Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa enak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa enak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2019

Cerita Dewasa Diriku Dijual Adik Kandungku Sendiri


Satu hari, saat saya pulang kuliah sore, saya meluangkan diri ke kamar adikku ingin mencari buku komik kesukaanku yang baru dipinjam tiga hari oleh adikku. Waktu mencari saya tidak menyengaja temukan beberapa VCD porno di meja belajarnya digabung dengan CD-CD PSnya,

Selasa, 01 Januari 2019

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Gila Ibu Rumah Tangga BerJilbab


Mufidah ialah seseorang ibu rumah-tangga wajahnya cantik yang berkulit putih bersih baru berumur 31 tahun. Saat 6 tahun perkawinannya dengan mas Syamsul, wanita ini sudah dikaruniai dua anak yang semasing berumur 3 tahun serta 5 tahun. Tidak hanya kesibukannya menjadi ibu rumah-tangga, wanita yang tetap kenakan jilbab ini pula cukuplah aktif di …. demikian pula suaminya.

Cerita Dewasa Gigolo Berlangganan Tante Girang

Cerita Dewasa Gigolo Berlangganan Tante Girang

Ini ialah cerita atau pengalaman sex gigolo dengan cougar, cerita gigolo dewasa yang ngentot cougar untuk uang serta kenikmatan kepahinya. Uang tiga perempat, bibi yang mendapatkan service sex ikut nikmati service sex dari gigolo. Baca selanjutnya, lihat ceritanya berikut ini!

Kamis, 27 Desember 2018

Cerita Dewasa Ngentot Dengan 2 Rekan Istriku

Cerita Dewasa Ngentot Dengan 2 Rekan Istriku

Saya bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… jam 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Selekasnya saya meloncat bangun, mencari istri serta anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Patut saja mereka telah pergi. Istriku menyengaja tidak membangunkan saya untuk turut ke sekolah anakku, sebab malamnya saya pulang kantor hampir jam 4 pagi.

Yah, beginilah nasib auditor jika kembali dikejar laporan audit. Untung saja, ada anggota timku yang dapat kurangi keteganganku. Ya, Agnes tentu saja, yang tadi malam sudah memberi servis untukku. Baginya, bersetubuh dengan lelaki lainnya tidak hanya suaminya bukan perihal yang tabu, sebab ia sendiri ikut tidak mempersoalkan bila suaminya berkencan dengan wanita lainnya. Prinsip mereka, yang terpenting pasangan tidak lihat peristiwa itu dengan mata kepala sendiri.

Saya tersenyum mengingat peristiwa tadi malam. Sebetulnya jam 11 malam kami setuju untuk pulang kantor, tetapi nyatanya saya serta Agnes sama2 kembali horny. Pada akhirnya, terjadi seperti yang telah kuceritakan di atas. Tidak berasa, saya mulai horny kembali. tongkolku pelan2 mengangguk-angguk serta mulai mengacung.“Walah…repot bener nih, pikirku. “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di dalam rumah tidak ada pembantu, sebab istriku, Indah, lebih senang bersih2 rumah sendiri dibantu ke-2 anakku. “Biar anak-anak tidak manja serta dapat belajar mandiri. Lagian, dapat mengirit pengeluaran,” kilah istriku. Saya sepakat saja. agen poker

Kurebahkan tubuhku di sofa ruangan tengah, sesudah memutar DVD BF. Menyengaja kusetel, agar hasratku cepet selesai. Sesudah kubuka celanaku, saya saat ini cuma gunakan kaos, serta tidak gunakan celana. Pelan-pelan kuurut serta kukocok tongkolku. Terlihat dari ujung lubang tongkolku meluluhkan cairan bening, sinyal jika birahiku telah mencapai puncak.

Saya juga ingat Linda, teman dekat istriku. Kebetulan Linda datang dari suku Chinese. Ia ialah teman dekat istriku dari sejak SMP sampai lulus kuliah, serta seringkali ikut main kerumahku. Terkadang sendiri, terkadang bersama dengan keluarganya. Ya, saya memang seringkali berfantasi tengah menyetubuhi Linda. Tubuhnya mungil, setinggi Agnes, tetapi lebih gendut. Yang kukagumi ialah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Serta pantatnya yang membulat indah, seringkali membuatku ngaceng jika ia bertandang.

Saya cuma dapat memikirkan kalau badan mulus Linda dapat kujamah, tentu sangat nikmat. Fantasiku ini nyatanya membuat tongkolku semakin keras, merah padam serta cairan bening itu mengalir kembali dengan deras. Ah Linda…seandainya saya dapat menyentuhmu..serta kamu ingin ngocokin tongkolku..demikian pikiranku waktu itu.

Kembali enak-enak ngocok sekalian tonton bokep serta memikirkan Linda, terdengar nada langkah sepatu serta seorang memanggil-manggil istriku.“Ndah…Indah…aku dateng,” sengit nada itu…Oh my gosh…itu nada Linda…mau ngapain ia ke sini, pikirku. Kapan masuknya, kok tidak kedengaran? Linda memang belum pernah mengetuk pintu jika ke rumahku, sebab keluarga kami sangatlah akrab dengan ia serta keluarganya.

Belum saya berfikir serta lakukan tindakan untuk selamatkan diri, tiba-tiba Linda sudah muncul di ruangan tengah, dan…“AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya. “Kamu kembali ngapain?”“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tidak dapat menjawa pertanyaannya. Grogi. Cemas. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang sampai kini cuma ada pada fantasiku, tidak diduga muncul dihadapanku serta straight, langsung melihatku dalam kondisi telanjang, tidak pakai celana, Hanya kaos saja.

Ngaceng juga.“Kamu dateng ok tidak ngabarin dahulu sich?” saya memprotes.“Udah, sana, pakai celana dahulu!” Pagi-pagi telanjang, tonton bf sendirian,kembali ngapain sich?”ucapnya sekalian duduk di kursi didepanku.“Yee…namanya ikut kembali horny…ya sudah mending colai sekalian tonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya kembali pergi ke sekolah. Ya sudah, self service,”sahutku.“Udah, Ndrew. Sana pakai celana dahulu. Kamu tidak risih apakah?”“Ah, kepalang tanggung kamu dah simak? Ngapain ikut dtitutupin? Telat donk,”kilahku.“Dasar kamu ya. Ya, sudah deh, saya pamit dahulu. Salam saja buat istrimu. Sana, terusin kembali.” Linda bergerak dari duduknya, serta pamit pulang.Cepat-cepat saya mencegahnya. “Lin, nanti dahulu lah…,”pintaku.“Apaan sich, orang saya ingin ngajak Indah jalan, ia tidak ada ya sudah, saya ingin jalan sendiri,”sahutnya.“Bentar deh Lin.

Tolongin saya, tidak lama kok, sangat sepuluh menit,”aku berupaya merayunya.“Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Linda memprotes sekalian melotot. “Kamu janganlah macem-macem deh, Ndrew. Tidak mungkin donk saya kerjakan itu,”sergahnya.“Lin,”sahutku tenang. “Aku tidak meminta kamu untuk lakukan hal tersebut. Tidak.

Saya Hanya meminta tolong, kamu duduk didepanku, sekalian liatin saya colai.”“Gimana?”Linda tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.Sejurus lalu..“Ok, Lin. Saya janji tidak ndeketin ditambah lagi menyentuh kamu.

Tetapi, sebelum itu, kamu ikut membuka bajumu dong…pake BH sama CD saja deh, tidak perlu telanjang. Kan kamu dah simak punyaku, please?” saya merayunya dengan dikit memelas sekaligus juga cemas.“Hm…fine deh. Saya bantuin deh…tapi bener ya, saya masih tetap pakai BH serta CDku serta kamu tidak nyentuh saya ya. Janji lho,”katanya. “Tapi, nantikan.

Saya ingin bertanya, kok kamu berani sekali meminta tolong demikian ke saya?””Yaaa…aku berani-beraniin…toh saya tidak nyentuh kamu, Hanya simak doang. Lagian, kamu dah simak punyaku? Trus, saya kembali colai sekalian simak BF…lha ada kamu, mengapa tidak meminta tolong saja, simak yang asli?”kilahku.“Dasar kamu. Ya sudah deh, saya membuka pakaian di kamar dahulu.”“Gak perlu, di tempat ini saja,”sahutku.

Perlahan-lahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang begitu putih serta mulus. Saya menelan ludah sebab cuma dapat memikirkan seperti apakah isi BH merah itu. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, serta dibukanya kancing celananya.

Perlahan-lahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada kebimbangan di mukanya. Tetapi pada akhirnya, celana itu lepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak memandangnya. Paha itu begitu putih sekali. Lebih putih dari yang sempat saya pikirkan. Tidak ada cacat, tidak ada noda. Selangkangannya masih tetap terbungkus celana dalam mini memiliki bahan satin, sewarna dengan Bhnya.

Kelihatannya, itu ialah satu set BH serta CD.“Nih, saya sudah membuka pakaian. Dah, kamu terusin kembali colinya. Saya duduk ya.”Linda selekasnya duduk, serta akan menyilangkan kakinya. Cepat-cepat saya hindari.“Duduknya janganlah begitu dong…”“Ih, kamu tuch ya…macem-macem sekali. Memang saya harus bagaimana?”protes Linda. “Nungging, begitu?””Ya jika kamu ingin nungging, bagus sekali,”sahutku.“Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.“Kamu duduk biasa saja, tetapi kakimu dibuka sedikit, jadi saya dapat simak celana dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu tidak keliatan?”usulku.“Iya…iya…ni anak rewel sekali ya.

Ingin colai saja pakai meminta macem-macem,”Linda masih tetap saja memprotes dengan permintaanku.“Begini tempat yang kamu ingin?”tanyanya sekalian duduk serta buka pahanya lebar-lebar.“Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut ya colinya.”
Sekalian memandangi tbuh Linda, saya selalu mengocok tongkolku, tetapi kulakukan dengan perlahan-lahan, sebab saya tidak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, jika panorama langka ini berlalau sangat cepat. Saya juga menceracau, tetapi Linda tidak menyikapi omonganku.

“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus sekali siiiihhh….”aku selalu menceracau. Linda menatapku serta tersenyum.“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel serta putiiiihhhh….hhhhh….membuat saya ngaceng, Liiiiiinnn……”Linda selalu saja menatapku serta sekarang bergantian, memandang wajahku serta kadang-kadang melirik mengarah tongkolku yang selalu saja ngacai alias keluarkan lendir dari ujung lobangnya.“Pantatmu, Liiiinnn….kalau kau bisa megang….uuuuhhhhh….ditambah lagi terkena tongkolku….oouuufff…..tentu muncrat aku….,”aku mendesah serta menceracau memberikan pujian pada keindahan tubuhnya.

Sekaligus juga saya mengharap, kata-kataku bisa membuat terangsang.

Linda masih diam, serta tersenyum Matanya mulai sayu, serta bisa kulihat jika nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik mengarah celana dalamnya…oppsss….saya tangkap tanda jika nyatanya Linda memulai ternagsang dengan aktivitasku. Sebab celana dalamnya memiliki bahan satin serta tipis, jelas sekali tampak ada noda cairan di seputar selangkannya. Duduknya juga mulai resah. Tangannya mulai meraba dadanya, serta tangan yang satunya turun meraba paha serta selangkangannya. Tetapi Linda terlihat sangsi untuk mengerjakannya. Mungkin sebab dia tidak pernah lakukan ini di depan orang yang lain.

Kupejamkan mataku, supaya Linda tahu jika saya tidak memerhatikan aktivitasku. Serta benar saja…setelah sesaat, saya buka dikit mataku, kulihat tangan kiri Linda meremas payudaranya serta owww…BH samping kiri nyatanya telah diturunkan…Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…tegak mengacung. Walau telah melahirkan, serta mempunyai satu anak, kuakui, payudara Linda semakin bagus serta kencang dibanding Agnes. Kulihat tangan kiri Linda memilin-milin putingnya, serta tangan kanannya nyatanya sudah menyelinap ke celana dalamnya.

“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seakan meredam kesenangan. Saya kembali pejamkan mataku serta melanjutkan kocokan pada tongkolku sekalian nikmati rintihan-rintihan Linda.

Tidak diduga saya terasa ada suatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol serta tanganku. Saya buka mata serta terpekik. “Lin…kamu…,”leherku tercekat.“Aku tidak tega simak kamu menanggung derita, Ndrew,”sahut Linda sekalian membelai tongkolku dengan tangannya yang lembut.My gosh…perlahan impin serta obsesiku jadi fakta. tongkolku dibelai serta dikocok dengan tangan Linda yang putih mulus.

Saya mendesis serta membelai rambut Linda. Lalu dengan spontan Linda menjilat tongkolku yang telah bene-bener sewarna kepiting rebus serta sekeras kayu. Dan…hap…! Satu peristiwa tidak tersangka tapi begitu kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke mulutnya. Ya, tongkolku disedot Linda. Dikit kembali tentu saya mendapatkan lebih dari sebatas cunilingis.

Tidak tahan dengan perlakuan sepiha Linda, kutarik pinggulnya serta cepat-cepat kulepaskan Cdnya.“Kamu ingin ngapain, Ndrew?” Linda memprotes sekalian hentikan hisapannya. Saya tidak menjawab, jariku repot menyeka serta meremas pantat putih nan montok, yang sampai kini cuma jadi khayalanku.“Ohh..Lin…boleh ya saya megang pantat sama memiaw kamu?”pintaku.“Terserah…yang terpenting kamu senang.”Segera kuremas-remas pantat Linda yang montok.

Ah, obsesiku tercapai…dulu saya cuma dapat berkhayal, saat ini, badan Linda terpampang dihadapanku.Senang dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus serta vaginanya. Linda mendesah meredam perasaan nikmat karena usapan jariku.“Achh…Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau nikmati jilatan lidah serta hangatnya mulut Linda waktu mengenyot tongkolku. Benar-benar menggairahkan lihat bibir serta lidahnya yang merah menyapu lembut kepala serta batang kelelakianku.

Sampai akhirnya….“Liiinn….bibir kamu lembut sekali sayaaaannggg….aku…kach…aku…”“Keluarin sayang…tongkol kamu sudah berdenyut tuh….sudah ingin muncrat

yaaa….”“I…iiy…iiyyaaa….Liiiiinnnnnnnnn….Ouuuuufuffffff…..argggghhhhhhhhhh…..”Tak bisa kutahan kembali. Bobol telah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir serta dada Linda. Tanganhalus Linda tidak berhenti mengocok batang kejantananku, seakan ingin melahap habis cairan yang kumuntahkanOhhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini saya muncratin pejuhku di bibir serta muka Linda.“Lin…kamu tidak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?”Linda menggeleng dengan pandangan sayu.

Tangannya masih mainkan tongkolku yang dikit melemas.“Kamu baru pertam kali kan, mainin koto orang tidak hanya suami kamu?”“Iya, Ndrew. Tetapi kok saya senang ya…terus jelas, berbau sperma kamu seger banget…kamu rajin jadi buah sama sayur ya?” bertanya Linda.“Iya…kalo tidak begitu, Indahmana ingin nelen sperma saya.”“Aihhh….” Linda terpekik. “Indah ingin nelen sperma?”Aku mengangguk. “Keapa Lin? Ingin tahu sama rasa-rasanya? Lha itu spremaku masih tetap meleleh di muka sama dada kamu.

Coba saja rasa-rasanya,”sahutku.“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah serta bibir Linda mencicipi spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada serta mukanya, lalu dijilatnyajarinya smape bersih.Hmmm….pada akhirnya spermaku masuk dalam tubuhnya…“Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya.

Saya tidak ngerasa enek cocok nelen sperma kamu…””Mau lagi….?”“Ih…kamu tuh ya…masih kurang, Ndrew?”“Lha kan baru oral belumlah masuk ke meqi kamu, Lin.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun kembali kan?”“Dasar kamu ya….””Benerkamu tidak ingin spermaku ? Ya sudah jika begitu, saya ingin bersih-bersih dahulu.”ancamku sekalian bangun dari kursi.“Mau sih…Cuma takut jika Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.

Perlahan-lahan kuhampiri Lida, kuminta ia duduk di sofa, sekalian ke-2 kakiya diangkat mengangkang.Kulihat meqinya yang licin sebab cairan cintanya meleleh karena tindakan jariku.“Hmmm…Lin…meqi kamu masih tetap basah…kamu masih tetap horny dong…”tanyaku.“Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian saya udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…….”Linda memiawik waktu lidahku menari diujung klitorisnya.“Ndrewwww…kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.

Kumainkan lidahku dikelentitnya yang sudah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Linda yang makin membengkak. Perlahan-lahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.Mengakibatkan mengagumkan. Linda semakin meronta serta mendesah. Jambakannya semakin kuat. Cairan birahinya semakin membasahi lidah serta mulutku. Tentunya perihal ini tidak kusia-siakan.

Kusedot kuat supaya saya bisa menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma vagina Linda lainnya dengan aroma vagina istriku. Walau kedua-duanya tidak bau amis, tetapi ada sensasi sendiri waktu kuhirup aroma kewanitaan Linda.“C’mon..Ndrew…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….”Aku memahami, pergerakan pantt Linda semakin liar. Semakin kencang. Kurasakan juga meqinya mulai berdenyut…..seentar kembali ia meledak, pikirku.

“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.“Mas…..mas Andrew….”suara wanita dimuka menyebut namaku.Langsung kulepaskan jilatanku. Linda melihat wajahku dengan muka pucat. Saya juga melihat mukanya dengan jantung berdebar.“Ndrew..kok kyaka nada Rika ya…”Linda bertanya“Wah..ingin ngapain ia kesini…..kritis dong…”ucapku ketakutan. “Udah Lin, kamu masuk kamarku dahulu deh…cepetan…”

Selekasnya Linda berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalipun bersihkan tubuhnya sebab dikamarku ada kamar mandi. Saya tahu ada sebersit ekspresi sedih di mukanya, sebab Linda hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kehadiran Rika, sahabatnya sekaligus juga teman dekat istriku.

Sesudah kupakai kaos serta celana yang kuambil dari almari serta bersihkan muka dikit, saya ke arah ke ruangan tamu, buka pintu.

“Halo, mas….’Pa berita..?” sahut Rika demikian melihatku buka pintu.“Baik, dik. Mari masuk dahulu. Tumben nih pagi-pagi, sepertinya ada yang terpenting?” tanyaku sambil ajak Rika ke arah ruangan tengah.Mataku dikit terbelalak lihat bajunya. Bagaimana tidak?Kaos ketat melekat dibadannya, digabungkan dengan celana spandex ketat berwarna putih.

Saya lihat lipatan cameltoe di selangkangannya mengisyaratkan jika didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, serta waktu saya berjalan dibelakangnya, tidak kulihat garis celana dalam mebayang di spandexnya.Hmm…mana mungkin ia tidak pakai CD..mungkin pakai G-string, pikirku.Kami berdua selekasnya ke arah ruangan tengah.

Untung saja, film bokep yang saya setel sudah tuntas, jadi Rika tidak sudah sempat lihat film apakah yang tengah saya setel.“Ini lho mas, saya ingin anter oleh-oleh. Kan tempo hari saya baru dateng dari Jepang. Nah, ini saya bawain ….dikit bawaan lah, untuk kamu sama Indah.

Itung-itung membagi kesenangan.”“Wah…tengkyu sekali lho…kamu baik banget”“Ah, biasa saja lageee..hehehe”Kami berdua sesaat ngobrol-ngobrol, sebab memang telah berapa bulan Rika tidak bertandang ke rumahku. Rika ini ialah salah satunya teman dekat istriku, tidak hanya Linda.Diam-diam, akupun ikut terobsesi bisa nikmati tubuhnya.

Ya, Rika seseorang wanita yang mungil. Tinggi badannya tidak lebih dari 155cm. Banding dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tetapi condong kemerahan. Hmm..saya seringkali berkhayal kembali ngent*tin Rika, sekalian saya gendong serta saya rajam memiawnya dengan tongkolku. Tentu ia merintih-rintih nikmati hujaman tongkolku…

“Hey…bengong aja…ngeliatin apakah sich..” tegur Rika.“Eh…ah…anu…enggak.

Hanya kembali mikir, kapan ya gw dapat berjalan-jalan sama kamu…”Eits..kok ngomongku melantur berikut sich. Aduh…gawat deh…“Alaaa..mikirin berjalan-jalan apalagi ngeliatin suatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.Mati aku…berarti waktu saya ngeliatin bodinya, ketahuan dong jika saya melototin selangkangannya. Wah….“Ya sudah, mas. Saya pamit dahulu, setelah Indah pergi.

Lagian,dari barusan kamu ngeliatin selalu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik mengambil ketawa.Saya Hanya tersenyum.“Ya sudah, jika kamu ingin pamit. Saya tidak dapat ngelarang.”“Aku numpang pipis dahulu ya.”Rika ke arah kamar mandi di samping kamarku.“Iya.”

Pas saatRika masuk kamar mandi, sekalian berjingkat Linda keluar dari kamarku.Saya terperanjat, serta selekasnya memerintahnya masuk kembali, sebab takut ketahuan. Nyatanya CD Linda tertinggal di kursi tadi didudukinya waktu tengah saya jilat memiawnya.

Astagaaa…untung Rika tidak ngeliat…atu jangan-jangan ia sudah simak, karena itu sudah sempat melemparkan pandangan menyelidik? Entahlah…“Cepeeeett..mengambil trus ke kamar kembali.”perintahku sekalian berbisik.Linda mengangguk, selekasnya menyambar Cdnya dan…

“Ceklek….!”Pintu kamar mandi terbuka, serta waktu Rika keluar, kulihat mukanya terperanjat lihat Linda berdiri terpaku didepannya sekalian menggenggam celana dalamnya yang belum dipakainya. Ditambah kondisi Linda yang cuma memaki kaos, tapi di bawah tidak menggunakan celana jeansnya. Akupun terperanjat, serta berdiri terpaku.

Hatiku berdebar, tidak tahu apakah yang perlu kuperbuat atau kuucapkan. Semua berlangsung dalam tempo yang begitu singkat serta tidak terelakkan. Kepalaku berasa pening.

“Linda…? Kamu kembali ngapain?” Rika menanyakan dengan muka bingung campur kaget.“Eh…anu…ini lho…”kudengar

Linda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.“Kok kamu megang celana dalam? 1/2 telanjang kembali?” selidik Rika. “Oo…aku tau…pasti kamu berdua kembali melakukan perbuatan yaaa…?”“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Linda kembali numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.“Trus, jika memang numpang dandan, ngapain ia diruangan ni, pakai bawa serta celana dalam kembali.” Sudah begitu telanjang juga. .Hayo!!!” Rika menanyakan dengan galak.“Sini simak.”

Rika mendekati Linda serta cepat merampas celana dalam yang dipegang Linda, tiada perlawanan dari Linda.“Kok basah…?”Rika mengernyitkan keningnya. “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?””udah deh, Rik…emang bener, saya kembali ingin ML sama Linda. Belumlah sempat saya ent*t, sich. Baru saya jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng.” Saya menyerah serta pilih menuturkan apakah yang baru saja saya kerjakan. “Kamu tuch ya…udah miliki istri masih tetap suka yang lainnya.

Ini cewek ikut sama saja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan muka merah padam.“Terserah kamu lah…kamu ingin laporin saya sama Linda ke polisi…silakan. Ingin laporin ke Indah…terserah….”ucapku pasrah.“Hmm…kalo saya laporin ke Indah…kasian ia. Kelak ia kaget.Jika ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika meninmbang-nimbang apakah yang akan dikerjakannya.“Gini saja mas. Saya tidak laporin ke mana-mana.

Tetapi ada syaratnya.” Rika memberi penawarannya kepadaku.“Apa syaratnya, Rik?”“Nggak berat kok. Mudah sekali serta gampang.”“Iya, apaan syaratnya?” Linda turut bertanya“Terusin apakah yang kamu berdua barusan lakukan. Saya duduk di tempat ini, tonton. Bagaimana?”“WHAT?” saya serta Linda berteriak bebarengan. “Gila lu ya, waktu ingin tonton orang kembali ML?”“Ya terserah kamu.Ingin pilih mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.

Saya serta Linda sama-sama berpandangan. Kuhampiri Linda, kubelai tangan serta rambutnya. Linda seakan mengerti serta menyepakati prasyarat yang diserahkan Rika.Selekasnya saja kulumat bibirnya yang ranum serta tanganku meremas pantatnya yang sekel. Linda selekasnya buka kaosnya.Sekalian selalu berciuman serta meremas pantatnya, kubimbing Linda ke arah sofa. Kurebahkan dia dari sana, serta dengan cekatan dilepaskannya kaos serta celana ku hingga saya saat ini telanjang bundar di depan Linda serta Rika.

Saya melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat mukanya menegang seperti tegangnya tongkolku. Saya tersenyum-senyum kearahnya, sekalian mainkan serta mengocok-ngocok tongkolku, seakan akan menunjukkan kejantananku.“Ayo, ndrew…cepetan deh…udah tidak tahan, honey…”Linda mendesah. “Biarin saja si Rika…paling ia ikut sudah basah.”“Enak saja kamu katakan.”sergah Rika. “Udah buruan, saya ingin simak seperti apakah sich kalian jika ML.”
Saya memandang mata Linda yang mulai sayu serta tersenyum.

Sesudah melepas semua bajunya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tidak sabar, selekasnya kusosor memiaw Linda yang begitu becek oleh lendir birahinya.

“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww….”Linda menjerit serta mengeluh terima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas, ikuti irama permainan lidahku.Hmmm…nikmat sekali. memiawnya bau fresh, sinyal jika memiaw ini begitu tertangani. Serta yang membutku girang ialah lendir memiawnya yang meleleh deras, bersamaan dengan semakin kuatnya goyangan pinggulnya.

“Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…”Linda selalu mendesah. Nafasnya tersengal-sengal, seakan ada suatu yang mendesaknya.‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sekalian jari tengahku selalu mengocok memiawnya, serta jempolku menggesek itilnya yang sangatlah keras. Baik itil ataupun memiaw Linda telah betul-betul berwarna merah, begitu basah karena lendirnya yang meleleh, sampai membasahi belahan pantat serta sofa.

Selekasnya kegiatan tanganku kuganti dengan jilatan lidahku kembali. Perihal ini membuatpaha Linda menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus juga membenamkan kepalaku di tengah jepitan pahanya yang menegang. Saya rasakan memiawnya berdenyut, serta ada lelehan cairan hangat menimpa bibirku.

“ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Linda menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, mendesak kepalaku di selangkangannya serta berguncang hebat sekali.Tidak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semua, kutelan semua. Ya, saya tidak ingin buang lendir kesenangan Linda.

Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda semakin keras…dan pada akhirnya Linda terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku serta gemetaran.“Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..”Linda menceracau sekalian gemetaran.“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…”

Kulihat Linda tersenyum dengan muka senang. Selekasnya kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras serta kemerahan. Walau telah melahirkan serta menyusui dua anak, payudara Linda begitu tertangani, kencang. Serta putingnya masih tetap berwwarna kemerahan.

Siapa lelaki yang tahan lihat warna putting semacam itu, apalgi saat ini puting merah itu betul-betul masih tetap keras serta mengacung walau pemiliknya baru saja meraih orgasme.“Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli….” Lnda menggelinjang waktu kuserbu putingnya. Saya tidak memedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas hingga tubuh Linda mulai mengejang kembali.

“Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda mendesah. “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhhhh……”

Tiada aba-aba, selekasnya kusorongkan tongkolku yang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Linda. Blessss…….“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat Linda tersentak kedepan, bersamaan dengan menancapnya tongkolku di mekinya. Kutekan tongkolku semakin dalam serta kuhentikan sesaat dari sana. Berasa sekali memiaw Linda berkedut-kedut, meskipun termasuk super becek.“Ayo, nDrew…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….sudah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Linda mendesah meminta.

Selekasnya kugocek tongkolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk….” suar gesekan tongkolku dengan memiaw Linda yang telah basah kuyup nyaring terdengar.

Tidak lupa kulumat bibirnya yang ranum, serta tanganku menggerayang memilin nikmati payudara serta putingnya.Tidak lama kemudian kulihat mata Lnda terbalik, Hanya tampak putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul serta pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.

“AN…DREEEWWWW…….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKKKK….” Linda menjerit keras serta sesaat terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Berasa di tongkolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seakan akan memijit serta memaksa spermaku untuk selekasnya mengguyur menyiram memenya yang mengagumkan becek.
Semakin kuat kocokan tongkolku di dalam memiaw Linda, semakin kencang juga pelukannya.

Nafas Linda ketahan, seakan tidka ingin kehilangan moment-moment indah meraih puncak kesenangan.Sebab denyutan memiaw Linda yang membuatku nikmat, ditambah perasaan hangat sebab uyuran lendir memiawnya, saya juga tidak tahan. Ditambah ekspresi mukanya yangmemandang wajahku dengan mata sayu akan tetapi tersirat kenikmatan yang maat begitu.

“Ayo nDrew…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….”Linda meminta.“Kamu tidak papah saya tumpahin pejuh di rahim kamu?”tanyaku sekalian terengah-engah.“No masalah honey…aku safe kok….”sahut Linda. “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”

LIN……LINDAAAA…..LINDAAAAAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku rasakan pejuhku menekan. Kupercepat kocokanku, serta Linda ikut mengencangkan otot memiawnya, mengharap supaya saya cepet muncrat.AAACCHHHHHHH………..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooottttt..jrrrroooooottttt…..tidak kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku.

Sangat banyak pejuh yang kusemprotkan ke rahim Linda, hingga dia tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, sampai berasa kepalaku speerti masuk liang ke-2.Ah….nyatanya tongkolku dapat tembus mulut rahimnya. Bermakna pejuhku langsung mendobrak rahimnya.Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Linda mendesah kembali. “Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Ndrew…” kata Linda.Sesudah beristirahat sesaat dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, dengan mendadak kucabu tongkolku.“Plllookkkkk….”

Kupandangi memiaw Linda yang masih tetap membengkak serta merah denganlubang menganga. Linda selekasnya merubah tempat duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh. Selekasnya saja jemari Linda mencapai serta mengorek bibir memiawnya, mengawasi supaya pejuhku tidak tumpah kesofa. Mengakibatkan, telapak tangan Linda belepotan penuh dengan pejuhku yang sudah bercampur lendir memiawnya.

Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Linda memakai jari tangan kirinya,mengorek memiawny untuk bersihkan memiawnya dari bekas pejuhku.“Brani kam telen kembali?” tantangku.“Idih…syapa takut….”Linda balas menantangku. “Nih simak ya….”Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Linda terlihat senang nikmati pejuh ditangannya.“Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda ketawa geli.“Tuh…masih ada bekasnya ditangan.

Mbelum bersih.” Sahutku.“Tenang, nDrew..bekasnya buat…ini.” Sekalian berkata demikian, Linda ambil beberapa pejuhku serta mengusapkannya diwajahnya.“Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Linda sekalian mengerling genit.“Astagaaaa….kamu tuch, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terperanjat.“Kenapa…? Kaget ya?”“Diem-diem, muka alim..tetapi jika masalah birahi liar ikut ya..”“Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang enak kok tidak diterima.”

”Tau begitu barusan saya semprot di uka kamu saja ya..” sesalku“Iya ikut sich..sebenernya saya ingin kamu semprot. Hanya saya dah tidak dapat ngomong lagi…nahan enak sich..lagian saya ingin merasakan semprotan pejuh kamu di memiawku.” Linda tersenyum“Eh, Ndrew…ssstttt…coba simak tuh…jailin yuk…..”ajak Linda
Ya ampuuunnnn…aku lupa jika aktivitasku tengah diamat Rika.

Selekasnya kulirik Rika, yang nyatanya tiada kami sadari tengah melakukan aktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok sapndexnya, yang mulai membasah. Kulihat lekukan cameltoenya makinbesar, semakin besar dari yang kulihat diruang tamu. Tanda-tanda jika Rika ikut sudah dirundung birahi.

Linda mencolek tanganku, rupanya dia ingin mengerjai Rika. Saya sepakat. Sekalian berjingkat, saya serta Linda mendekati Rika. Selekasnya tangan Linda yang masih tetap ada bekas pejuhku dioles-oleskan kemuka serta bibir Rika.“MMppphhhh…..fffggghhh…..” Rika langsung terperanjat serta hentikan aktivitasnya. “apaan nih…kok seperti berbau pejuh…?”“Udahlah Rik….saya tahu kamu ikut ikut-ikutan horny, ngeliat saya dientt sama mas Andrew.” Linda tersenyum-senyum genit.“AH…aku…eeehh….anuu….” Rika gelagapan kehabisan beberapa kata.“Rik…gkalo kamu ikut horny, tidak papah kok…aku masih tetap kuat.” Tantangku. “Tuh, kamu simak. Kon tolku masih tetap dapat bangun.”Ya, meskipun telah menyemprotkan amunisinya 2x permainan, kon tolku mash berdiri meskipun tidak sekeras waktu ngenttin Linda.

Malah saat ini kon tolku berdenyut serta mengangguk-angguk, seakan menyepakati usulku serta Linda.“Tuhhh, Rik. Kon tolku manggutmanggut.”sahutku.“Tapi kelak jika Indah pulang bagaimana?” bertanya Rika.“Don’t worry, honey. Jika memang kepergok, kelak saya membantu jelasin ke Indah.” Hibur Linda. “Soalnya, dulu-dulu saya sempat becandain Indah, bagaimana jika sesekali saya minjem tongkol suaminya.”“Trus, Indah katakan apakah?” Rika ingin tahu.“Mmmm.ia sich tidak katakan iya tetapi ikut tidak katakan tidak.”jawab Linda. “Dia hanya ngomong, ya jika kamu tidak malu sama Andrew, terserah kamu.

Tetapi jika Andrew ketagihan, kemungkinan tanggung sendiri lho. Begitu kata Indah.”“Oooo…..” Rika terlongong dengar keterangan Linda. Saya juga terperangah. Jadi……ternyata…..???? jangan-jangan mereka berdua memang menyengaja kesini…atas suruhan Indah….

Tidak pakai lama selekasnya kulumat bibir Rika yang mungil.“Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Rika mendesah….”Andrewww…puasin saya sayang……guyur saya dengan pejuhmu seperti Linda tadi….oooccchhhhh…..”Aku selalu melumat bibirnya..lehernya yang tahap serta mulus…kujilat juga telinganya yang membuat Rika merinding serta tersengal-sengal.

Nyatanya salah satunya titik rangsangannya adala teling.Linda menolong melepas spandex Rika.

Dan…oouuuwww…pantesan di selangkangan Rika tampak seperti terbelah. Rupanya ia menggunakan G-String yang segitiganya cuma dapat menutupi itilnya. Selebihnya…terlihat bibir me meknya telah membengkak kemerahan serta basah kuyup oleh lendirnya. Kulihat me mek Rika sama juga dengan Linda…bersih dari bulu jembut, hingga ha ini membuat kon tolku langsung tegak mengeras kembali.

Linda ikut menolong Rika melepas G-String, kaos serta Bhnya. Seakan Linda tidak ingin Rika disibukkan oleh kegiatan lainnya yang kurangi kesenangan bercinta.

“Ohhh…nDreeww,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Rika merintih-rintih sekalian mennggelengkan kepalanya waktu bibirku turun ke putingnya. Payudara Rika lebih kecil dari Linda, mungkin cuma 34B, dibanding punya Linda yang 36C.

Putingnya berwarna coklat muda, tegak keras mengacung, seakan menantangku untuk selekasnya melahapnya.

Dan…hap….kusedot putting kiri, sesaat tangan kananku meremas payudara samping kanan serta memilin putingnya.“Auuuccchhhh..Anddreewwww…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Rika berteriak meredam nikmat waktu jari tangan kiriku telusuri memiawnya.

Kumasukkan jari tengahku sekalian jempolku menggosok itil Rika yang begitu keras.“Rik…kon tol Andrew diusap dong…biar cepet keras…” tutur Linda. Selekasnya tiada diperintah 2x, Rika selekasnya mencapai kon tolku, menyeka serta mengocok bergantian.“Uffff…Rika sayaaanng…akhirnya kon tolku terkena kamu yaaa…”aku mendesah meredam nikmat.

Nyatanya Rika begitu trampil dalam soal kocok mengocok, hingga tidak butuh waktu lama kon tolku telah sekeras kayu kembali, mengkilat kemerahan.Tidak sabar selekasnya kubalikkan badan Rika, hingga tempatnya saat ini nungging didepanku. Lututnya bertopang pada sofa panjang, hingga punggungnya meliuk, meningkatkan sexy tempatnya waktu itu.

Dengan pantat membulat, terlihat bibir me mek Rika merekah merah serta berkilat licin oleh cairan birahinya. Tidak tahan, kuserbu me mek Rika, kujilat itilnya serta kukorek liangnya dengan jari-jariku.

“Arggghhh…Andrew….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnghhh….”Rika menjerit sekalian tersengal.

Napasnya mengincar.“Akk..kku…hammm..ppir sampai, honey…”Rika selalu mendesah.Ah…ternyata Rika tidak sanggupbertahan lebih lama kembali. Berasa sekali dibibirku, suhu me mek Rika semakin panas, serta lendir cintanya makin bertambah banyak mengalir.Selekasnya saja kuarahkan batang kon tolku yang menanti giliran, merojok me mek Rika.

“Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Andreeeewwww………”pantat Rika tersentak terima hunjaman kon tolku yang demikian tidak diduga.Sangat nikmat me mek Rika. Walau saling becek serta dapat berdenyut, saya rasakan sensasi lainnya dibanding me mek Linda.Lama-lama semakin berasa me mek Rika berdenyut-denyut.

Tidak ada nada yang keluar dari bibir Rika, terkecuali erangan serta rintihan. Kurasakan otot di sekitar pantat serta selangkangannya mengejang serta tiba-tia Rika mendesak pantatku sekalian melolong….

“OOOOUUUWWWWWW….ANDREEEEEEEWWWW…..UUUUUUUFFFFGGGGHHHHHH…..”Nafas Rika ketahan, serta kupercepat hunjaman kon tolku, seakan menggempur me mek Rika terus-menerus.

Ahh…..begitu hangat lendir birahi yang mengalir, bahkan juga sampai meleleh membasahi pahaku serta paha Rika.Rika masih menggoyang-goyangkan pantatnya, hingga membuatku semakin bernafsu mengecoh kon tolku saat me meknya yang becek akan tetapi sempit.

“C’mon honey…shot your sperm inside my mouth….,”Rika melihat serta menatapku dengan mata sayu seakan meminta supaya kusemprotkan spermaku dimulutnya.“Ohhhhh….aaaawwwgghhh….Rikaaaaa…me mek kamu kok ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh….,

”aku menceracau sekalian selalu memajumundurkan pantatku “Ngeliat pantat kamu yang bulet..ddaannn…putih…eeegghhhh….bikinnhh….aakkk…..kkkuuuu….pengennnnhhhh….ngecreettthhh…….aaarrrrggghhh….RIIIKKKAAAAAAAAAA……,”aku berteriak keras sekalian mencabut tongkolku.

Langsung Rika mencapai kon tolku, mengocoknya sekalian menyedot kepala serta batangnya.

“C’mon…ayo Ndrew…keluarin pejuhmu…..”“Aku ingin merasakan pejuh kamu….”Linda juga tidak tinggal diam. Dia berbaring telentang dibawahku serta menjilat perineumku, seakan tahu jika itu ialah daerah “mati”ku. Ya, saya sangat tidak tahan jika perineumku dijilat.AAAARRRGGGHHHH….LINDAAAAAA….hilang ingatan kamu….aaarrrghhhh…..nnnniiikk…mathhh..bangetttt…..”“Aku tidak tahan, Rikaaa…Lindaaa….sayangku cintaku…..”Dan…..crrroooooottt….crroooootttt…..“Haeeppphh…eeelllppphhhhh….hhhmmmppphhhhh…..”suara dari mulut Rika.

Terlihat ia gelagapan terima semburan spermaku, tidak kurang dari 5semburan kencang serta banyak…

“Aaaahhh…..ooouuffhh….auuww…ooouuww…udah Rik…udah…udah…jangan diisep teruss…gelllliiii…..”aku meringis kegelian sebab Rika tetep menyedot tongkolku, seakan tidak ikhlas jika pejuhku tidak keluar selesai. Seakan ingin nikmati pejuhku sampai tetes paling akhir.

“Hmmm…udah senang kamu Rik?” bertanya Linda sekalian bibirnya mengecap-ngecap pejuhku yang menetes ke mukanya.“Ahh…gila ikut si Andrew ya…”sahut Rika. “memiawku rasa-rasanya penuh sekali. Manakah kon tol ia panjang kembali.

Terasa mentok di rahimku sepertinya.”“Liang kamu tidak dalam sich Rik,” timpalku. “Tapi asik kok rasa-rasanya. Nyatanya memiaw kalian sama2 tidak dalam ya…”“Thanks sekali ya untuk kamu berdua, sudah ingin bantuin saya,”ucapku.“No masalah, dear Andrew,” sahut Rika serta Linda hampir bertepatan.“Gimanapun, kamu kan suami sahabatku, bisa dong jika sama-sama bantu…”sahut Rika.

Kami juga bercanda sesaat sebatas melepas capek. Serta sekalian masih bertelanjang, kupersilakan Rika serta Linda ke ruangan makan sekedar untuk minuman fresh. Kulirik, jam tunjukkan waktu jam 11.37 siang, tanda-tanda tidak lama kembali istriku serta anak-anak akan selekasnya hadir. Mereka berdua juga selekasnya bersihkan diri dari sisa-sisa lendir serta sperma yang membasahi me mek ataupun muka mereka. 


“Ok Ndrew…aku pamit dahulu ya…,”Rika pamit sekalian mengecup bibirku. “Daaa, sayang…”“Mmmuuaachh…,”Linda memagut bibirku lama, seakan tidak ingin kehilangan peristiwa yang begitu dahsyat. “Bye, Ndrew…,”Linda ikut berpamitan. “Salam buat Indah ya…tapi janganlah katakan lho, jika kamu habis bagi-bagi pejuh…xixixi..” Rika serta Linda cekikikan sekalian berjalan keluar.“Ok, hon…don’t worry…thanks ya…”sahutku sekalian melambaikan tangan serta mengantarkan mereka ke pagar.

Ah, begitu bahagianya saya, nyatanya dua teman dekat istriku tidak keberatan olah seks denganku, yang sampai kini cuma khayalanku, sekarang sudah jadi fakta.Thanks buat Rika serta Linda…kuharap kalian tidak bosen, sebab akupun tidak akan sempat jemu nikmati tubuhmu.

Jumat, 04 Mei 2018

Cerita Dewasa Melayani Nafsu Mama Mertua

Cerita Dewasa Melayani Nafsu Mama Mertua

Cerita Dewasa Kuserahkan Keperawananku Pada Majikanku

Cerita Dewasa Kuserahkan Keperawananku Pada Majikanku

Selasa, 24 April 2018

Cerita Dewasa Malam Pertama Pengantin Baru

Cerita Dewasa Malam Pertama Pengantin Baru

Cerita Dewasa - Berhubung hari ini adalah selasa, hari yang paling disebelin oleh banyak orang, karena kita dipaksa masuk sekolah bagi yang masih sekolah, masuk kantor bagi yang masih kerja, dan masuk angin bagi yang semalam begadang gak pake jaket, dan jarak ke weekend masih panjang, maka saya mau membagi cerita yang ringan-ringan saja, yang gak mikir dan analisa yang mendalam untuk mengerti maksud tulisan ini, yang bisa bikin rekan-rekan kompasianer senyum-senyum sendirian, bahkan ketawa ngakak sampai guling-guling di halaman rumput tetangga.

Saya mau cerita pengalaman malam pertama sahabat saya sewaktu SMA Dina, yang menikah dengan seorang polisi berpangkat Kapten (sekarang AKP). Menurut keterangan Dina, saat itu ia masih perawan, jadi agak gugup menjalani malam pertamanya. Pertahanannya tidak jebol-jebol sampai 5x percobaan dalam seminggu, sampai akhirnya jebol juga tepat di hari ke 7.

Berikut adalah cerita salah satu malam pertama Dina dan suaminya kompol Eko yang gagal berakhir dengan pertumpahan darah perawan Dina, cekidot (D untuk Dina, E untuk Eko) ; Cerita Dewasa

E : dik, buka bajumu
D : iya mas.. Kalo boleh, jangan panggil aku dik, Aku Dina bukan Dika, panggil aku Din.
E : baiklah din.. Mas sudah gak sabar, pingin lihat tubuh mulusmu
D : aku grogi mas, aku malu. Aku belum pernah telanjang di depan pria.

E : aku juga grogi Din, aku juga belum pernah telanjang di depan wanita.
D : masa sih mas?
E : bener din, masa mas bohong, bohong kan dosa..
D : emang mas gak pernah dimandiin oleh ibu mas waktu kecil? Ibu mas kan wanita

E : hihihi, kalo itu beda Din. Kamu juga sama dong, pernah dimandiin bapakmu waktu kecil. Maksudku setelah dewasa ini, gak hitung yang waktu kecil.
D : hehehe, iya mas, aku cuma becanda aja koq. Mas kan ganteng, banyak yang suka kepada mas, sebelum mas pacaran denganku, pacar-pacar mas gak ada yang mas ajak tidur?

E : ku akui, aku memang ganteng Din, tapi gak seganteng kangmasku, Kartono a.k.a anthony. Kangmas Kartono selain ganteng, baik, ramah juga humoris. Pacar-pacarku belum sempat ada yang ku ajak tidur, saat ku ajak kenalan ke bapak, ibu dan kangmasku, pacar-pacarku malah melirik kangmas Kartono, gak lama mereka malah nguber-nguber kangmasku, sebagai adik aku hanya bisa mengalah
D : ku akui kangmas Kartono memang ganteng, lebih ganteng daripada kamu, tapi aku gak mau seperti gadis-gadis mas lainnya, yang suka dan nguber-nguber Kartono.

E : Alhamdulillah Din, makanya kita bertahan yah sampai titik ini, sampai kita menikah, mengikat janji suci sehidup semati, sampai kakek nenek.
D : iya mas.
E : ngomong-ngomong, kenapa kamu gak pernah suka dan tertarik ke kangmas Kartono, seperti pacar-pacarku yang dulu.
D : gpp mas, gak suka aja

E : bukan tipe kamu yah din?
D : tipe aku sih sebenarnya
E : trus kenapa kamu gak nguber-nguber dia dan tinggalkan aku seperti gadis-gadis lainnya
D : gpp mas, aku terus terang lebih memilih mas daripada kangmas Kartono, walaupun mas seorang polisi dengan gaji minimal, dan Kartono seorang Auditor dengan gaji maksimal . Cerita Dewasa

E : gak ada alasan lain, kenapa kamu gak suka kartono dan nguber-nguber dia lalu tinggalkan aku.
D : ada sih mas
E : apa alasannya dik (penasaran)
D : gak usah deh mas, gak enak

E : gak enak kasih kucing aja (tambah penasaran)
D : kamu gak marah kalo aku kasih tau alasannya?
E : apa dulu alasannya
D : ya udah aku gak cerita, nanti kamu marah

E : iya deh, aku gak marah
D : janji
E : janji
D : baiklah kalo begitu aku cerita. Aku gak nguber-nguber kangmas Kartono dan tinggalkan kamu, karena di suatu kesempatan, saat gak sengaja aku ketemu Kangmas Kartono di Mall, kita makan siang, aku nyatakan suka dan cinta padanya, tapi ia menolakku, ia mengatakan kepadaku “Dik Dina, bukan kangmas gak suka padamu, kangmas suka, tapi adinda Eko cerita ke Kangmas, kamu itu cinta sejatinya, kamu cinta matinya, dan katanya kamu masih perawan, kangmas gak mau merusak kamu, karena kangmas gak mungkin menikah denganmu. Kamu menikah saja dengan adinda Eko, ia sangat mencintai dan menyayangimu, kasihan dia, selama ini pacar-pacarnya sudah tidak perawan, yah memang susah mencari perawan jaman sekarang, di gunung saja belum tentu dapat perawan. Nanti setelah menikah, jika dik Dina mau bertemu kangmas, kita atur aja waktunya.”

E : jadi itu alasanmu gak nguber-nguber kangmas Kartono dan tinggalkan aku
D : iya mas, gak boleh marah loh.. Tadi mas sudah janji.
E : makasih yah Din sudah cerita jujur, aku gak marah. (Bangkit dari ranjang, ganti baju dan pakai celana jeans).
D : mas mau kemana? Gak jadi kita lanjutkan permainan kita

E : aku ingat masih ada kerjaan di kantor, aku pamit dulu yah Din.
D : iya mas, mudah-mudahan lancar yah kerjaannya. TTDJ.

Baca Juga : Cerita Dewasa Tak Ku Sangka Bisa Menikmati Tubuh Cii Ana

Singkat kata singkat cerita, malam pertama Dina dan Eko pun gagal malam itu.

Cerita Dewasa Tak Ku Sangka Bisa Menikmati Tubuh Cii Ana

Cerita Dewasa Tak Ku Sangka Bisa Menikmati Tubuh Cii Ana
Cerita Dewasa - Aku punya seorang tetangga yang tinggal di seberang rumah. Namanya Ana, dan kupanggil Ci Ana, karena ia seorang wanita keturunan Chinese. Sebenarnya aku tidak suka pada gaya dan cara hidupnya yang menurutku ‘ngegampangin’ apa-apa. Ia suka memandang ringan pada semua hal. Termasuk hubungan dengan tetangga sekitarnya. Ci Ana ini sudah menikah dan punya anak satu, Rachel namanya.

Wanita tetanggaku ini memang orang yang bertipe mudah bergaul dan ia gampang akrab dengan siapa saja, termasuk dengan isteriku, Rini. Kadang aku muak bila Ci Ana ini sering memanggil orang dari kejauhan seperti memanggil seekor anjing. Tapi tidak apalah, pikirku, mungkin udah jadi kebiasaannya. Kalo denganku, aku sengaja tidak mau akrab. Entah kenapa. Mungkin karena aku tidak mau bergaul dengan sembarang orang atau karena memang aku tidak suka dengan tetanggaku yang tergolong baru pindah sekitar dua bulan yang lalu itu.

Sekitar seminggu yang lalu, saat hendak berangkat ke kantor aku tanpa sengaja menengadah dan memperhatikan seseorang berjalan mendekati isteriku yang akan naik mobil kami. Kebetulan saat itu aku sudah ada dalam mobil dan hendak menginjak pedal gas. Ternyata si Ci Ana. Kebetulan ia hendak pergi ke arah yang berlawanan. Waktu lewat, kulihat ia mengenakan kaos hadiah dari produk cat “CATYLAC” dengan tulisan merah dan kaosnya itu amat tipis dengan warna dasar putih. Wah.. Buah dadanya itu lho. Tidak kusangka ia punya payudara yang besar. Kayaknya lebih besar dari punya isteriku.

Sepanjang perjalanan ke kantor, badanku terasa panas dingin memikirkan payudaranya itu. Oh.. andaikata aku punya kesempatan.. aku ingin tidur dengannya.. atau paling tidak kalo dia tidak mau, aku akan memaksanya. Aku ingin menikmati payudaranya. Orangnya memang cantik, tinggi dan putih. Walau berkacamata, dapat kulihat wanita itu kelihatannya memiliki gairah seks yang tinggi. Entah hanya khayalanku saja atau memang demikian adanya. Rupanya kesempatan itu akhirnya datang juga.

Dua hari yang lalu, saat lingkungan tempat tinggal kami sedang sepi, terjadilah hal yang tidak kusangka-sangka. Saat aku pulang beristirahat pada sekitar pukul dua belas, seseorang wanita memanggilku. Waktu itu aku hendak menutup dan mengunci pintu pagar.
“Win..! Sini bentar, Win.”
Ternyata Ci Ana. Kudekati dia di pintu pagar rumahnya lalu aku bertanya padanya dengan hati dag-dig-dug tak karuan.
“Ada apa Ci?”
Sambil membuka pintu pagar ia menjawab, “Masuklah dulu.. ada sesuatu yang hendak aku bicarakan..”

Tanpa bertanya lebih lanjut, aku mengikutinya masuk ke dalam rumah (tentunya setelah pagar itu aku tutup dan kunci). Di ruang tamu, aku kemudian duduk dengan perasaan deg-degan. Sementara ia berjalan masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia muncul dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.
“Aku mau tanya ini, Win.. kamu ‘kan pintar bahasa Inggris. Terjemahin ya, untuk aku. Kotak ini isinya kamu lihat sendiri aja deh..” ujarnya dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa.

Kuraih kotak dan kertas yang berisi petunjuk tentang cara pemakaian benda di dalamnya. Kotaknya memang masih terbungkus rapih. Saat kubuka bungkusnya, aku kaget bukan kepalang. Tidak pikir benda apa, eh tidak tahunya itu alat kelamin pria alias penis palsu terbuat dari semacam plastik yang dapat digerakkan sesuai dengan kemauan pemakainya. Alat itu harus menggunakan arus listrik. Setelah kubaca petunjuknya, lalu kujelaskan pada Ci Ana.
“Ci.. daripada Cici pakai alat ini, mendingan pake yang aslinya aja gimana.. Maaf, Ko Teddy (nama suaminya) ‘kan pasti mau tiap malam..” jawabku sambil memandangnya. Cerita Dewasa

“Wah, Win.. dia jangan diharapin deh.. pulang malam terus.. Datang-datang pengennya tidur aja.. jadi gimana mau melakukan hubungan intim, Win.. sementara wanita kayak aku ‘kan butuh dicukupin juga dong kebutuhan biologisnya..” jawabnya enteng namun wajahnya masih terlihat bersemu merah. Ia pun tertunduk setelah itu.
“Gimana kalo.. aku aja yang mencoba memuaskan Ci Ana..?” tanyaku tiba-tiba.
Aku tidak percaya dengan suaraku sendiri. Beraninya aku berkata begitu pada wanita tetangga yang sudah bersuami. Bisa repot nih jadinya.

“Apa kamu bilang? Enak aja kamu ngomong. Emang kamu mau dilemparin tetangga lain. Berselingkuh seperti itu nggak boleh tahu..!” jawab Ci Ana dengan nada tinggi.
Baru sekarang aku melihatnya benar-benar marah. Menyesal juga jadinya. Beberapa lama kami pun berdiam diri. Lalu Ci Ana bangkit dari duduknya dan sepertinya ia hendak mengambilkan minum untukku.
“Nggak usah repot-repot, Ci.. Sebentar lagi juga aku pulang..” ujarku mencoba merebut kembali hatinya.
Tidak kusangka ia malah membalas, “Ngaco.. siapa yang mau ngambilin minum buat kamu.. aku mau minum sendiri kok.. Udah sana, pulang aja. Dan terima kasih udah terjemahin petunjuk alat itu..” jawabnya masih dengan nada ketus.
Aku pun bangkit dari dudukku. Namun saat aku hendak berjalan keluar, tiba-tiba muncul ide jahatku.

Dengan berjalan berjingkat-jingkat, kuikuti ke arah mana si Ci Ana berjalan. Rupanya ia menuju kamar tidurnya. Kebetulan jalan menuju pintu kamar, dibatasi oleh korden. Aku pun bersembunyi dibalik korden itu. Untunglah ia tidak menutup pintu kamar itu sama sekali. Kulihat ia membelakangiku, lalu pelan-pelan menarik kaos ketatnya ke atas dan menurunkan celana panjangnya. Rupanya ia mau mandi.

Lalu perlahan-lahan kudekati pintu kamar itu. Ci Ana mulai membuka BH dan celana dalamnya yang berwarna krem. Kemudian ia meraih jubah mandinya yang tergeletak di tempat tidur. Sebelum ia sempat menutupi tubuhnya yang telanjang, aku segera berlari dan menubruknya. Buk..! Ia terjatuh dengan keras ke tempat tidurnya yang besar.

“Aduh..! Lepaskan..! Win.., kok kamu belum pulang, hah..? Mau apa kamu..?” ujarnya kaget setengah mati.
“Aku mau buktikan bahwa alat punyaku lebih hebat dari penis buatan itu, Ci..” jawabku dengan tegas.
“Nggak.. nggak mau.. nanti kalo suamiku pulang gimana..?” tanyanya lagi dengan nada ketus.

Karena sudah berada di atas tubuhnya yang telanjang, tanpa buang waktu lagi, aku mengangkangkan kakinya, dan terlihatlah lubang vaginanya yang berwarna merah muda. Dengan cepat kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ci Ana perlahan-lahan mengendurkan perlawanannya. Dari tadi ia terus mendorongku supaya aku segera terjatuh dari tempat tidur. Kepalanya mulai bergerak ke sana kemari. Aku langsung mengincar buah dadanya yang besar dan padat. Putingnya kuhisap dan kujilat. Kanan dan kiri.. kanan dan kiri.

Suara tanda ia mulai terangsang mulai terdengar.
“Ah.. ah.. ah..” erangnya.
“Masukkan sekarang Win.. aku sudah tidak tahan lagi.” ujarnya di tengah-tengah kenikmatan yang ia alami.
“Tapi kontolku belum tegang, Ci.. dihisap, ya..!” ujarku sambil menyodorkan senjataku ke mulutnya.
Kebetulan mulutnya sedang terbuka. Kaget juga jadinya dia. Aku memaju mundurkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Luar biasa hisapan mulutnya. Walaupun punyaku jadi basah, namun senjata andalanku itu langsung mengeras. Segera kutarik dari mulutnya. Sebenarnya, Ci Ana tidak rela melepaskan senjataku dari hisapan mulutnya. Ia mungkin ingin terus mengulumnya sampai air maniku muncrat ke dalam mulut dan kerongkongannya. Cerita Dewasa

Beberapa menit kemudian, aku menyibak rambut kemaluannya yang tebal serta hitam. Bibir kemaluannya kusingkap dengan perlahan. Setelah mengetahui persis letak lubang senggamanya, kuarahkan penisku ke sana, dan dengan sekali hujaman, amblaslah penisku ke lubang surga dunia itu. Aku terus menghujamkan senjataku. Maju-mundur-maju-mundur.., bless.. ceplak.. cepluk.. memang lain rasanya bila bersetubuh dengan wanita yang sudah pernah melahirkan. Sepertinya penisku tidak menghadapi halangan berarti. Sementara Ci Ana mulai bereaksi dengan menggerakkan pantatnya secara memutar. Senjataku seperti dikocok-kocoknya dalam vaginanya.

Sudah lima belas menit, namun pertarungan birahi kami belum juga usai. Kami pun kemudian berganti posisi. Ci Ana sekarang dengan posisi menungging. Aku bersiap menusuknya dari belakang. Kuarahkan senjataku ke mulut kemaluannya sekali lagi. Sementara tangan kanannya membuka mulut vaginanya dengan lebar. Bless.. bless.. bles.., penisku masuk dengan lancar dan pasti. Tangan kananku meraih pinggangnya, sementara tangan kiriku memain-mainkan payudara kirinya. Tampak kepalanya menengadah setiap kali tusukanku kuulangi. Tiba-tiba ia menjerit sambil kedua tangannya memegang kepala ranjang dengan kuat.
“Ah.. ah.. ah.. ah..!” rupanya ia orgasme, namun aku belum juga mencapai puncak. Memang aku lumayan perkasa kali ini.

Beberapa menit berlalu.
Ci Ana akhirnya bilang, “Win, kamu tiduran sok.. aku yang aktif sekarang.. biar sama-sama dong orgasmenya.”
Setelah aku berbaring, ia meraih penisku yang amat keras dan tegak dan dihisapnya sambil jongkok di sebelah kananku. Ia juga menjilat dan mengulum batanganku. Duh.. duh.. duh.. seperti melayang di awan-awan aku dibuatnya.
“Wah, sebentar lagi kalau kuteruskan bisa-bisa aku nyemprotin mani di mulutnya nih.” pikirku.

Lalu buru-buru aku menyuruhnya duduk di atas penisku. Ia pun memegang penisku dan dengan pelan-pelan duduk di atasnya sambil mengarahkan ke bibir vaginanya. Dan.. bles.. jeb.. bless.. jeb! Kulihat penisku seperti tenggelam dalam vaginanya. Aku hanya dapat merem melek jadinya. Ci Ana terus saja bergerak ke sana kemari. Naik-turun, kanan-kiri dan setelah beberapa saat ia melakukannya, aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak dalam tubuhku. Segera saja aku bangkit sambil memeluk tubuhnya yang masih ada di atas selangkanganku.
“Ah.. ah.. ah.. ah.. crot..! Crot! Crot! Crot..! Crot..!” sebanyak sembilan kali semprotan maniku masuk ke dalam vaginanya.
Sesudah itu kami tiduran karena kelelahan. Ci Ana masih memeluk tubuhku.

“Win, aku sebenarnya sudah lama ingin berhubungan intim denganmu.. aku tahu kau punya senjata yang hebat. Jauh lebih hebat dari suamiku yang loyo. Cuma aku belum mendapatkan kesempatan untuk itu. Makanya aku pancing kau dengan alat penis buatan itu. Jadi jangan marah ya. Tadi aku bersuara ketus seolah-olah menolak kamu hanya permainan saja. Aku mau tahu seberapa tahan kamu melihat tubuh wanita sepertiku. Makanya aku tadi tidak menutup pintu kamar. Karena kutahu pasti kamu belum pulang dan kamu tidak akan pulang sebelum kamu bisa menaklukkanku..” ujarnya tiba-tiba sambil tangannya membelai pelan penis kebanggaanku yang sudah mulai mengecil.

Baca Juga : Cerita Dewasa Janda Kaya Pemilik Toko Yang Kesepian

Tidak kusangka ia mengatakan itu. Memang benar dugaanku. Ternyata Ci Ana memang hiperseks. Ia mau dengan siapa saja dan kapan saja memuaskan hasrat seksnya yang menggebu-gebu. Duh gusti, enaknya punya tetangga seperti dia. Oh ya pembaca, bagi Anda yang berjenis kelamin wanita, baik itu ibu-ibu maupun gadis muda alias ABG yang suka nge-sex dan ingin mencoba penis andalanku, silakan menghubungi saya.

Senin, 23 April 2018

Cerita Dewasa Janda Kaya Pemilik Toko Yang Kesepian

Cerita Dewasa Janda Kaya Pemilik Toko Yang Kesepian
Cerita Dewasa - Namaku Otong (bukan nama sebenarnya), aku bekerja di sebuah perusahaan cukup terkenal di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menggoda cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua.

Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang kalau sedang tidak membawa uang atau saat belanja uangnya kurang aku sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita (tapi aku memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini baru masuk TK nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.

Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi setelah aku lihat jam dinding sudah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit (malam), aku jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya..?, Ah.., aku coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.

“Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi seperti ini, kali saja lupa nutup warung.

Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Tante Ita?”.

“Oh ya.., tungguu”, Ada suara dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya baru selesai mandi juga habis keramas. Cerita Dewasa
“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?

“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Otong Tante pake’ pakaian kayak gini.. baru habis mandi sich”.

“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang tidak terbungkus handuk.., putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku lihat sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Ita tidak memakai BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

Malam gini kok belum tutup Tante..?

“Iya Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?

“Oh biar Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, lalu menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita.., sini biar Tante ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, kini aku pulang lewat belakang saja.

“Trimakasih lho Mas Otong..?”.

“Sama-sama..”kataku.

“Tante saya lewat belakang saja”.

Saat aku dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk penutup yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.

“Mas Otong.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan Tante”, kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, saat tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian aku cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah bangun sejak tadi menyentuh tante.

“Mas Otong.., burungnya bangun ya..?”.

“Iya Tante.., ah jadi malu Saya.., habis Saya lihat Tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..”.

“Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar..”.

“Eh ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah..?”.

“Ah belum terpikir Tante..”. Cerita Dewasa

“Yah.., kalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Tante.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah akibatnya sekarang Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Otong.. kebutuhan batin..”.

“Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.

“Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.

Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., aku diijinkan biar memenuhi kebutuhan batin Tante Ita.., ough.., pikiranku tambah usil.

Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.

“Mas Otong burungnya masih bangun ya..?”.

Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba burungku.

“Wow besar juga burungmu, Mas Otong.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.

“Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

“Mas.., boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat aku menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.

“Oh.., sampe’ keluar gini Mas..?”.

“Iya emang kalau burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Ita.

“Wah.., Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong pasti bakal seneng dapet suami kaya Mas Otong..”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh.., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, Tante Ita sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu aku tahu karena burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.

“Ough.., Tante.., nikmat Tante.., ough..”, desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya dia keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot.., ough.., seperti terbang rasanya. Kadang-kadang juga dia sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.

Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, dia pegangi burungku sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku kini.

“Mas Otong.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.

Tanpa basa-basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya kalau Tante Ita sudah punya anak, aku langsung saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, aku mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali aku masukkan lidahku ke lubang vaginanya.

“Ough Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.

“Terus Mas.., Maas..”, aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

Kemudian Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.

“Ayo Mas Otong.., Tante sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu sudah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Otong.., burung Mas Otong kalau bangun dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya. Cerita Dewasa

“Aughh..”, teriak tante.

“Kenapa Tante..?”, tanyaku kaget.

“Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, aku masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.

“Tante.., sempit sekali Tante.?”.

“Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah lama sich Tante tidak ginian.., ntar juga nikmat..”.

Yah.., aku paksakan sedikit demi sedikit.., baru setengah dari burungku amblas.., Tante Ita sudah seperti cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

“Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.

Begitu juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.

“Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Otong..”, katanya sambil merem-melek.

“Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Tante Ita.

“Mas Otong sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita telentang kembali, aku seperti kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin mendesah, “Ough.., Mas..”, tiba-tiba Tante Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

“Oughh Mas.., aku keluar lagi..”, kemudian dari kewanitaannya aku rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, aku dibuat terbang rasanya. Ach rasanya aku sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Ita.

“Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.

“Terrsseerraah..”, desah Tante Ita. Ough.., aku percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku aku muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih aku gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, dia gigit dadaku.

“Mas Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu Mas”.

Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja.

“Mas Otong.., kalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah kalau sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah kalau tidak digedor Tante jadi marah..”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.

“Tante ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu aku pulang.., baru terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang baru kudapat. Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, saat di depan warung Tante Ita, aku di panggil tante.

Baca Juga : Cerita Dewasa Menjadi Sange Saat Melihat Tubuh Mantan Pangasuhku Yang Seksi

“Rokoknya sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.

Sabtu, 21 April 2018

Selingkuh Temen Kantor

Jumat, 20 April 2018

Menggoda Mertuaku Yang Sudah Lama Menjanda

Menggoda Mertuaku Yang Sudah Lama Menjanda

Cerita Bercumbu Dengan Selingkuhan Bokap

Cerita Bercumbu Dengan Selingkuhan Bokap

Kamis, 19 April 2018

Bercinta Dengan Mbak Ririn Tetanggaku

Bercinta Dengan Mbak Ririn Tetanggaku

Minggu, 15 April 2018

Ibu Kost Yang Baik

Adik Ipar Yang Masih Perawan

Jumat, 13 April 2018

Narasi Dewasa Minta Jatah Dari Mertua Yang Awet Muda

Kamis, 12 April 2018

Narasi Bercinta Dengan Gadis Penyanyi Cafe

Narasi Bercinta Dengan Gadis Penyanyi Cafe
   Narasi Dewasa Mesum Bercinta Dengan Gadis Penyanyi Cafe - Malam itu saya dinner dengan clientku di satu cafe. Satu band tampak menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan cukup baik. Saya memerhatikan sang penyanyi. Seseorang gadis berumur kurang lebih 26 th.. Suaranya benar-benar sangat jazzy.

Gadis ini berwajah tidaklah terlalu cantik. Tingginya lebih kurang 160 cm/55 kg. Badannya padat diisi. Ukuran payudaranya sekitaran 36B. Keunggulannya yaitu lesung pipitnya. Senyumnya manis serta matanya berbinar indah. Cukup seksi. Terlebih suaranya. Buat telingaku fresh.

“Para pengunjung sekalian.. Malam hari ini saya, Felicia dengan band juga akan temani anda semuanya. Bila ada yang menginginkan bernyanyi dengan saya, mari.. saya persilakan. Atau bila menginginkan request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang nyatanya bernama Felicia itu mulai menegur pengunjung Cafe. Saya cuma tertarik mendengar suaranya. Pembicaraan dengan client mengambil alih perhatianku. Hingga lalu telingaku menangkap perubahan langkah bermain dari sang keyboardist. Saya lihat ke arah band itu serta lihat Felicia nyatanya bermain keyboard juga.

Felicia bermain solo keyboard sembari menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang begitu simpel. Saya nikmati semuanya type musik serta berupaya tahu semuanya type musik. Termasuk juga jazz yang memanglah ‘brain music’. Musik cerdas yang buat otakku berfikir tiap-tiap mendengarnya.

Felicia nyatanya bermain begitu aman. Saya terkesima temukan seseorang penyanyi cafe yang dapat bermain keyboard dengan baik. Mendadak saya jadi begitu tertarik dengan Felicia. Saya menuliskan request laguku serta memberinya lewat pelayan cafe itu.

“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy. ”, tulisku di kertas request sekalian menuliskan nomor HP-ku. Saya meneruskan pembicaraan dengan clientku serta selang beberapa saat saya mendengar nada Felicia.

“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..? ”

Bhs badan Felicia tunjukkan kalau dia menginginkan tahu di mana saya duduk. Saya melambaikan tanganku serta tersenyum ke arahnya. Tempat dudukku pas dimuka band itu. Jadi, dengan terang Felicia dapat melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya.

Sembari bermain serta bernyanyi, matanya menatapku. Saya juga menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Saya kembali bicara dengan clientku. Tidak lama kudengar nada Felicia menghilang serta bertukar dengan nada penyanyi pria. Kulihat sepintas Felicia tidak terlihat. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia. ” terlihat pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Selekasnya kutelepon dia.

“Hai.. Saya Boy. Kau di mana, Felicia? ”

“Hi Boy. Saya di belakang. Ke kamar mandi. Mengapa menginginkan tahu HP-ku? ”

“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku selalu jelas. Kudengar tawa enteng dari Felicia.

“Rayuan ala Boy, nih? ”

“Lho.. Bukanlah rayuan kok. Namun pujian yang layak buatmu yang memanglah sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapakah? Saya antar pulang ya? ”

“Jam 24. 00. Bisa. Tapi kulihat kau dengan rekanmu? ”

“Oh.. dia clientku. Sebentar sekali lagi dia pulang kok. Saya cuma mengantarnya hingga parkir mobil. Bagaimana? ”

“Okay.. Saya tunggulah ya. ”

“Okay.. See you soon, sexy.. ”

Saya meneruskan sebentar pembicaraan dengan client serta lalu mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Sesudah clientku pulang saya kembali pada cafe. Saat masih tetap tunjukkan jam 23. 30.

Masih tetap 30 menit sekali lagi. Saya kembali duduk serta pesan hot tea. 30 menit saya butuhkan dengan melihat Felicia yang menyanyi. Mataku selalu memandang matanya sembari kadang-kadang saya tersenyum. Kulihat Felicia dengan yakin diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik sampai membuatku menginginkan mencumbunya.

Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, saya berniat menyalakan AC mobil cukup besar hingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia terlihat menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah? ” tangan Felicia sembari mencapai tombol AC untuk menambah suhu. Tanganku selekasnya menahan tangannya. Peluang untuk memegang tangannya.

“Jangan.. Telah dekat rumahmu kan? Saya tidak tahan panas. Suhu segini saya baru dapat. Bila anda naikkan, saya tidak tahan.. ” argumenku.

Saya memanglah menginginkan buat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia dapat tahu. Tangan kiriku masih tetap memegang tangannya. Kuusap perlahan-lahan. Felicia diam saja.

“Kugosok ya.. Agar hangat.. ” kataku datar. Saya memberikannya stimuli enteng. Felica tersenyum. Dia tidak menampik.

“Ya.. Bisa. Habis dingin banget. Oh ya, anda sukai jazz juga ya? ”

“Hampir semuanya musik saya sukai. Oh ya, baru kesempatan ini saya lihat penyanyi jazz wanita yang dapat bermain keyboard. Mainmu asik sekali lagi. ”

“Haha.. Ini malam pertama saya main keyboard sembari menyanyi. ”

“Oh ya? Tapi tidak tampak canggung. Oh ya, kudengar barusan mainmu banyak menggunakan scale altered dominant ya? ” saya lalu memainkan tangan kiriku di tangannya seakan-akan saya bermain piano.

“What a Boy! Kamu paham.kamu mengerti jazz scale juga? Anda dapat main piano yah? ” Felicia terlihat terperanjat. Mukanya tampak penasaran.

“Yah, dahulu main classic. Lantas tertarik jazz. Belum juga mahir kok. ” Saya berhenti dimuka tempat tinggal Felicia.

“Tinggal dengan siapa? ” tanyaku saat kami masuk ke tempat tinggalnya. Ya, saya terima ajakannya untuk masuk sebentar meskipun ini telah nyaris jam 1 pagi.

“Aku kontrak tempat tinggal ini dengan sebagian rekanku sesama penyanyi cafe. Yang lain belum juga pulang semuanya. Mungkin saja sekalian kencan dengan pacarnya. ”

Felicia masuk kamarnya untuk ganti pakaian. Saya tidak mendengar nada pintu kamar dikunci.

Wah, kebetulan. Atau Felicia memanglah memancingku? Saya selekasnya berdiri serta nekat buka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri cuma dengan bra serta celana dalam. Di tangannya ada satu kaos.

Kukira Felicia juga akan berteriak terperanjat atau geram. Nyatanya tidak. Dengan enjoy dia tersenyum.

 “Maaf.. Saya ingin bertanya kamar mandi di mana? ” tanyaku mencari argumen. Malah saya yang gugup lihat panorama indah di depanku.

“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk saja. ”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya lihat ada satu keyboard. Saya tidak jadi ke kamar mandi jadi memainkan keyboardnya. Saya memainkan lagu “Body and Soul” sembari menyanyi lembut. Suaraku umum saja juga permainanku. Tapi saya percaya Felicia juga akan tertarik. Sekian kali saya buat kekeliruan yang kusengaja. Saya menginginkan lihat reaksi Felicia.

“Salah tuch mainnya. ” komentar Felicia. Dia turut bernyanyi.

“Ajarin dong.. ” kataku.

Dengan selekasnya Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Saya duduk sedang Felicia berdiri membelakangiku. Dengan tempat seperti memelukku dari belakang, dia tunjukkan sepintas notasi yang benar. Saya dapat rasakan nafasnya di leherku. Wah.. Telah jam 1 pagi. Saya menimbang-nimbang apa yang perlu saya kerjakan. Saya memalingkan mukaku. Saat ini mukaku serta Felicia sama-sama bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Bila tidak diterima, bermakna dia tidak punya maksud apa-apa denganku. Bila dia diam saja, saya bisa meneruskannya. Lalu tangannya menepis halus tanganku. Lalu dia berdiri. Saya tidak diterima.

“Katanya ingin ke kamar mandi? ” tanyannya sembari tersenyum. Oh ya.. Saya melupakan argumenku buka pintu kamarnya.

“Oh ya.. ” saya berdiri.

Ada rasa sesak di dadaku terima penolakannya. Tapi saya tidak menyerah. Selekasnya kuraih badannya serta kupeluk. Lalu kuangkat ke kamar mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini? ” Felicia terperanjat. Saya tertawa saja.

Kubawa dia ke kamar mandi serta kusiram dengan air! Biarkanlah. Bila ingin geram ya saya terima saja.

Yang pasti saya selalu berupaya memperolehnya. Nyatanya Felicia jadi tertawa. Dia membalas menyiramku serta kami keduanya sama basah kuyup. Selekasnya saya menyandarkannya ke dinding kamar mandi serta menciumnya!

Felicia membalas ciumanku. Bibir kami sama-sama memagut. Benar-benar nikmat bercumbu di suhu dingin serta basah kuyup. Bibir kami sama-sama berlomba memberi kehangatan. Tanganku merain kaosnya serta membukanya. Lalu bra serta celana pendeknya. Sesaat Felicia juga buka kaos serta celanaku. Kami keduanya sama tinggal cuma menggunakan celana dalam. Sembari selalu mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut serta merangsang payudaranya. Sesaat tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya serta kadang-kadang menyelusup ke belahan pantatnya. Dari pantatnya saya dapat mencapai vaginanya. Menggosokinya dengan jariku.

“Agh.. ” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat serta basah. Perlahan-lahan saya rasakan penisku ereksi.

“Egh.. ” saya menahan nafas saat kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku serta meremasnya.

Tidak lama dia mengocok penisku sampai membuatku semakin terangsang. Badan Felicia kuangkat serta kududukkan di bak air. Cukup susah bercinta di kamar mandi. Licin serta tidak dapat berbaring. Pada saat Felicia duduk, saya cuma dapat merangsang payudara serta mencumbunya. Sesaat pantat serta vaginanya tidak dapat kuraih. Felicia tidak ingin duduk. Dia berdiri sekali lagi serta menciumi puting dadaku!

Nyatanya enak juga rasa-rasanya. Baru kesempatan ini putingku di cium serta dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tidak sempat melepas penisku. Selalu dikocok serta diremasnya. Sembari mengerjakannya, tubuhnya bergoyang-goyang seolah-olah dia tengah menari serta nikmati musik. Terasa terganggu dengan celana dalam, saya melepasnya dan melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali.

Lidahku menghimpit lidahnya. Kami sama-sama menjilat serta mengisap.

Rintihan kecil serta desahan nafas kami sama-sama bertukaran buat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin buat kami sama-sama merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berlainan bercinta saat dalam kondisi basah. Saat bercumbu, ada rasa ‘air’ yang buat ciuman berlainan rasa-rasanya dari umumnya.
Agen Judi Bola Online

Saya menyalakan shower serta lalu dibawah air yang mengucur dari shower, kami makin hangat merapat serta sama-sama merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, muka serta semua badan, buat badan kami semakin panas. Semakin bergairah. Ke-2 tanganku mencapai pantatnya serta kuremas agak keras, sesaat bibirku melumat semakin ganas bibir Felicia. Kadang-kadang Felicia menggigit bibirku.

Perlahan-lahan tanganku merayap naik sembari memijat enteng pinggang, punggung serta bahu Felicia. Dari bhs badannya, Felicia begitu nikmati pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och.. ” Felicia mengerang.

Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya turut meremas pantatku.

Saya rasakan payudara Felicia semakin tegang. Payudara serta putingnya tampak demikian seksi.

Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Menginginkan kumakan rasa-rasanya.. ” candaku sembari tertawa enteng. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.

“Makan saja jika sukai.. ” bisiknya di telingaku.

“Enak lho.. ” sambungnya sembari menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan-lahan ujung lidahku mendekati putingnya. Saya menjilatnya persis di ujung putingnya.

“Ergh.. ” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Dari mulai ujung lidah hingga pada akhirnya dengan semua lidahku, saya menjilatnya. Lalu saya mengisapnya dengan lembut, agak kuat serta pada akhirnya kuat. Selang beberapa saat Felicia lalu buka kakinya serta menuntun penisku masuk vaginanya.

“Ough.. Enak.. Mari, Boy” Felicia memohonku mulai beraksi.

Penisku perlahan-lahan menembus vaginanya. Saya mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar-putar, Sembari bibir kami sama-sama melumat. Saya berupaya keras membuatnya rasakan kesenangan. Felicia dengan trampil ikuti tempo kocokanku. Anda bekerja bersama dengan serasi sama-sama berikan serta memperoleh kesenangan. Vaginanya masih tetap rapat sekali. Serupa dengan Ria. Apakah begini rasa-rasanya perawan? Entahlah. Saya belum juga sempat bercinta dengan perawan, terkecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh.. ” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya semakin keras.

“Come on, Boy.. Fuck me.. ” ceracaunya.

Rupanya Felicia yaitu type wanita yang bertemura keras saat bercinta. Bagiku mengasyikkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat
menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku semakin cepat. Sebagian waktu lalu saya berhenti. Mengatur nafas serta merubah tempat kami.

Felicia menungging serta saya ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy model. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, lalu memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau! ” teriak Felicia. Saya tertawa.

“Sorry.. Kupikir enak rasa-rasanya.. ” Saya hentikan memasukkan jari ke anusnya namun tetaplah bermain-main di sekitaran anusnya sampai membuatnya geli.

Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Saya rasakan bebrapa waktu orgasmeku nyaris tiba. Saya berupaya keras mengatur ritme serta nafasku.

“Aku ingin nyampe, Felicia.. ”

“Keluarin didalam saja. Telah lama saya tidak rasakan semprotan cairan pria” Saya agak berhenti. Hilang ingatan, keluarin didalam. Bila hamil bagaimana, fikirku.

“Aman, Boy. Saya ada obat anti hamil kok.. ” Felicia meyakinkanku. Saya yg tidak percaya. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menanggung, kan? Kukocok sekali lagi dengan gencar. Felicia berteriak semakin keras.

“Yes.. Saya juga nyaris sampai, Boy.. come on.. come on.. oh yeah.. ”

Saat-saat itu semakin dekat.. Saya mengubernya. Kesenangan tidak ada tara. Buat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Tidak lama kemudian kurasakan badan Felicia semakin bergetar hebat. Saya berupaya keras menahan ereksiku. Badanku terkejang-kejang alami puncak kesenangan.

“Aarrgghh.. Yeeaahh.. ” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit kuat sekali lalu membalikkan tubuhnya serta memelukku. Kami lalu bercumbu sekali lagi. Waktunya after orgasm service. Tanganku memijat badannya, memijat kepalanya serta mencumbu hidung, pipi, leher, payudara serta lalu perutnya. Saya membuatnya kegelian saat hidungku bermain-main di perutnya. Lalu kuangkat dia.
Ambil handuk serta mengeringkan badan kami berdua. Sembari selalu mencuri-curi ciuman serta rabaan, kami sama-sama menggosok-gosok badan kami. Dengan badan telanjang saya mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya serta kembali menciumnya. Felicia tersenyum senang. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Telah lama sekali saya tidak bercinta. Anda sukses memuaskanku.. ”

Pujian yang tulus. Saya tersenyum. Saya terasa belum juga hebat bercinta. Saya cuma berupaya melayani tiap-tiap wanita yang bercinta denganku. Memerhatikan kebutuhannya.

Saya begitu terperanjat saat mendadak pintu kamar terbuka. Sial, kami barusan lupa mengunci pintu!! Seseorang wanita keluar. Saya tidak pernah sekali lagi menutupi badan telanjangku.

“Ups.. Tidak usah terperanjat. Dari barusan saya telah dengar teriakan Felicia. Barusan jadi telah mengintip kalian di kamar mandi.. ” kata wanita itu. Saya kecolongan. Tapi apa bisa buat. Biarlah saja. Kulihat Felicia tertawa.

“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy. ” saya menganggukkan kepalaku kepadanya.

Baca Juga : Ngentot Dengan Janda Kampung Saat Berteduh Karena Hujan Deras

“Hi Gladys.. ” sapaku.

Lalu saya berdiri. Dengan penis lemas terayun saya mencari kaos serta celana pendek Felicia serta menggunakannya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Fikirku. Telah jam 2 pagi. Saya mesti pulang. END