarna kemerahan. Ketika kita sudah ada di ranjang, dia bilang bahwa sebetulnya dia tidak lama lagi akan kembali ke Aussie untuk meneruskan studinya makanya malam ini dia ingin melepas rindu kepadaku.

Setan juga nih anak, mana ada sih lelaki yang begitu bodoh menolak kalau ada seorang gadis cantik yang secara halus meminta untuk di cumbu, begitu juga aku, langsung saja kukecup bibirnya yang mungil lalu kuhirup air liurnya, dia tampak kesulitan bernafas. Setelah aksi cium-ciuman, kuhisap lehernya yang jenjang sampai menimbulkan cupang/tanda kemerahan dan diapun sepertinya sangat menikmati cumbuanku.

Waktu terus berputar, aku sekarang telah membuka terusan yang dipakainya dan payudaranya yang sangat ranum telah tersaji dan siap untuk di hisap, ketika puting susunya kuhisap-hisap, dia merintih-rintih tanda kenikmatan. Puting susunya aku hisap secara bergantian, kiri dan kanan, dan kadang-kadang aku remas-remas sampai dia menjerit.

Setelah puas memainkan payudaranya, aku lalu mulai menjilati pusar dan terus kurentangkan kakinya sehingga liang kewanitaannya merekah. Bulu kemaluannya jarang-jarang sehingga bibir kemaluannya kelihatan jelas masih indah seperti perawan. Sebetulnya aku baru kali ini melihat kemaluan wanita secara langsung, apalagi kemaluan seorang perawan.

Begitu kurentangkan kakinya, liang kewanitaannya merekah berwarna merah muda dan bagian dalamnya kelihatan ada segumpal daging yang biasa di sebut clitoris. aku nafsu banget, langsung saja kujilati liang kewanitaannya dan kugigit clitorisnya, dia menjerit sambil menekan kepalaku sehingga mulutku jadi rapat sekali dengan bibir kemaluannya.

Tak lama setelah itu, dia kejang-kejang sambil merintih, terus ada cairan bening kental mengalir dari liang kewanitaannya, baunya sedikit amis tapi tanpa pikir panjang langsung saja kujilat dan telan, ternyata dia telah orgasme. aku tidak jijik karena aku tahu bahwa dia masih perawan, jadi belum pernah di tusuk oleh orang lain sehingga masih bersih.
Setelah dia orgasme, tampaknya dia lemas tak berdaya, terus langsung saja kubuka celanaku biar barangku yang dari tadi sudah tegang bebas. Tanpa meminta ijin darinya, langsung kutusukkan penisku ke liang senggamanya. Wah susah juga, liang senggamanya masih sempit, sehingga penisku harus kutekan kuat-kuat sehingga bisa masuk secara perlahan-lahan.

Ketika penisku mulai masuk, dia sepertinya senang sekali dan kelihatan seperti sangat menikmati permainan ini sehingga aku termotivasi lagi untuk memaju-mundurkan penisku. Akh nikmat sekali, penisku seperti di pijat-pijat, gerakan maju-mudur yang kulakukan main lama makin cepat sehingga dia terhentak-hentak diatas ranjang.

Permainan itu aku lakukan sekitar lima belas menit, lalu dia bilang bahwa dia mau keluar, lalu dia memeluk tubuhku erat sekali terus teriak kecil sambil mengendurkan pelukannya, oh terasa banget, liang kewanitaannya banjir lagi. Selang waktu satu menit, ketika aku mau keluar, kutekan penisku dengan sangat kuat ke liang senggamanya sehingga air maniku keluar di dalam liang kewanitaannya.

Setelah sama-sama mencapai orgasme, lalu kutarik penisku dan kusodorkan ke mulutnya, ternyata dia langsung menjilati batang penisku. Oh nikmat, dia jilati sampai bersih. Setelah itu saya pun balas menjilati bibir kemaluannya sampai bersih.

Tak terasa waktu telah menunjukkan jam delapan pagi ketika aku bangun dari tidur, di garasi sepertinya ada bunyi mesin mobil, eh ternyata orang tuanya telah pulang, terus buru-buru aku pakai baju dan celanaku, aku lalu bangunkan si Cindy, dan diapun terjaga dan kaget bahwa orang tuanya sudah pulang.

Baca Juga : Pengalaman Sex Menjadi Hadiah Dari Suami Yang Begitu Terkesan

Aku sepertinya sudah tertangkap basah, motorku sudah kelihatan sama orang tuanya. Yah aku sudah pasrah, mau diapain juga aku terima saja. Eh sialan ternyata si Cindy malahan membela diri dan bilang bahwa dia diperkosa olehku, kontan saja mamanya pingsan lalu papanya menelepon polisi, yah terus aku di penjara dan di hukum selama dua tahun potong masa tahanan.
Sekarang aku hati-hati banget sama cewek, tidak mau melakukan kesalahan lagi.

Rabu, 15 Agustus 2018

Pengalaman Sex Menjadi Hadiah Dari Suami Yang Begitu Terkesan

Pengalaman Sex Menjadi Hadiah Dari Suami Yang Begitu Terkesan

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Montok Di Tengah Hujan

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Montok Di Tengah Hujan


Cerita Dewasa Bercinta Dengan Ibu Guru Montok Di Tengah Hujan – Kesempatan ini saya akan bercerita Cerita Seks saat seseorang ibu guru montok bercinta dengan guru berolahraga di dalam hujan yang sejuk. Ingin tahu lanjutan ceritanya? Langsung saja yuk baca serta baca baik-baik cerita ini.

Seseorang wanita dengan jilbab hijau lumut terlihat berjalan tergesa-gesa menuju ruangan guru, belahan rok yang cukuplah sempit memaksa wanita itu mengayun langkah kecil nan cepat. Akan tetapi waktu dianya datang diruangan yang dituju, dari sana cuma didapatinya Bu Nita yang repot mengoreksi hasil ujian harian beberapa siswa.

“Bu.. apakah Pak Rivan telah pulang?”

“Mungkin telah,” jawab Bu Nita, melihat Reyna dengan muka penuh berprasangka buruk, setau Bu Nita jalinan pada Reyna serta Rivan memang tidak sempat akur, walau saling guru muda, pemikiran Reyna serta Rivan tetap bersebrangan. Reyna yang idealis serta Rivan yang liberal.

“Memangnya ada apakah Bu?” lanjut wanita itu, ingin tahu.
“Oh… tidak.. cuma ada butuh banyak hal,” elak Reyna.
“Apa itu mengenai mengajukan kenaikan pangkat serta kelompok?” lebih Nita yang malah makin ingin tahu.
“Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” kata Reyna bergegas pamit.

“Semoga saja SMS itu hanya canda,” katanya penuh berharap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang memandang liar badan semampai dibalut kostum hijau lumut ciri khas PNS, ketat membalut tubuhnya.

Mobil Avanza, Reyna, membelah jalan pinggir kota bertambah cepat dari umumnya. Hatinya belum juga tenang, pikirannya selalu terpaku pada SMS yang diantar Rivan, walau sebenarnya lelaki itu cuma memohon tolong untuk membantunya membuat kriteria mengajukan pangkat, tetapi perasaan permusuhan demikian lekat dihatinya.

Jantung Reyna makin berdebar waktu mobilnya masuk halaman rumah, disana sudah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu tentu motor Rivan,” bisik hati Reyna. Di kursi teras pojok mata wanita muda itu tangkap figur seseorang lelaki, asyik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” kata Reyna dengan suara nada tidak senang.

Rivan membalas dengan tersenyum.

“Masuklah, tetapi ingat suamiku tidak ada di rumah, menjadi sesudah semua tuntas kamu langsung bisa pulang,” kata Reyna ketus, tinggalkan lelaki itu diruang tamu.

Bekerja sepanjang hari disekolah memaksa Reyna untuk mandi, waktu pilih pakaian, wanita itu dibikin bingung mesti kenakan pakaian seperti apakah, apa cukuplah daster rumahan atau mungkin pilih baju yang lebih resmi.

“Apa yang ada diotak mu, Rey?!.. Dia merupakan musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Reyna, melempar gaun ditangannya ke sisi bawah almari.

Lantas ambil daster putih tanpa motif. Tetapi sayangnya daster berbahan katun yang lembut itu sangat ketat serta sukses cetak liuk tubuhnya dengan prima, menunjukkan bongkahan payudara yang menggantung merayu.

Reyna kembali dibikin bingung waktu pilih penutup kepala, apa dianya harus tetap kenakan kain itu atau mungkin tidak, toh ini merupakan tempat tinggalnya. Akan tetapi tidak urung tangannya masih ambil kain putih dengan motif renda yang membuatnya tampak makin anggun, badan indah dalam balutan serba putih yang menarik.

Jam dinding telah tunjukkan jam 5 petang serta untuk yang ke-2 kalinya Reyna menyiapkan teh untuk Rivan. Sesaat lelaki itu masih tetap tampak serius dengan laptop serta berkas-berkas yang perlu disediakan, kadang-kadang Reyna memberi arahan.

Tanpa sadar mata Reyna memerhatikan muka Rivan yang memang menarik. “Sebenarnya cowok ini rajin serta baik, tetapi mengapa seringkali sekali sikapnya membuatku emosi,” gumam Reyna, ingat permusuhannya dilingkungan sekolah.

Pemuda yang mempunyai selisih usia empat tahun lebih muda dari dianya. Sikap keras Reyna menjadi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Rivan yang sering membela murid-murid yang lakukan pelanggaran disiplin.

“Tidak perlu tergesa-gesa, minum dahulu teh mu, apalagi di luar tengah hujan,” tegur Reyna yang punya niat untuk berlaku lebih ramah.
“Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku tentu menungguku untuk makan malam,” umpat Rivan.

Reyna ketawa geli dengar pembicaraan Rivan, “makan malam bersama dengan ibumu? Tetapi kamu tidak tampak seperti seseorang anak mami,” celetuk Reyna usil, membuat Rivan turut ketawa, akan tetapi tangannya selalu berjalan seolah tidak tergoda untuk melayani ejekan Reyna.

“Bereeesss..” kata Rivan tidak diduga mencengangkan Reyna yang asyik membalas BBM dari suaminya.
“Jadi apakah saya mesti pulang saat ini?” bertanya Rivan, mukanya tersenyum kecut waktu merasakan hujan di luar masih tetap sangat lebat.

“Di garasi ada jas hujan, tetapi jika kamu ingin menanti hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Reyna yang meyakini motor Rivan mustahil menaruh jas hujan.
“Aku pilih berteduh saja, sekalian temani bu guru cantik yang tengah kesepian, hehehe…”
“Sialan, sesaat lagi suamiku pulang lhoo,”

Sekejap sesudah kata itu terucap, Blackberry ditangan Reyna terima panggilan masuk dari suaminya, tetapi sayangnya suaminya malah memberikan berita jika dianya terlambat sedikit untuk pulang, dengan muka cemberut Reyna tutup panggilan.

“Ada apakah, Rey..”
“Gara-gara kamu suamiku terlambat pulang,”

“Lhoo, mengapa dikarenakan saya? Hahaha…” Rivan ketawa penuh kemenangan, dengan gregetan Reyna melempar bantal sofa. Percakapan kembali berlanjut, akan tetapi semakin banyak bergelut pada dinamika kehidupan disekolah serta hal tersebut cukuplah sukses mencairkan situasi.

Reyna seolah lihat figur Rivan yang lainnya, lebih supel, lebih berteman serta lebih humoris. Jauh berlainan dari kacamatanya sampai kini yang lihat guru cowok itu seperti perusuh buat dianya, menjadi penegak disiplin beberapa siswa.

“Aku heran, mengapa kamu malah mendekati anak-anak seperti Junot serta Darko, ke-2 anak itu tidak lagi bisa ditata serta telah masuk dalam daftar merah guru BK,” bertanya Reyna yang mulai tampak enjoy. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, tentu anak itu telah di keluarkan dari sekolah,” sambungnya.

“Yaa, saya tau, tetapi penjelajahan mereka itu sengit lho, dari mulai nongkrong di Mangga Besar sampai ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru ada juga lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu betul-betul perbuatan amoral,” Reyna sampai meloncat dari duduknya, beralih ke samping Rivan.

“Tapi nantikan, tidakkah itu berarti kamu mensupport kenakalan mereka, serta siapa guru yang mereka intip?” bertanya Reyna dengan kuatir, takut dianya jadi korban kenakalan ke-2 siswa nya.
“Sebanarnya mereka anak yang cerdas serta kreatif, bay
angkan saja, cukup dengan pipa ledeng serta cermin mereka dapat membuat periskop yang biasa dipakai oleh kapal selam,” kata Rivan serius, memutar tubuhnya bertemu dengan Reyna yang ingin tahu.

“Awalnya mereka hanya melihat beberapa siswi tetapi bagiku itu tidak menarik, karenanya saya membawa mereka melihat di toilet guru, apakah kamu tau siapa yang kami intip?”

Muka Reyna menegang, menggeleng secara cepat. “Siapa?,,,”

“kami melihat guru sangat cantik disekolah, Ibu Reyna Raihani!”
“Apa? gilaaa kamu Van, kurang ajar,” Reyna terkaget serta langsung menyerang Rivan dengan bantal sofa.
“ampuun Reeeey, Hahahaa,,”
“Sebenarnya kamu ini guru ataulah bukan sich? Memberikan contoh mesum ke murid-murid, besok saya akan memberikan laporan mu ke kepala sekolah,” semprot Reyna penuh emosi.

Rivan berupaya meredam serangan dengan mencekal lengan Reyna.

“Hahahaa, saya bohong koq, saya malah mengerjai mereka, saya tau yang tengah ada di toilet merupakan Pak Tigor serta apakah kamu tau dampaknya? Mereka langsung shock lihat batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Reyna pada akhirnya turut ketawa, tanpa sadar bila lengannya masih tetap digenggam oleh Rivan.

“Tu kan, kamu itu sebetulnya lebih cantik bila tengah ketawa, menjadi janganlah disembunyikan di balik muka galakmu,” kata Rivan yang nikmati tawa renyah Reyna yang menunjukkan gigi gingsulnya. Saat itu juga Reyna terdiam, mukanya makin malu waktu mengerti tangan Rivan masih tetap menggenggam ke-2 tangannya.

Tetapi tidak berselang lama bentakan dari bibir minimnya kembali terdengar, “Hey!.. Jika miliki mata dijaga ya,” umpat Reyna karena jelajah mata Rivan yang menyatroni gundukan payudara di balik gaun ketat yang tidak tertutup oleh jilbab, Reyna beranjak serta duduk menjauh, membereskan jilbabnya.

“Punyamu besar juga ya,” balas Rivan, tidak perduli akan peringatan Reyna sebagai makin jengkel lantas kembali melempar bantalan sofa. “Ga perlu sok takjub begitu, lagian kamu tentu seringkali melihat payudara siswi disekolah?,,”

“Tapi punyamu istimewa, punya seseorang guru paling cantik disekolah,”

“Sialan..” dengus Reyna membereskan jilbabnya, tetapi pojok bibirnya malah tersenyum, karena tidak ada wanita yang tidak senang jika dipuji. Muka Reyna memerah , kalimat Rivan demikian vulgar seolah itu merupakan hal yang biasa.

“Rey… simak dong,”

“Heh? Kamu ingin simak payudaraku , gilaa… Benda ini seutuhnya jadi hak punya suamiku,” Wanita itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terikut karakter Rivan yang cuek.
“Ayo dooong, ingin tahu banget nih,”
“Nanti, jika saya masuk kamar mandi intipin saja pakai piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Reyna ketawa terpingkal tutup mukanya, tidak yakin dengan apakah yang barusan diucapkannya.

“Yaaa, sangat ngga janganlah ditutupin jilbab keq,” sungut Rivan, keqi atas tingkah Reyna yang menertawakannya.
“Hihihi… Simak saja ya, janganlah dipegang,” Kata guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lantas mengikat jilbabnya kebelakang.
“Kurang..”

“Apalagi? Bugil?” matanya melotot seakan-akan tengah geram, tapi jantungnya malah berdebar kencang, melawan hatinya sejauh manakah keberanian dianya.
“satu kancing saja,”
“Dasar guru mesum,” Reyna lagi-lagi memeletkan lidahnya lantas kembali menolehkan mukanya ke TV, akan tetapi tangannya berjalan melepas kancing atas.

Tetapi tidak berhenti sampai disana, karena tangannya selalu berjalan melepas kancing ke-2 lantas mengungkap ke-2 sisinya sampai makin terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu jadi makanan ingin tahu mata Rivan. Tidak tahu apakah yang membuat Reyna seberani itu, untuk kali pertamanya dengan menyengaja merayu lelaki lainnya dengan badan nya.

“Punyamu tentu lebih kencang di banding punya Anita,” sambung Rivan, matanya selalu terpaku ke dada Reyna sekalian mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seakan menerawang berapa besar daging empuk yang dipunyai wanita cantik itu. Tetapi beberapa kata Rivan malah membuat Reyna kaget, bingung sekaligus juga ingin tahu. “Hhmmm.. Ada jalinan apakah pada dirimu serta Bu Nita?”

“Tidak ada, saya cuma temani wanita itu, temani malam-malamnya yang sepi,”
“Gilaaa.. Apakah kamu… eeeenghhh,,,”

“Maksudmu saya selingkuhan Bu Anita kan? Hahaha…” Rivan memotong kalimat Reyna sesudah tau tujuan kalimat yang susah disampaikan wanita itu. “Bisa disebutkan semacam itu, hehehe.. Tetapi kami telah mengakhirinya pas satu minggu waktu lalu,”

“Kenapa?” sambar Reyna yang tidak diduga ingin tahu atas rumor skandal yang memang sudah menebar dikalangan beberapa guru mesum. Rivan menghela nafas lantas menumpukan tubuhnya. “Suaminya berprasangka buruk dengan jalinan kami, walau Anita menampik untuk akhiri saya harus tetap memutuskan itu, resikonya sangat besar,”

“Apa kamu menyukai Bu Anita?”

Rivan tidak langsung menjawab tetapi malah ambil rokok dari kantongnya, sesudah tiga jam lebih meredam diri tidak untuk mengisap lintingan tembakau dikantongnya, pada akhirnya lelaki itu memohon izin, “Boleh saya merokok?”

“Silahkan..” jawab Reyna cepat.

“Aku tidak tau tentu, Anita wanita yang cantik, tetapi dia bukan wanita yang kuidamkan,” papar lelaki itu sesudah hembuskan asap pekat dari bibirnya. Tetapi muka wanita didepannya masih tetap tunjukkan perasaan ingin tahu, “lalu apa yang terjadi pada dirimu serta Anita?” cecarnya.

“Hahahaha.. Maksudmu apa yang telah kami kerjakan?”

Muka Reyna memerah karena malu, Rivan dengan telak membuka kekakuannya menjadi seseorang wanita dewasa. “Anita merupakan wanita bersuami, berarti kau tidak memiliki hak untuk menjamah tubuhnya,” kata Reyna berupaya membela keluguan berfikirnya.

Rivan tersenyum kecut, mengaku kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapakah kali kami mengerjakannya, dari mulai dirumahku, dirumahnya, bahkan juga kami sempat lakukan diruang lab kimia, desah suaranya menjadi wanita yang kesepian betul-betul merayu diriku, rindu pada masa-masa saya menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”

Saat itu juga muka Reyna merasa panas memikirkan penjelajahan, Anita, “Kenapa kamu tidak menikah saja?” bertanya Reyna berupaya menetralisir debar jantungnya. “Belum ada yang pas,” jawab Rivan dengan sederhana, membuat Reyna menggeleng-gelengkan kepala, wanita itu ambil teh dimeja serta meminumnya.
“Rey.. selingkuhan sama saya yuk..”

Brruuuuuffftttt…
Bibir tipis Reyna saat itu juga menghambur air teh dimulutnya.

“Dasar guru mesum,” umpat Reyna buang mukanya, yang tampilkan ekspresi tidak bisa dibaca, kejendela yang masih tetap mempertontonkan rinai hujan yang malah turun makin deras.

“Aku masak dahulu, lapar nih,” kata Reyna, beranjak dari sofa berupaya menghindar dari tatapan Rivan yang demikian serius, jantungnya berdegub keras masih tetap tidak yakin dengan apakah yang disampaikan Rivan.

“Rey…” Panggilan Rivan hentikan langkah wanita itu.
“Kenapa wajahmu menjadi pucat demikian, tak perlu takut saya hanya bercanda koq,” tutur lelaki itu sekalian terkekeh.
“Siaaal, ni cowok sukses mengerjai saya,” umpat hati Reyna.

“Aku tau koq, kamu mustahil mempunyai nyali untuk merayu guru super galak seperti saya,” katanya sekalian memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum waktu Rivan ikuti ke dapur. Hatinya coba berapologi, sekurang-kurangnya lelaki itu bisa menemaninya waktu memasak.

Reyna dengan bangga menunjukkan kepiawaiannya menjadi seseorang wanita, tangannya berjalan cepat mempersiapkan serta memotong bumbu yang dibutuhkan, sesaat Rivan duduk dikursi meja makan serta kembali berceloteh mengenai kenakalan serta kegenitan beberapa siswi disekolah yang seringkali merayu dianya menjadi guru mesum jomblo tampan.

“Awas saja jika kamu sampai berani menyentuh siswi disekolah,” Reyna memperingatkan Rivan sekalian mengacungkan pisau ditangan, serta itu membuat Rivan ketawa terpingkal.
“Ckckckck, mahir juga tangan mu Rey,” Rivan mengkomentari kecepatan tangan Reyna waktu memotong bawang bombay.
“Hahaha… mari sini saya ajarin..” tawar Reyna tanpa hentikan laganya.

Tetapi Reyna terperanjat saat Rivan memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, karena tangannya menggantikan pisau serta bawang yang ada ditangannya. “Ajari saya ya..” bisik Rivan lembut pas ditelinganya.

Kepala wanita itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya tampak sangsi waktu menyentuh serta menggenggam tangan Rivan yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan-lahan pisau berjalan membelah daging bawang.

“tangan mu sangat kaku, Hahahaa,”
“Ya maaf, tanganku memang tidak terbiasa lakukan ini, tetapi begitu terbiasa untuk pekerjaan yang lain.”
“Oh ya? Misalnya seperti apakah? Membuat periskop untuk melihat siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”

“Bukan, tetapi tanganku begitu trampil untuk memanjakan wanita cantik seperti mu,” kata lelaki itu, melepas pisau serta bawang, berpindah menyeka perut Reyna yang datar serta perlahan-lahan merambat menuju payudara yang membusung.

“Hahaha, tidaak tidaaak, saya bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Reyna berupaya meredam tangan Rivan.
“Rey, bila demikian jadilah rekan yang mesra untuk diriku, serta biarlah temanmu ini sekejap mengangumi tubuhmu, jika tanganku sangat nakal kamu dapat menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”

Badan Reyna gemetar, lantas mengangguk dengan perlahan, “Ya, Deaaal.” kata bibir minimnya, serak. Reyna kembali mencapai pisau serta bawang serta membiarkan tangan kekar Rivan dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya dengan utuh. Memberi remasan yang lembut, mainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.

Mata Reyna terpejam, kepalanya terangkat bersamaan cumbuan Rivan yang perlahan-lahan menyerobot keleher yang masih tetap terbalut jilbab. Romansa yang di tawarkan Rivan secara cepat menggantikan kewarasan Reyna.

“Owwhhhh,” bibir Reyna mendesah, kakinya seolah kehilangan tenaga waktu jari-jari Rivan sukses temukan puting payudara yang mengeras.
“Rivaaaan,” kata wanita itu sekejap sebelum bibirnya menyongsong lumatan bibir yang panas.

Membiarkan lelaki itu nikmati serta bercanda dengan lidahnya, menari serta membelit lidahnya yang masih tetap berupaya menghindar. “Eeeemmhhh…” mukanya terkaget, Rivan dalam hisapan yang lembut membuat lidah nya beralih masuk menelusuri mulut lelaki itu serta rasakan kehangatan yang di tawarkan.

Menggelinjang waktu lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Bila Reyna menduga permainan ini hanya permainan pertautan lidah, karena itu wanita itu salah besar, karena jemari dari lelaki yang sekarang memeluknya penuh keinginan itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.

“Boleh?”

Wanita berbalut jilbab itu tidak berani menjawab, cuma pejamkan matanya serta menanti keberanian silelaki untuk nikmati tubuhnya. Demikian juga waktu tangan Rivan berupaya menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung melawan dari bra yang membekap.

“Oooowwwhh, eemmppphhh,” badan Reyna mengejang saat itu juga, tangan lentiknya tidak dapat mengusir tangan Rivan, cuma mencengkram supaya jemari lelaki itu tidak berjalan sangat gesit memelintir puting mungilnya.

“Rey.. Mengapa kamu dapat sepasrah ini?.. Apakah benar kamu suka pada lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan hanya persahabatan Rey.. Walau kau tidak mengerti saya dapat rasakan bibit perasaan senang dihatimu akan lelaki itu, Rey…” hati kecil Reyna coba menyadarkan. Tetapi wanita itu malah berupaya mengingkari penghianatan cinta yang dilakoninya, berupaya mengenyahkan bisikan hati dengan pejamkan matanya lebih erat.

Mukanya mendongak ke langit rumah, berupaya lari dari batinnya yang berteriak berikan teguran. Pasrah menanti dengan hati berdebar waktu tangan Rivan mulai mengusung dasternya keatas serta dengan tentu menyelusup kebalik kain kecil, menyisipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.

“Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berupaya buka kaki lebih lebar seolah membebaskan jari-jari Rivan bermain dengan klitorisnya.

Kurihiiiing…
Kurihiiiing…

Dering HP mencengangkan kedua-duanya, membuat pergumulan birahi itu lepas. Kesadaran Reyna menggantikan saat itu juga, dianya makin shock lihat nama yang tercantum dilayar HP, ‘Mas Anggara’.

“Hallo mas, halloo,,” sambut Reyna di antara upayanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.
“Mas tengah di mana, mengapa belumlah pulang?” kata Reyna kalut dengan perasaan takut serta bersalah yang demikian besar, seakan suaminya sekarang berdiri pas didepannya.
“Mas masih tetap di rumah sakit, mungkin saja tidak dapat pulang malam hari ini,” jawab nada besar diujung telpon.
“Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”

Sesudah mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Reyna berdiri bertumpu dimeja, menghela nafas panjang lantas meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang merasa begitu kering.

“Rivan, terima kasih untuk semua, tetapi kau dapat pulang saat ini,”
“Tidak Rey, kita mesti merampungkan apakah yang telah kita mulai,”

“Apa maksudmu?… Tidak.. Saya bukan seperti Anita yang kesepian, saya tidak mempunyai permasalahan apa pun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki sekarang ini merupakan keluarga yang memang kuidamkan…” muka Reyna jadi pucat waktu Rivan mendekat melekat ketubuhnya, mengusung dasternya tambah tinggi, memeluk serta meremas pantat yang padat berisi.

“Rivan, ingat!.. Kamu seseorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya badan lelaki itu, tetapi dekapan tangan Rivan sangat erat.
“Yaa.. Saya memanglah bukan pemerkosa, saya cuma ingin merampungkan apakah yang telah kita mulai,”
“Gila kamu Rivan, saya merupakan istri yang setia, tidak seperti wanita-wanita yang sempat kau tiduri ”
“Ohh ya?,,” Rivan tersenyum sekalian turunkan celananya serta menunjukkan batang yang sudah mengeras, batang besar yang membuat Reyna terhenyak.

Tidak diduga dengan kasar Rivan mencengkram badan Reyna serta mendudukkan wanita itu di atas meja, dengan pergerakan yang cepat mengungkap celana dalam Reyna, batang besar itu sudah ada dimuka bibir senggama Reyna.

“Jangan Rivaaan, saya dapat melakukan perbuatan nekat,” Reyna mulai menangis ketakutan, mencapai garpu yang ada disebelahnya, meneror Rivan.
“Kenapa ambil garpu, tidakkah disana ada pisau?” Rivan terkekeh, muka tadi dihias senyum menghanyutkan sekarang beralih demikian menakutkan.
“Aaaaaaaaaaaggghh…” Rivan berteriak kesakitan waktu Reyna menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.

Lelaki itu menghalau tangan Reyna, merampas garpu serta melemparnya jauh, darah tampak merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin akhiri ini semestinya kau tusuk pas di ulu hatiku,” katanya dengan muka menyeringai sekaligus juga meredam sakit.

“Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Reyna sukses berontak menggerakkan badan besar Rivan lantas lari mengarah kamar, tetapi belum wanita itu tutup kamar Rivan meredam dengan tangannya.

“Aaaaagghh…” Rivan mengeluh kesakitan karena tangannya yang terjepit daun pintu, lantas dengan kasar menggerakkan sampai membuat Reyna terjengkal.
“Dengar Rey.. Telah lama saya suka pada mu, serta saya berupaya menarik perhatianmu dengan menentang tiap-tiap kebijakan mu,”

Dengan kasar Rivan menggerakkan wanita itu kelantai serta menanggalkan bajunya, Reyna berteriak memohon tolong sambil menjaga kain yang tersisa, tetapi derasnya hujan mengubur upayanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi badan Reyna yang terbaring tidak berkapasitas, menunjukkan batang besar yang mengeras prima, kejantanan yang pasti semakin besar dari punya suaminya.

Wanita itu menangis waktu Rivan dengan kasar menghalau tangan yang masih tetap berupaya menutupi selangkangan yang tidak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Cukuplah Rivan, sadarlaaah..” sekalian selalu menangis Reyna berupaya menyadarkan, tetapi upayanya percuma, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang tertangani rapi.

Dengan kemampuan yang tersisa Reyna berupaya merapatkan ke-2 pahanya, akan tetapi terlambat, Rivan sudah terlebih dulu tempatkan tubuhnya di antara paha sekal itu serta siap-siap menghujamkan kejantanannya untuk mencicipi suguhan nikmat dari wanita secantik Reyna.

“Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit di banding punya Anita,” desah Rivan bersamaan kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.

“Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Reyna mengeluh terima hujaman yang dikerjakan dengan kasar, makin keras batang besar itu menghujam makin kuat juga jari-jari Reyna mencakar tangan Rivan, air matanya tidak henti mengalir.

Tubuhnya terhentak berjalan tidak teratur, Rivan menyetubuhinya dengan begitu kasar. Muka lelaki itu menyeringai waktu melipat ke-2 paha Reyna keatas, memberikan suguhan indah dari batang besar yang berjalan cepat menghujam celah sempit vagina Reyna.

“Sayang, saya dapat rasakan lorong vaginamu makin basah, nyatanya kamu juga nikmati pemerkosaan ini, hehehe”

Plak…

Pertanyaan Rivan berbuah tamparan dari tangan Reyna, tetapi lelaki itu malah ketawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Reyna yang terangkat keatas dengan pinggul yang selalu berjalan menghujamkan batang pusakanya. Senang bermain dengan kaki Reyna, tangan lelaki itu berjalan melepas bra yang masih tetap tersisa.

“Ckckckck… Prima, sejak dahulu saya telah meyakini payudaramu lebih kencang dari punya Anita,”

Badan Reyna melengkung waktu putingnya disedot lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”

“Pasti Anita malam hari ini tidak dapat tidur karena menanti batang kejantanan yang sekarang tengah kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan badan serta enaknya vaginamu betul-betul membuatku lupa pada beringasnya permainan Anita,” kata Rivan, membuat Reyna kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.

“Bajingan kamu, Van..” umpat wanita itu, tetapi tidak berselang lama bibirnya malah mendesah waktu lidah Rivan bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”
“Hehehe…akuilah, bila kamu juga nikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”

Mata wanita itu terpejam, air matanya masih tetap mengalir dengan nada terisak ditingkahi lenguhan yang kadang-kadang keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, susah memang mengingkari kesenangan yang tengah dirasa semua inderanya.

“Reeeey… Sadarlah, kamu wanita baik-baik, seseorang istri yang setia, sekurang-kurangnya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya coba memperingatkan, membuat airmata Reyna makin deras mengalir.

Yaa.. walau hatinya berontak, tetapi tubuhnya sudah berkhianat, pinggulnya tanpa disuruh berjalan menyongsong hentakan batang yang mendobrak dinding rahim. Rivan tersenyum penuh kemenangan.

“Berbaliklah, sayang,” pintanya.

Badan Reyna berjalan lemah membelakangi Rivan, pasrah waktu lelaki itu menarik pantatnya menungging tambah tinggi, tawarkan kesenangan dari liang senggama yang makin basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei waktu lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.

“Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat prima itu terangkat makin tinggi saat lidah yang panas memberi sapuan panjang dari bibir vagina sampai keliang anal.

Perasaan takut serta birahi tidak lagi dapat dikenali, matanya yang sendu coba melihat pejantan yang membenamkan muka tampannya dibelahan pantat yang bergetar nikmati permainan lidah yang gesit menari, menggelitik liang vagina serta anusnya, satu sensasi kesenangan yang tidak sempat dikasihkan oleh suaminya.

Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak akan tetapi tubuhnya tidak dapat berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun waktu batang besar Rivan kembali masuk tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.

Begitu juga waktu Rivan memohon Reyna untuk menaiki tubuhnya, walau airmatanya jatuh menetes di atas muka sipejantan tetapi pinggul wanita itu berjalan luwes dengan indahnya nikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.

“Aaaawwhhhh Rey… Bisa saya menghamilimu?” kata Rivan waktu posisinya kembali ada di atas badan Reyna, menunggangi badan indah yang barusan meregang orgasme.

Wanita itu buang mukanya, bibirnya terkatup rapat tidak berani menjawab cuma pergerakan kepala yang menggeleng menampik, matanya demikian takut beradu pandang dengan mata Rivan yang penuh birahi.

Batang besar Rivan berjalan cepat, orgasme yang dicapai siwanita membuat lorong senggamanya jadi begitu basah. Hentakan pinggul lelaki itu demikian cepat serta kuat seolah ingin membobol dinding rahim, memaksa Reyna berpegangan pada besi ranjang penikahannya untuk menahan kesenangan yang didustakan.

“Reeeeey.. Bisa saya menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Rivan yang menggerakkan pinggulnya makin cepat.

Reyna memandang Rivan dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Rivan tersenyum menyeringai “Kamu meyakini? Tidak mau rasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lainnya menghambur dirahim mu?”

Plaaak..

Reyna kembali menampar muka Rivan untuk yang kesekian kalinya, tetapi kesempatan ini tambah lebih keras. Wanita menjerit terisak, tetapi kaki jenjangnya malah berjalan memutari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seolah ingin menjadikan satu dua badan.

Tangis Reyna makin jadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Rivan yang berkeringat lantas meremas pantat yang berotot seolah mensupport pergerakan Rivan yang menghentak batang makin dalam.

“Kamu jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Reyna bersamaan lenguh kesenangan dari bibir silelaki.

Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar beberapa ribu benih kerahim siwanita yang mengusung pinggulnya menyongsong kenikmatan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menegur, badan kedua-duanya mengejat, menggelinjang, nikmati suguhan puncak dari suatu senggama tabu.

“Kenapa kau mempermainkan saya semacam ini,” isak Reyna dengan nafas mengincar, tangannya masih tetap meremasi pantat berotot Rivan yang kadang-kadang mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wanita.

“Karena saya mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya makin erat, membiarkan badan besar itu terlalu lama di atas badan indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran semasing.

“Apa kamu bersedia jadi rekan selingkuhku?”

Reyna menggeleng secara cepat, “Aku tidak berani, Rivan, Ooooowwhhhhhh..” wanita itu melepas pagutan kakinya serta mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya serta menunjukkan kedahsyatan kejantanannya dicelah sempit vagina Reyna.

“Tapi bagaimana jika saya memaksa?..”

“Itu mustahil Oooowwhhh… Saya telah bersuami serta mempunyai anak, aaaahhhhhh…” Reyna menggelengkan kepala, berupaya kukuh atas pendirian, walau pinggul indahnya berjalan liar, tidak lagi malu untuk menyongsong tiap-tiap hentakan yang menghantar batang penis dalam tubuhnya.

Reyna tidak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Rivan waktu bibir lelaki itu kembali berupaya membujuk, membekap muka Rivan pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.

“Kamu jahat, Van.. Tidak semestinya saya membiarkan lelaki lainnya nikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”

Sesudahnya tidak ada lagi kalimat lagi yang keluar tidak hanya desahan serta lenguhan serta deru nafas yang mengincar. Sampai pada akhirnya bibir Rivan bersuara serak menyebut nama si wanita.

“Reeeeey… Boleeeehkaaan?”

Reyna memandang sendu muka birahi Rivan, dengan kesadaran yang penuh wanita itu mengangguk lantas merentang ke-2 tangan serta kakinya, memberikan izin pada silelaki untuk kembali menghambur sperma dalam rahimnya.

“Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwanita bingung, sesaat tubuhnya sudah pasrah jadi pelampiasan dari puncak birahi Rivan.

Dengan muka memelas tangan Rivan berjalan menyeka muka Reyna, telunjuknya membelah bibir tipis siwanita.

“Dasar guru mesum, ” kata Reyna sekalian menampar pipi Rivan tetapi kesempatan ini dengan lembut,
“kamu menang banyak hari ini, Van..” katanya lirih dengan mata sembap oleh air mata.
“Boleeeh?..”

Reyna memalingkan mukanya, lantas mengangguk sangsi. Rivan bangun mencabut batangnya lantas mengangkangi muka guru cantik itu. Pojok mata Reyna tangkap muka tampan silelaki yang menggeram sekalian mainkan batang besar pas dimuka muka nya.

Jemari lentiknya gemetar waktu menggantikan batang besar itu dari tangan Rivan. Membulatkan tekad untuk memandang lelaki yang mengangkangi mukanya, kepasrahan muka seseorang wanita atas lelaki yang nikmati tualang birahi atas tubuhnya.

“Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” muka Rivan memucat bersamaan sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyongsong dengan mata memandang sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”

Tidak sempat sekalinya Reyna melihat seseorang pejantan yang demikian histeris memperoleh orgasmenya, serta tidak sempat sekalinya Reyna membiarkan seseorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan sangsi Reyna buka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menegur lidahnya. Batang itu selalu berkedut waktu jari lentik Reyna yang gemetar membimbing dalam mulutnya.

Nikmati keterkejutan muka Rivan atas keberaniannya. Bibirnya berjalan lembut mengisap batang Rivan, mempersilahkan lelaki itu kosongkan benih birahi di dalam bibir minimnya.

“Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Rivan mengejat, menyongsong tawaran Reyna dengan beberapa semburan yang tersisa.
“Cepatlah pulang.. Saya tidak mau suamiku hadir serta merasakan dirimu masih tetap di tempat ini,” pinta Reyna sesudah Rivan telah kenakan kembali semua bajunya.
“Masih belumlah senang?.. basic guru mesum,” katanya ketus waktu Rivan memeluk dari belakang.
“aku bukan selingkuhan mu, tulis itu,” Reyna menghalau tangan Rivan.

“Yaa.. Saya akan mencatatnya di tempat ini, di tempat ini, serta di tempat ini..” jawab Rivan sekalian menunjuk bibir tipis Reyna, lantas berpindah meremas payudara yang membusung serta selesai dengan remasan digundukan vagina.

“Dasar hilang ingatan ni cowok,” umpat hati Reyna, yang jengkel atas tingkah Rivan masih tampak cuek sesudah apakah yang berlangsung.

Reyna memandang punggung Rivan waktu lelaki itu mengambil langkah keluar, hujan masih tetap mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti serta mengubah tubuhnya, tampilkan muka serius.

“Maaf Rey, benar-benar ini di luar dugaanku, semua tidak terlepas dari khayalku akan dirimu, tetapi saya memang salah karena menyukai wanita bersuami, Love you Rey..” kata Rivan lantas mengambil langkah keluar kepelukan hujan.

“Rivaaan.. Love u too,” teriak Reyna dengan nada serak, membuat langkah Rivan terhenti
“Tapi maaf saya tidak bisa saja selingkuhanmu.” lanjutnya.

“Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seseorang bocah dengan ceria, coba mencengangkan wanita yang repot membereskan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk badan Reyna, ibunya.

Usaha gadis itu cukuplah sukses, Reyna benar-benar tidak menyangka, Ermina, putri kecilnya yang beberapa waktu bermalam di tempat kakeknya dijemput oleh suaminya.

“Ini buat ibu dari Elmina,” katanya cadel, menyerahkan balon gas berupa amor yang melayang-layang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Mudah-mudahan ibu makin cantik serta sehat tetap..”

Muka mungil itu tersenyum ceria, senyum yang demikian tulus akan kerinduan figur seseorang ibu. Reyna tidak lagi dapat membendung air mata, memandang mata bening tanpa dosa yang tunjukkan kasih sayang seseorang anak. Sesaat dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Anggara, sekalian menggenggam balon yang sama.

“Selamat valentine, sayang,” kata Anggara, tersenyum dengan gayanya yang ciri khas, senyum lembut yang malah mengoyak-oyak hati Reyna.

Baca Juga : Cerita Dewasa Pembantuku Yang Montok Jago Mijat Sampai Crot

Saat itu juga semua sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya menjadi seseorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seseorang ibu.

“Maafin Ibu, sayang,” kata Reyna tanpa nada, memeluk erat badan mungil Ermina, terisak dengan badan gemetar. “Maafin ibu, Pah,”

Larut malam, Reyna berdiri di balik jendela, memandang gulita dengan gundah. Suaminya serta Ermina sudah terlelap.

PING!…

Tanpa keinginan wanita itu buka BBM yang nyatanya tampilkan pesan dari Rivan.

“Besok jam 12 saya nantikan di lab kimia, ”

Jemari kiri Reyna erat menggenggam tangan suaminya yang tengah nyenyak tertidur, sesaat tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, saya akan kesitu,”